Fathimah az-Zahra (Bunga Mekar Semerbak)

5 September 2010

Fathimah az-Zahra فاطمة الزهراء adalah puteri bungsu yang mulia Rasulullah saww, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim.

Siti Fathimah az-Zahra dilahirkan pada hari Jumaat 20 Jumadil Akhir, yaitu tahun kelima sebelum Nabi saww menjadi Rasul. Ketika itu kaum Quraisy sedang memperbaiki dan membangun kembali Kaabah disebabkan banyak kerusakan pada bangunan tersebut.

Siti Fathimah putri kesayangan Nabi saww mendapat gelaran Assidiqah (Wanita Terpercaya), Athahirah (Wanita Suci), Al-Mubarakah (Yang Diberikahi Allah) dan yang paling sering disebutkan adalah Fathimah Az-Zahra (Bunga Mekar Semerbak).

Dia juga digelari Al-Batuul, yaitu yang memusatkan perhatiannya pada ibadah atau tiada bandingnya dalam hal keutamaan, ilmu, akhlaq, adab, hasab dan nasab.

Fathimah lebih muda dari Zainab, isteri Abil Ash bin Rabi’ dan Ruqayyah, isteri Utsman bin Affan. Juga dia lebih muda dari Ummu Kalsum.

Siti Fathimah az-Zahra menyaksikan sendiri betapa halangan dan rintangan yang telah dihadapi ayahandanya dalam memperjuangkan Islam. Pernah ketika Nabi saww dihina, dicaci-maki, dan diletakkan najis binatang ketika Nabi saww sedang sujud menyembah Allah swt, dengan tangisan kesedihan Siti Fathimah membersihkan tubuh ayahandanya itu dari kotoran yang ditaburkan oleh kaum kafir Quraisy.

Kepada Salman Al-Farisi, Rasulullah saww pernah bercerita tentang kearifan yang dicapai oleh Fathimah. Baginda bersabda, “Wahai Salman, ketahuilah bahwa Allah swt telah memenuhi kalbu dan seluruh jiwa raga puteriku dengan keimanan.” Al-Hassan menuturkan, “Ibuku adalah dia yang memenuhi malamnya dengan doa dan munajat hanya karena umat Muhammad.”

Sesungguhnya dia adalah pemimpin wanita dunia dan penghuni syurga yang paling utama, puteri kekasih Robbil’aalamiin, dan ibu dari Al-Hasan dan Al-Husein. Az-Zubair bin Bukar berkata, “Keturunan Zainab telah tiada dan telah sah riwayat, bahwa Rasulullah saww menyelimuti Fathimah dan suaminya serta kedua puteranya dengan pakaian seraya berkata “Ya Allah, mereka ini adalah ahli baitku. Maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya.” [Siyar A’laamin Nubala, juz 2, halaman 88]

Sebagai pendamping hidup Imam Ali as, Fathimah juga tampil sebagai isteri yang ideal dan suri rumah yang penuh tanggungjawab. Bahkan beliau turut menggerakkan beberapa protes sosial terhadap status-quo yang merampas kekhalifahan Ali as dan pencerobohan ke atas tanahnya.

Demikian besar pribadi Fathimah sehingga insan sehebat Imam Ali as merasa tenang dan damai di sisinya. Berkata Imam Ali,

“Demi Tuhan, hingga akhir hayatnya, tidak pernah aku merasa kecil hati dengan perilakunya atau memaksanya. Begitu juga tidak pernah dia merasa marah terhadapku atau tidak mentaatiku. Saat aku melihat Fathimah hilanglah duka dari seluruh jiwaku.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: