Archive for Februari, 2011

Husain AS Bersama Sang Ayah

20 Februari 2011

Imam Husain as pernah menikmati kasih sayang ayahnya. Sangat besar sekali kecintaan dan kasih sayang sang ayah itu kepadanya, sehingga ia tidak mengizinkan Husain dan saudaranya, Hasan as, untuk turut serta dalam penyerangan-penyerangan militer pada saat perang Shiffîn bergejolak supaya keturunan Rasulullah saw tidak terputus. Imam Ali as telah membangun keutamaan Husain dan kemuliaan saudaranya, Hasan as. Ia telah memberikan warisan pengetahuan dan kejeniusan kepada kedua putranya itu, dan membekali mereka dengan adab dan hikmah sehingga mereka menjadi manifestasi dirinya.

Imam Husain as menyerupai ayahnya dalam keberanian, kemuliaan, dan seluruh karakteristik yang agung. Ia telah memilih mati syahid dengan cara dibantai oleh Bani Umayyah daripada menyerah kepada mereka. Ia telah mengorbankan hidupnya dan pasrah mati di jalan kemuliaan. Berikut ini beberapa hadits tentang perjuangannya ini:

Imam Ali AS Memberitakan Syahadah Putranya

Imam Amirul Mukminin Ali as-sebagaimana Rasulullah saw-pernah memberitakan tentang syahadah putranya, Imam Husain as. Berikut ini beberapa hadits yang pernah diriwayatkan darinya:

  1. Abdullah bin Yahyâ meriwayatkan dari ayahnya yang pernah ikut serta bersama Imam Ali as dalam perang Shiffîn. Ayahnya adalah sahabat dekat Imam Ali as. Ketika sampai di Nainawâ, Imam Ali as berteriak: “Sabarlah, hai Abu Abdillah! Sabarlah, hai Abu Abdillah! (Sabarlah) mengingat tepi sungai Furat!” Yahyâ bangkit dan bertanya: “Apa gerangan yang akan terjadi pada Abu Abdillah?” Imam Ali menjawab: “Suatu hari aku menjumpai Rasulullah saw sementara kedua matanya berlinang air mata. Aku bertanya kepadanya: ‘Ya nabi Allah, apakah seseorang telah membuat Anda marah? Apa yang membuat mata Anda berlinang?’ Ia menjawab, ‘Jibril telah datang kepadaku dengan membawa berita bahwa Husain akan dibunuh di tepi sungai Furat. Apakah kamu ingin mencium tanahnya?’ ‘Ya’, jawabku pendek. Lalunya mengambil segumpal tanah dan memberikannya kepadaku. Melihat tanah itu, aku tidak kuasa menahan linangan air mataku.”
  2. Hartsamah bin Salîm meriwayatkan: “Kami ikut serta berperang bersama Ali bin Abi Thalib pada perang Shiffîn. Ketika sampai di wilayah Karbala, kami menunaikan salat. Setelah usai salam, Imam Ali mengambil segumpal tanah Karbala dan menciumnya seraya berkata, ‘Sungguh mulia engkau, hai tanah Karbala. Sungguh ada sekelompok orang yang akan dibangkitkan darimu dan masuk surga tanpa dihisab.’ Hartsamah terkejut dengan ucapan Imam Ali itu, dan ucapan itu senantiasa mengiang di telinganya. Setelah tiba di rumah, Hartsamah menceritakan kejadian itu kepada istrinya yang bernama Jardâ’ binti Samîr, dan ia adalah seorang pengikut setia Amirul Mukminin as. Hartsamah menceritakan ucapan yang telah ia dengar dari Imam Ali. Istrinya berkata: ‘Biarkan aku, hai suamiku. Sesungguhnya Amirul Mukminin tidak mengatakan sesuatu kecuali benar.” Selang beberapa tahun, Ibn Ziyâd mengutus bala tentaranya untuk memerangi buah hati Rasulullah saw, Imam Husain as. Hartsamah berada di barisan bala tentara itu. Ketika sampai di Karbala, ia teringat akan ucapan Imam Ali as. Seketika itu juga ia enggan untuk memerangi Imam Husain as. Hartsamah datang menghadap Imam Husain as dan menceritakan apa yang pernah ia dengar dari Imam Ali as. Imam Husain as bertanya kepadanya: ‘Kamu bersama kami atau ingin memerangi kami?’ Hartsamah berkata: ‘Aku tidak ingin bersama Anda dan juga tidak ingin memerangi Anda. Aku telah meninggalkan istri dan anakku. Aku takut Ibn Ziyâd akan menganiaya mereka.’ Imam Husain as menasihatinya sembari berkata: ‘Jika begitu, lekaslah kabur sehingga kamu tidak menyaksikan kami terbunuh. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, pada hari ini tak seorang pun yang menyaksikan kami dibunuh lalu ia tidak menolong kami, melainkan Allah pasti akan memasukannya ke dalam neraka.’ Hartsamah pun kabur dan tidak menyaksikan Imam Husain as dibantai.”
  3. Tsâbit bin Suwaid meriwayatkan dari Ghaflah: “Suatu ketika Ali as berpidato. Seorang laki-laki berdiri di bawah mimbar seraya berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, aku telah melewati Wâdil Qurâ dan aku temukan Khâlid bin ‘Urfathah telah meninggal dunia. Maka mintakanlah ampunan untuknya.’ Imam Ali as berkata, ‘Demi Allah, ia tidak mati, dan ia tidak akan mati sehingga ia memimpin sebuah bala tentara yang sesat. Pembawa benderanya adalah Habîb bin Himâr.’ Tiba-tiba seorang laki-laki berdiri seraya mengangkat suaranya: ‘Wahai Amirul Mukminin, aku adalah Habîb bin Himâr, dan aku adalah pengikut dan pecintamu.’Imam Ali as berkata kepadanya: ‘Kamukah Habîb bin Himâr itu?” Ya’, jawabnya pendek. Imam mengulangi pertanyaannya, dan Habîb kembali menjawab, ‘Ya’. Imam Ali as berkata, ‘Demi Allah, kamu adalah pembawa bendera itu dan kamu pasti akan membawanya. Engkau pasti akan masuk melalui pintu ini.’ Imam Ali menunjuk pintu Al-Fîl di masjid Kufah.” Tsâbit melanjutkan: “Demi Allah, aku tidak meninggal dunia hingga aku melihat Ibn Ziyâd. Ia telah mengutus Umar bin Sa’d untuk memerangi Husain dan mengangkat Khâlid bin ‘Urfathah sebagai komandan pasukan dan Habîb bin Himâr sebagai pembawa benderanya. Habîb masuk lewat pintu Al-Fîl dengan membawa bendera itu.”
  4. Imam Amirul Mukminin Ali as berkata kepada Barrâ’ bin ‘?zib: “Hai Barrâ’, apakah Husain akan dibunuh sementara kamu masih hidup, tetapi kamu tidak menolongnya?” Barrâ’ berkata: “Tidak seperti itu, ya Amirul Mukminin.” Ketika Imam Husain as terbunuh, Barrâ’ merasa menyesal. Dia teringat akan ucapan Imam Amirul Mukminin as. Barrâ’ berkata: “Alangkah besarnya penyesalanku, karena aku tidak sempat membantu Husain as dan alangkah baiknya bila aku terbunuh demi membelanya.”

Banyak sekali hadits seperti ini yang telah dijelaskan oleh Imam Amirul Mukminin as tentang syahadah buah hati Rasulullah saw di Karbala itu. Kami telah memaparkan sebagian besar darinya dalam buku kami, Hayâh Al-Imam Husain as.

_______________

Imam Husain bin Ali الحسین بن علي
626-680 M; Gelar: Sayyid al-Shuhada
Husain adalah cucu dari Nabi Muhammad saww yang dibunuh ketika dalam perjalanan ke Kufah di Karbala. Husain dibunuh karena menentang Yazid bin Muawiyah.

Iklan

Rayuan Sex dalam Biblia: Kidung Agung 7:1-13

5 Februari 2011

(Kidung Agung 7:1-13)

Betapa indah langkah-langkahmu dengan sandal-sandal itu, puteri yang berwatak luhur! Lengkung pinggangmu bagaikan perhiasan, karya tangan seniman.

Pusarmu seperti cawan yang bulat, yang tak kekurangan anggur campur. Perutmu timbunan gandum, berpagar bunga-bunga bakung.

Seperti dua anak rusa buah dadamu, seperti anak kembar kijang.

Lehermu bagaikan menara gading, matamu bagaikan telaga di Hesybon, dekat pintu gerbang Batrabim; hidungmu seperti menara di gunung Libanon, yang menghadap ke kota Damsyik.

Kepalamu seperti bukit Karmel, rambut kepalamu merah lembayung; seorang raja tertawan dalam kepang-kepangnya.

Betapa cantik, betapa jelita engkau, hai tercinta di antara segala yang disenangi.

Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dadamu gugusannya.

Kataku: “Aku ingin memanjat pohon korma itu dan memegang gugusan-gugusannya. Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan nafas hidungmu seperti buah apel.

Kata-katamu manis bagaikan anggur!” Ya, anggur itu mengalir kepada kekasihku dengan tak putus-putusnya, melimpah ke bibir orang-orang yang sedang tidur!

Kepunyaan kekasihku aku, kepadaku gairahnya tertuju.

Mari, kekasihku, kita pergi ke padang, bermalam di antara bunga-bunga pacar!

Mari, kita pergi pagi-pagi ke kebun anggur dan melihat apakah pohon anggur sudah berkuncup, apakah sudah mekar bunganya, apakah pohon-pohon delima sudah berbunga! Di sanalah aku akan memberikan cintaku kepadamu!

Semerbak bau buah dudaim; dekat pintu kita ada pelbagai buah-buah yang lezat, yang telah lama dan yang baru saja dipetik. Itu telah kusimpan bagimu, kekasihku!


Basmalah

4 Februari 2011

Basmalah (بسملة) adalah bahasa Arab yang digunakan untuk menyebutkan kalimat Islam bismi-llaahi ar-raḥmaani ar-raḥiimi. Kalimat ini tertera dalam setiap awalan Surat di dalam Al-Qur’an, kecuali Surat At-Taubah. Juga diucapkan setiap kali seorang Muslim melakukan salat, juga memulai kegiatan harian lainnya, dan biasanya digunakan sebagai pembuka kalimat (Mukadimah) dalam konstitusi atau piagam di negara-negara Islam.

Kalimat Basmallah juga pernah ditulis pada zaman Nabi Sulaiman, surat kepada ratu Bilqis sesuai dengan informasi dalam Al Qur’an, yaitu di surah ke-27 ayat 30:

إِنَّهُ مِن سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

Bismillah (بسم الله) berasal dari bahasa arab yang berarti “Dengan nama Allah”. Bacaan ini disebut Tasmiyah dan bagi orang Islam sangat dianjurkan membacanya dalam memulai setiap kegiatannya. Sehingga apa yang dikerjakan diniatkan atas nama Allah dan semoga mendapatkan restu atas pekerjaan tersebut dari Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

%d blogger menyukai ini: