Abu Nawas – “Melarang” Ruku’ dan Sujud

13 Januari 2011

Syahdan, Khalifah Harun al-Rasyid marah besar pada sahibnya yang karib dan setia, yaitu Abu Nawas. Ia ingin menghukum mati Abu Nawas setelah menerima laporan bahwa Abu Nawas mengeluarkan fatwa, “Ruku’ dan sujud tidak perlu dalam shalat.” Lebih lagi, Harun al-Rasyid mendengar Abu Nawas berkata bahwa dirinya adalah Khalifah yang suka fitnah! Menurut pembantu-pembantunya, Abu Nawas telah layak dipancung karena melanggar Syariat Islam dan menyebar fitnah. Khalifah mulai terpancing. Tapi untung ada seorang pembantunya yang memberi saran, hendaknya Khalifah melakukan tabayun (konfirmasi) terlebih dahulu pada Abu Nawas.

Abu Nawas pun digeret menghadap Khalifah. Kini, ia menjadi pesakitan. “Hai Abu Nawas, benar kamu berpendapat tidak perlu ruku’ dan sujud dalam shalat?” tanya Khalifah dengan keras.

Abu Nawas menjawab dengan tenang, “Benar, Saudaraku.”

Khalifah kembali bertanya dengan nada suara yang lebih tinggi, “Benar kamu berkata kepada masyarakat bahwa aku, Harun al-Rasyid, adalah seorang Khalifah yang suka fitnah?”

Abu Nawas menjawab, “Benar, Saudaraku.”

Khalifah berteriak dengan suara menggelegar, “Kamu memang pantas dihukum mati, karena melanggar Syariat Islam dan menebarkan fitnah!”

Abu Nawas tersenyum seraya berkata, “Saudaraku, memang aku tidak menolak bahwa aku telah mengeluarkan dua pendapat tadi, tapi sepertinya kabar yang sampai padamu tidak lengkap, kata-kataku dipelintir, dijagal, seolah-olah aku berkata salah.”

Khalifah berkata dengan ketus, “Apa maksudmu? Jangan membela diri, kau telah mengaku dan mengatakan kabar itu benar adanya.”

Abu Nawas beranjak dari duduknya dan menjelaskan dengan tenang, “Saudaraku, aku memang berkata ruku’ dan sujud tidak perlu dalam shalat, tapi dalam shalat apa? Waktu itu aku menjelaskan tata cara shalat jenazah yang memang tidak perlu ruku’ dan sujud.”

“Bagaimana soal aku yang suka fitnah?” tanya Khalifah.

Abu Nawas menjawab dengan senyuman, “Kala itu, aku sedang menjelaskan tafsir ayat 28 Surat Al-Anfal, yang berbunyi, “Ketahuilah bahwa kekayaan dan anak-anakmu hanyalah ujian bagimu.” Sebagai seorang Khalifah dan seorang Ayah, kamu sangat menyukai kekayaan dan anak-anakmu, berarti kamu suka ‘fitnah’ (ujian) itu.” Mendengar penjelasan Abu Nawas yang sekaligus kritikan, Khalifah Harun al-Rasyid tertunduk malu, menyesal dan sadar.

Rupanya, kedekatan Abu Nawas dengan Harun al-Rasyid menyulut iri dan dengki di antara pembantu-pembantunya. Abu Nawas memanggil Khalifah dengan “Ya Akhi” (Saudaraku). Hubungan di antara mereka bukan antara tuan dan hamba. Pembantu-pembantu Khalifah yang hasud ingin memisahkan hubungan akrab tersebut dengan memutarbalikkan berita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: