Mesjid Al-Azhar Kairo Mesir

7 Mei 2011

Mesjid Al-Azhar adalah mesjid tertua di Kairo yang mulai dibangun tahun 359H atau 970M, lebih dari 1000 tahun yang lalu, tidak terlalu lama setelah kota kairo didirikan. Memang luar biasa jika mesjid tersebut sampai saat ini masih berdiri kokoh di kawasan El Hussein Square di bagian kota tua Kairo. Al-Azhar dibangun di sebelah tenggara kota Kairo, dekat dengan Istana Besar yang waktu itu ada diantara daerah Ad-Daylam sebelah timur dan Daerah At-Turk sebelah selatan.

Al Azhar adalah masjid Jami’ pertama yang dibangun di Kairo. Pada saat dibangun ia berbentuk satu bangunan yang terbuka di tengahnya (dalam bahasa Arab disebut Shohn, meniru arsitektur Masjid Al-Haram), di dalamnya ada 3 ruwaq (ruangan khusus yang dipergunakan untuk kegiatan belajar atapun penampungan pelajar), yang paling besar adalah Ruwaq Al-Qiblah. Waktu itu luasnya hanya setengah luas yang ada sekarang.

Adalah Jawhar Al-Shiqillilah, panglima perang penguasa ke-4 Dinasti Fathimiyah: Al-Mu‘iz li Dinillah, yang memulai pendirian masjid ini pada 24 Jumada Al-Awwal 359 H/4 April 970 M. Sementara peresmian masjid ini dilaksanakan dengan shalat Jumat di dalamnya pada Ramadhan 361 H/Juli 972 M. Masjid ini, kala itu, dirancang sebagai pusat pembinaan kaum Muslim. Nama Al-Azhar berhubungan erat dengan Dinasti Fatimiyyah yang mendirikannya. Dikatakan bahwa Al-Azhar sebagai simbol bagi Fatimah Az-Zahraa alaihi salam putri Rasulullah Shallallahu alaihi wa alaa aalihi wa sallam. Sebagaimana salah satu koridor Al-Azhar dinamai dengan Fatimah alahi salam. Al-Mustanshir dan Al-Hafizh juga ikut menambah sedikit luas masjid Al-Azhar. Dinasti Fatimiyyah adalah Dinasti Syiah Bathiniyyah yang berusaha untuk menyebarkan ajarannya tersebut dengan mendirikan Al-Azhar.

Pada saat dibangun ia berbentuk satu bangunan yang terbuka di tengahnya (dalam bahasa Arab disebut Shohn, meniru arsitektur Masjid Al-Haram), di dalamnya ada 3 ruwaq (ruangan khusus yang dipergunakan untuk kegiatan belajar atapun penampungan pelajar), yang paling besar adalah Ruwaq Al-Qiblah. Waktu itu luasnya hanya setengah luas yang ada sekarang.

Masjid ini memiliki pelataran besar berbentuk persegi panjang yang dikelilingi oleh rangkaian portico. Seperti halnya Masjid Umayyah di Damaskus, ternyata tiang-tiang kolom di masjid ini juga memanfaatkan kembali kolom-kolom kuno untuk menunjang arcade (atap lori) yang terbuat dari bata-bata yang sudah dilapisi dengan plesteran semen.

Arcade tersebut memiliki banyak lengkungan. Desain teknis dan perbandingan antar lengkungannya sangat mengagumkan. Bahkan, ada yang menyebutnya energetik, maksudnya ada kesan masif yang ditampilkan oleh pola lengkungan yang semakin yang meninggi, dengan rekatan berbahan plester yang sangat halus.

Gaya dekoratif pada Masjid Al-Azhar sebagian besar mengikuti gaya yang terdapat pada Masjid Ibn Tulun. Kemudian, model ornamentasi dan penggunaan batanya mengikuti gaya Mesopotamia yang dibawa ke Mesir oleh Ibn Tulun. Sementara itu, cara-cara Dinasti Umayyah yang kerap kali memanfaatkan kembali material-material kuno juga diikuti oleh arsitek Masjid Al-Azhar ini.

Masjid Al-Azhar mempunyai hall di bagian dalam dengan tipologi yang sangat sempurna untuk sebuah prolog pelataran ibadah ritual, dengan lima lajur menghadap ke arah kiblat. Ruangannya juga menerapkan pola hypostyle dengan langit-langit kayu datar yang ditopang oleh kolom-kolom tadi. Sepertinya, hal ini meniru gaya yang diterapkan pada Masjid Amr di Kairouan.

Pelataran masjid berukuran 50 kali 34 meter: di sana terdapat empat fasade yang dihiasi hiasan dekoratif. Hiasan dekoratif itu, pada bagian atasnya bermotifkan daun, yang mempunyai cerukan langsung di atas kolom-kolom. Kemudian hiasan rosette besar diletakkan di puncak arcade yang mengelilingi pelataran. Ada pula balkon yang cukup lapang sehingga memudahkan bagi kita untuk memandang ke segala arah.

Suasana di dalam ruangan masjid beratmosfer redup. Keredupannya itu melintasi dinding-dinding plester yang ada. Selain itu, hall ini menawarkan sesuatu yang baru yang lebih besar: mirip pusat ruangan utama pada basilika, yang dibatasi oleh dua buah barisan kolom yang tegak lurus terhadap mihrab. Hal ini juga terdapat pada masjid Ibn Tulun. Sementara itu, pelataran masjid memberikan impresi yang lebih khidmat. Dengan demikian menjadikannya menyatu dengan seluruh kompleks bangunan masjid.

Masjid ini pernah mengalami beberapa kali perluasan, di antaranya teras pintu masuk masjid di sebelah utara yang mengalami modifikasi total. Juga, penambahan menara oleh penguasa Mamluk.

Jawhar menorehkan tulisan relief di sekitar Kubah yang bertahunkan 360, yang nash tulisan lengkapnya bisa diketahui dalam tulisan Al-Maqrizy (Al-Khattath, jld II, hal 273, baris 24-26). Sejak saat itu, pahatan tersebut menghilang. Para penguasa Fatimiyyah memperluas bangunan masjid dan menetapkan waqaf khusus untuknya. Sebagai contoh adalah Al-Aziz Nazzar (365-386H / 976-996 M) yang telah menjadikan Al-Azhar sebagai Akademi Keilmuan dan mendirikan penampungan bagi orang-orang faqir yang bisa menampung 35 orang.

Diriwayatkan bahwa pada bangunan pertama masjid ini terdapat relief burung-burung yang terpahat pada puncak tiga tiang yang berfungsi untuk menjaga agar jangan sampai burung bersarang di situ. Ketika Al-Hakim Bi Amrillah berkuasa, (386-411 H / 996-1020 M), dia memperluas bangunan masjid dan mengkhusukan wakaf untuk bangunan tersebut dan juga bangunan lainnya. Hal itu juga disebutkan oleh Al-Maqrizy ketika menceritakan kejadian tahun 400 H. Pada tahun 519 H, Al-Amir membuat miharab di dalamnya yang dihiasi dengan ukiran-ukiran kayu. Ukiran-ukiran tersebut masih tersimpan di Daarul Atsar Al-Arabiyyah (Pusat Peninggalan Arab) di Kairo.

Berbeda dengan pola lengkungan di Damaskus, dan Cordoba yang mempunyai khas lengkungan berbentuk seperti tapal (sepatu kuda). Lengkungan-lengkungan (arc) pada desain masjid ini agak ramping, seperti kebanyakan pola lengkungan di sebagian besar masjid-masjid yang ada di Mesir. Nah, untuk mengurangi kesan terlalu ramping itu, para arsiteknya meletakkan tiga kolom sekaligus pada setiap sisi pintu masuk bangunan masjid di pelataran (lihat gambar). Sementara itu, pada dua sudut antara dinding pelataran dan arcade diletakkan dua kolom sekaligus.

Setelah kejatuhan Dinasti Fatimiyah, masjid ini lalu dijadikan sebagai kampus untuk universitas ternama dalam kekhilafahan Sunni: Universitas Al-Azhar. Namun, sesungguhnya lembaga pendidikan di al-Azhar itu diresmikan oleh khalifah Muizz li Dinillah, yang Syiah. Jadi, kaum Sunni hanya melanjutkan saja kegiatan pendidikan yang sudah dirintis oleh Dinasti Fatimiyah. Semula, ide membuat lembaga pendidikan itu adalah untuk mengembangkan keilmuan dalam mazhab Syiah Ismailiyah. Namun, kemudian berkembang menjadi sebuah universitas.

_______________

Pranala luar:

4 Tanggapan to “Mesjid Al-Azhar Kairo Mesir”


  1. Ya Allah semoga aku dapat menjejakan kaki ku kesana
    امين

  2. Anonim Says:

    bismillahirohmanirrohim,.. y allah ridhoalah hambamu ini untuk menuntut ilmu ksana,.. aaamiiiiin

  3. Anonim Says:

    yaa allah jika engkau meridhoi, hamba ingin menuntut ilmu kesana….amiien


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: