Imam Ahlul Bayt adalah Satu Kesinambungan Sunnah Nabi

20 September 2010

Pengikut Ahlul Bait (as) berpendapat Sunnah Imam Ali bin Abi Talib (as), kedua puteranya, Hasan dan Husayn (as) dan para Imam daripada keturunan Husayn (as) merupakan satu kesinambungan Sunnah Nabi (saww) dan ucapan mereka, adalah sumber Syari’ah selepas Kitab Allah dan Sunnah Nabi (saww).

Ulama dari Mazhab Ahlul Bait (as) telah menetapkan asas ini disebabkan sifat maksum mereka (as) sebagaimana yang dinyatakan dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi (saww). Kedudukan mereka tidak dapat dipisahkan dari al-Qur’an dan Sunnah Nabi (saww) dan Nabi (saww) telah memerintahkan umat supaya taat kepada mereka selepas beliau (saww). Di antara hujah-hujah ini ialah firman Allah swt:

“Sesungguhnya Allah hendak mengeluarkan kekotoran daripada kalian wahai Ahlul Bait dan membersikan kalian dengan sebersih-bersihnya.” (al-Ahzab [33]; 33)

Berkenaan dengan ayat ini, terdapat banyak riwayat hadith dan tafsir menunjukkan bahwa ayat ini diturunkan kepada Ahlul Bait (as), yaitu Ali, Fatimah, Hasan dan Husayn (as).

Al-Suyuti, dalam kitabnya Dur al-Manthur berkata:

Tabrani telah meriwayatkannya daripada Ummu Salamah bahwa Nabi (saww) berkata kepada Fatimah, “Bawakan suami kamu dan kedua orang puteranya.” Dan dia (Fatimah) memanggil mereka. Kemudian beliau (saww) menyelimutkan jubah ke atas mereka dan meletakkan tangannya ke atas mereka, “Wahai Allah, mereka adalah Ahlul Bait Muhammad (Ahl Muhammad) – dan dalam kata-kata lain Al Muhammad – maka anugerahi berkah-Mu kepada keluarga Muhammad, sebagai mana Engkau memberikan keberkatan kepada keluarga Ibrahim, Sesungguhnya Engkau Maha Agung dan Maha Suci.” Kemudian Ummu Salamah berkata, “Aku mengangkat jubah itu supaya dapat bersama dengan mereka tetapi dia (Nabi) menjauhkannya daripada tanganku dan berkata, ‘Kamu berada dalam kebaikan.’ …”

Dan Tirmidhi meriwayatkan:

Ayat al-Tathir telah diriwayatkan di rumah Ummu Salamah. Ketika ayat ini diturunkan, Nabi (saww) memanggil Fatimah, Hasan dan Husayn dan Ali dan menyelimutkan mereka dengan jubah dan bersabda, “Wahai Allah mereka adalah Ahlul Baitku maka bersihkanlah mereka daripada kekotoran dan sucikan mereka dengan sebersih-bersihnya.” Ummu Salamah berkata, “Dan adakah aku bersama mereka wahai Rasulullah?” Beliau (saww) berkata, “Kamu berada di dalam kebaikan.”

Dan pandangan mereka ini disokong dengan hadith Nabi (saww). Ahmad bin Hanbal dan Abu Ya’la telah meriwayatkan sebuah hadith daripada Abu Sa’id al-Khudri bahwa Nabi (saww) telah bersabda pada Haji Wida’:

“Wahai manusia aku seakan dipanggil (oleh Allah) dan saatnya telah semakin hampir untukku menjawab panggilan, aku tinggalkan kepada kalian dua perkara berat (tsaqalain): Kitab Allah dan itrahku, Ahlul Bait. Sesungguhnya Allah Yang Maha Mengetahui telah memberitahu kepadaku bahwa kedua-duanya tidak akan berpisah sehinggalah menemuiku di telaga. Maka perhatikan apa yang kalian lakukan kepada mereka selepas peninggalanku.”

Imam Ja’far al-Sadiq (as) telah menggariskan sumber Syari’ah pada pandangan Imam-Imam Ahlul Bait (as) sebagai berikut:

Sura bin Kulaib berkata, “Aku bertanya kepada Abu Abdullah dengan apakah Imam memberikan fatwa” Dia menjawab, “Dengan Kitab Allah.” Aku berkata, “Jika tidak ada dalam Kitab Allah? Dia berkata, “Dengan Sunnah.” Aku mengulangi soalan tersebut dua atau tiga kali dan dia berkata, ” Tetapi kamu berfikir tidak sedemikian.”

Dan telah diriwayatkan daripada Muhammad al-Baqir (as) bahwa dia berkata kepada Jabir, salah seorang sahabat Nabi (saww):

“Wahai Jabir, jika dikatakan kami memberikan fatwa kepada orang ramai dengan pendapat kami sendiri demi kepentingan diri sendiri, maka kami akan menjadi salah satu daripada golongan yang sesat, tetapi kami memberikan fatwa dengan Sunnah Rasulullah (saww) dan asas ilmu pengetahuan kami adalah kami warisi daripadanya. Kami menyimpannya seperti mana orang menyimpan emas dan perak.”

Lantaran itu, daripada perbincangan ini, kita akan dapat membuat kesimpulan bahwa apa yang datang daripada para Imam (as) tidak bertentangan dengan Kitab Allah. Malahan ia adalah penjelasan kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Justeru, ia menjadi asas kepada Syari’ah dan merupakan sumbernya yang penting.

_______________

Dikutip dari:
Dialog Sunni-Syi’ah di Peshawar
Swaramuslim Cyber Book

Satu Tanggapan to “Imam Ahlul Bayt adalah Satu Kesinambungan Sunnah Nabi”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: