Surat Wasiat Imam Ali `Alaihi-s Salam kepada Putranya, Imam Al-Hasan `Alaihi-s Salam

10 November 2010

Bismillahirrahmanirrahim.

Dari ayah yang telah tua, yang mengakui pengalaman masa yang mengunduri umur, yang menyerah kepada keadaan, yang meremehkan dunia, yang tinggal di tempat orang-orang yang telah mati, dan kelak ia pun akan meninggalkan tempat itu.

Kepada anak yang masih mengharap sesuatu yang tidak mudah dicapai, yang sedang melalui jalan yang telah di tempuh oleh orang-orang yang telah binasa, sasaran dari segala penyakit, tanggungan hari-hari, sasaran bala’ hamba dunia, pedagang tipuan, langganan bencana, tawanan maut, sekutu kerisauan, teman duka-cita, incaran bencana, selalu dikalahkan syahwat, dan sebagai khalifah dari orang-orang yang telah mati.

Amma ba’du (adapun setelah kata pendahuluan itu). Sesungguhnya dari pengalamanku dari apa yang nyata bagiku tentang mundurnya dunia dari padaku, dan ketegangan masa atas diriku.

Dan menghadapnya alam akhirat kepadaku, sesuatu yang meng-enggankanku (membuatku enggan) untuk memperingatkan orang lain dan memerhatikan apa yang berada di belakangku.

Hanya saja setelah aku menyendiri memperhatikan kepentinganku, maka timbullah pendapatku yang benar dan dipalingkan aku dari hawa nafsuku, dan jelas bagiku urusanku yang asli, sehingga mendorong diriku kepada kesungguhan yang bukan main-main, dan kebenaran yang bukan dusta, dan aku menganggapmu sebagian dari diriku, bahkan dapat pula dianggap sebagai keseluruhan diriku.

Sehingga umpama ada sesuatu mengenai dirimu, berarti hal itu langsung mengenai diriku, dan seolah-olah umpama maut itu datang kepadamu berarti ia juga datang kepadaku.

Maka terasa urusanku sendiri, maka karena itulah aku menulis surat wasiat ini kepadamu, untuk melahirkan kepentingan itu, baik aku masih lanjut hidup atau segera mati.

Sesungguhnya aku berwasiat kepadamu supaya tetap bertaqwa kepada Allah, dan tetap mengerjakan perintah-Nya, dan memakmurkan hatimu dengan zikrullah, serta berpegang dengan Al-Qur’an, dan pegangan mana lagi yang lebih kuat daripada pegangan (tali) yang menghubungkan antara dirimu dengan Allah jika berpegangan kepadanya.

Hidupkan hatimu dengan suka menerima/memperhatikan nasehat. Dan matikan dengan sifat zuhud (mengabaikan kemewahan), dan kuatkan dengan keyakinan, dan terangilah hatimu dengan hikmah.

Dan lunakkan hatimu dengan selalu mengingati maut dan sadarkanlah dengan adanya kerusakan, dan perlihatkan kepadanya bencana-bencana dunia, dan peringatkan terhadap kejadian-kejadian di masa, dan kengerian yang terjadi pada tiap siang dan malam.

Hidangkan kepadanya berita-berita orang terdahulu dan peringatkan dengan apa yang menimpa orang-orang sebelumnya.

Dan pergilah ke daerah dan tempat mereka untuk memerhatikan bekas-bekas mereka, kemudian perhatikan apa yang mereka lakukan, dan mengapa mereka berpindah dan dimana kini mereka tinggal dan berada, maka engkau akan mendapatkan tinggal di tempat pengasingan seorang diri.

Dan anggaplah dirimu tidak lama akan menjadi sama dengan seseorang dari mereka, karena itu perbaikilah dirimu (tempat yang akan kau tempati itu), dan jangan menjual akhirat untuk memperoleh dunia. Dan jangan membicarakan apa yang tidak engkau ketahui, dan menjawab apa yang bukan kewajibanmu.

Hentikanlah perjalananmu jika engkau khawatir tersesat, karena berhenti di saat kebingungan itu lebih baik daripada menerjang bahaya.

Dan anjurkan kebaikan, supaya engkau tergolong dari ahlinya dan cegahlah kemungkaran dengan tangan dan lidahmu, dan hindarilah (bergaul dengan) orang yang (suka) berbuat munkar sekuat tenagamu, dan berjuanglah untuk menegakkan kalimatullah dengan sesungguhnya, dan jangan menghiraukan celaan orang ketika menegakkan kalimatullah.

Selamilah (tempuhlah) segala jalan perjuangan untuk mempertahankan kebenaran dimanapun (engkau) berada. Dan pelajari benar-benar tuntunan agama. Dan biasakan (latih)lah dirimu (untuk) bersabar menghadapi kesukaran, (karena) sebaik-baik sifat sabar adalah (ketika engkau) mempertahankan kebenaran.

Sandarkan dirimu kepada Tuhanmu dalam segala hal (urusan), maka sesungguhnya engkau telah menyadarkannya kepada Perlindungan Yang Kokoh kuat dan Mulia. Dan ikhlaskan (tuluskan) permintaan itu kepada Tuhan, karena hanya ditangan-Nya (lah) pemberian dan penolakan. Dan perbanyaklah melakukan istikharah (meminta pilihan Tuhan).

Perhatikanlah wasiatku ini, dan jangan mengabaikannya, maka sesungguhnya sebaik-baik kalimat itu yang berguna, dan ketahuilah bahwa tidak baik ilmu yang tidak berguna, dan tidak berguna ilmu yang tidak layak dipelajarinya.

Wahai putraku, sesungguhnya ketika aku telah mencapai usia tua, dan bertambah lemah, maka aku segerakan menyampaikan wasiatku padamu, dan menerangkan beberapa hal sebelum tiba ajal sehingga tidak dapat lagi aku menyampaikan isi hatiku kepadamu, dan sebelum berkurang kekuatan pikiranku, sebagaimana berkurangnya kekuatan jasmaniku.

Dan sebelum kedahuluan pengaruh hawa nafsumu yang kuat, atau pengaruh duniawi padamu, sehingga menjadi bagaikan kuda yang liar, sebab hati pemuda itu bagaikan tanah kosong, mudah menerima apa pun yang ditanam di dalamnya, karena itulah aku segera menyampaikan tuntunan adab kepadamu sebelum keras dan beku hatimu dan sibuk pikiranmu.

Agar kau dapat menyambut dengan ketajaman pikiranmu sesuatu yang telah dialami ahli-ahli pengalaman yang sebelumnya, sehingga tidak sukar lagi bagimu untuk mencari atau mencoba-coba, maka telah sampai kepadamu apa yang dahulu kami telah melakukannya, dan jelas bagimu hal-hal yang mungkin masih gelap bagi kami.

Wahai anakku, meskipun aku tidak berusia sebagaimana orang-orang dahulu, namun aku telah memperhatikan sejarah amal perbuatan mereka, dan mengikuti berita serta bekas-bekas mereka, sehingga seolah-olah aku berada di antara mereka, bahkan seolah-olah (karena sedemikian besar perhatianku terhadap mereka) aku telah bergaul dengan orang yang pertama hingga yang terakhir, maka aku ketahui dan dapat kubedakan yang jernih dari yang keruh, dan yang berguna dari pada yang berbahaya, maka kupilihkan untukmu segala yang murninya dan yang terbaiknya, dan aku halaukan/singkirkan dari padamu kegelapannya.

Dan aku sebagai seorang ayah yang mengasihi, memperhatikan dengan sungguh-sungguh segala kepentinganmu dan ingin mendidikmu selama kau masih dalam usia muda remaja dan (engkau) akan menghadapi segala suasana dengan jiwa dan pikiran yang masih jernih.

Dan pertama yang kuajarkan kepadamu ialah Kitab Allah dengan arti tafsirnya, serta syariat Islam dengan semua hukum-hukumnya, halal dan haramnya, dan tidak melebihi dari itu.

Kemudian aku merasa khawatir engkau bingung menghadapi apa yang diperselisihkan manusia menurut paham dan hawa nafsu mereka, sebagaimana telah membingungkan mereka yang berselisih itu sendiri, maka kumemperkokoh dan memperdalam ajaran itu meskipun tadinya pada mulanya kurang, tetapi nyata lebih aku senangi ketimbang membiarkanmu terjerumus di dalam sesuatu yang tidak aman dari kebinasaan.Kemudian kuberharap semoga Allah memberi taufiq dan hidayat kepadamu untuk mencapai tujuanmu, karena itulah maka aku sampaikan Surat Wasiat ini.

Ketahuilah, wahai anakku, bahwa yang paling kusuka dari wasiatku agar engkau terima adalah bertaqwa kepada Allah, dan melakukan apa yang diwajibkan Allah atas dirimu, dan mengikuti jejak orang-orang yang dahulu dari ayah-ayah (al-awwaluna min abaa-ika) dan orang-orang shalih dari Ahlil Bait-mu, sebab, mereka selalu mawas diri dan berpikir, seperti halnya engkau berpikir.

Setelah berpikir, barulah mereka memutuskan untuk menerima apa yang mereka ketahui, dan memilih diam bila tak ada perintah bagi mereka.

Jika hatimu tak bisa menerima tradisi mereka karena belum mengerti sebagaimana mereka mengerti, maka engkau harus mempelajarinya dengan mendalam, bukan menjerumuskan diri dalam keraguan dan pertentangan pendapat.

Sebelum engkau mengkaji persoalan, engkau harus minta pertolongan kepada Allah dan memohon taufik dari-Nya. Semoga Allah menjauhkan engkau dari kebingungan, keraguan dan kesesatan.

Apabila engkau sudah yakin dan hati engkau telah bersedia menerima, berarti engkau telah tentram dan akal engkau telah sempurna.

Dalam soal ini, engkau harus berpegang pada satu pendapat. Ingatlah apa yang telah ayah terangkan (kepadamu)! Namun, jika engkau kurang menyepakati apa yang telah diterima oleh hati dan ditetapkan oleh akal (yang sehat), maka sadarilah bahwa engkau telah menjadi orang yang lemah dan tumpul daya pandang. Sulitlah bagimu untuk mendapatkan kebenaran. ‘Ulama itu bukanlah yang pinter keblinger, juga bukan yang ambivalen. Daripada bersikap demikian, berdiam adalah lebih baik. Engkau, resapilah wasiat ayahanda.

Ketahuilah, sesungguhnya Zat yang menguasai maut, Dia pula yang menguasai hidup. Dia-lah yang menciptakan dan mematikan. Dia-lah yang membinasakan dan yang membangkitkan. Dia-lah yang memberikan cobaan dan Dia pula yang memberi ampunan. Kehidupan dunia akan berjalan seperti yang telah ditetapkan Allah. Suka dan duka, nikmat dan cobaan, datang silih-berganti.

Wahai Anakku, resapilah wasiat ayahanda. Ketahuilah, sesungguhnya Zat yang menguasai maut, Dia pula yang menguasai hidup. Dia-lah yang menciptakan dan mematikan. Dia-lah yang membinasakan dan yang membangkitkan.

Dia-lah yang memberikan cobaan dan Dia pula yang memberi maaf. Kehidupan dunia akan berjalan seperti yang telah ditetapkan oleh Allah. Suka dan duka, nikmat dan cobaan, datang silih-berganti.

Dan di hari kiamat nanti akan ada pahala dan siksa, serta lainnya yang tak kita ketahui. Kalau engkau meragukan apa yang tersebut di atas, maka selidikilah kebodohan diri engkau, karena engkau memang diciptakan dalam keadaan bodoh, kemudian mengerti. Biasanya, yang sering membuat engkau bodoh dan bingung adalah pikiran engkau sendiri. Kadangkala ia malah menyesatkan mata hati engkau.

Setelah itu, engkau baru akan memahami dan mengetahui. Untuk itu, engkau harus selalu mengingat Allah yang menciptakan dan memberi rezki serta memberi bentuk terbaik. Kepada-Nya engkau harus menghadirkan persembahan, mencintai dan tunduk.

Anakku, ketahuilah bahwa tak seorang pun yang dapat memberikan informasi tentang Allah seperti yang telah dilakukan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa alihi) karena itu, ikutilah beliau dan jadikanlah dia tokoh panutan.

Ayahanda tak main-main dalam memberi keterangan ini. Engkau tak akan memperoleh kebenaran seperti yang ayahanda berikan bila engkau berpegang teguh pada pikiran sendiri — meskipun engkau sudah berusaha sekuat tenaga.

Anakku, ketahuilah, seandainya ada tuhan selain Allah maka tuhan itu akan mengirim utusannya. Dan engkau akan melihat kekuasaan dan bukti pekerjaannya. Engkau akan mengetahui perbuatan-perbuatan dan segala sifatnya. Akan tetapi, tiada tuhan selain Allah seperti Dia tegaskan sendiri. Tiada tuhan lain yang menyaingi kekuasaan-Nya. Dan tak ada seorang pun yang dapat menggeser kedudukan-Nya.

Dia sudah ada sebelum segala sesuatu ada. Dia-lah Yang Maha Awal namun tiada bermula, dan Yang Maha Akhir namun tiada berkesudahan. Dia terlalu Agung untuk dapat diliput pancaindera ataupun kalbu. Jika engkau sudah mengenal demikian, maka lakukanlah apa yang mesti engkau lakukan, sejauh kemampuan engkau.

Engkau harus selalu taat kepada-Nya. Sungguh Allah tiada menyuruhmu kecuali kebaikan (untukmu), dan tak pernah melarang kecuali keburukan (bagimu).

Anakku, ayahanda sudah menceritakan perihal dunia, keadaannya, kepunahannya, dan proses peralihannya menuju alam yang lebih kekal.

Ayahanda sudah menceritakan pula perihal akhirat dan balasan serta ganjaran yang dipersiapkan untuk orang-orang yang mencintainya. Ayahanda telah memberikan gambaran dan seluk-beluk dua kehidupan itu supaya engkau dapat mengambil pelajaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: