Islam dan Hidup yang Ceria

20 Agustus 2012

Manusia kerap kali didera rasa penat dan letih lantaran rutinitas kehidupan sehari-harinya. Untuk bisa lepas dari kondisi semacam itu, kita perlu membagi waktu khusus guna melakukan refreshing dan rekreasi, sehingga jiwa kita pun menjadi lebih ceria dan bersemangat kembali. Sebagaimana tubuh yang memerlukan makanan dan beragam nutrisi lainnya, jiwa manusia pun memerlukan istirahat, rekreasi, dan keceriaan. Rasa gembira merupakan reaksi positif kejiwaan yang muncul di berbagai keadaan. Jiwa yang ceria merupakan hal yang penting dalam menghapus pengalaman buruk yang tak mungkin dihindari seperti kegagalan, keputusasaan, dan perasaan negatif lainnya. Perasaan gembira bisa membantu kesehatan psikologis kembali pulih dan tenang. Imam Ali bin Musa ar-Ridha as menuturkan,

“Rekreasi dan permainan yang menghibur, bisa membantu kalian mengatur hidup dan dengannya kalian akan lebih baik memperoleh kesuksesan dalam urusan duniawi.”

Para psikolog kini meyakini bahwa kegembiraan dan pikiran yang ceria berpengaruh penting dalam kehidupan manusia. Begitu pentingnya keceriaan bagi manusia sehingga mampu menjadi pengobat sejumlah penyakit. Para psikolog percaya, pada abad terakhir ini, manusia disibukkan dengan dirinya sendiri. Keceriaan bukan hanya bisa mencegah sejumlah penyakit, tapi bahkan mampu menghambat tumbuh berkembangnya beberapa jenis kanker.

Dari sisi ilmu kedokteran, tertawa dan gembira merupakan reaksi reflektif yang menyebabkan bergeraknya 15 otot wajah secara harmonis, dan mempercepat pernafasan serta peredaran darah sehingga menambah adrenalin darah. Efek dari proses ini memunculkan perasaan ceria dan gembira dalam diri seseorang. Jika kehidupan manusia kosong dari rasa ceria, niscaya ia akan mengalami derita yang amat berat lantaran kerasnya tekanan psikologis.

Menghapus rasa duka dan menciptakan keceriaan merupkan hal yang vital baik bagi diri sendiri maupun bagi keluarga dan masyarakat. Karena rasa duka dan ceria tidak hanya terbatas pada pribadi manusia. Keceriaan dan kesedihan seorang manusia bisa berpengaruh juga terhadap orang lain. Rupel Scheldrake, seorang pakar biologi asal Inggris, menyatakan, “Ingatan dan kesadaran manusia tidak hanya tersimpan dalam otaknya. Tapi ada juga sesuatu yang dinamakan “kesadaran kolektif” yang bisa menghubungkan antarsesama manusia lewat kekuatan khusus”. Oleh karena itu, kesedihan ataupun keceriaan seseorang berpengaruh juga bagi orang lain di sekitarnya.

Tentu saja, keceriaan merupakan hal yang relatif dan seseorang bisa merasa gembira hanya dalam kondisi tertentu. Sebagian sosiolog meyakini, kalangan kelas bawah masyarakat memperoleh kegembiraanya lewat kesenangan sekilas, seperti menonton sepak bola dan sejenisnya. Sementara masyarakat kalangan menengah atau khusus memperolehnya dengan cara memenuhi keinginan jangka panjangnya seperti menaikkan investasi dan mendapatkan fasilitas hidup yang lebih sejahtera. Aristoteles, filosof Yunani kuno, mengajukan bentuk keceriaan yang lain, yaitu kegembiraan hidup yang diperoleh dari cara hidup yang berpemikiran. Menurutnya, hal itu merupakan level tertinggi keceriaan manusia. Sebagian filosof dan ilmuan lainnya ada pula yang berpendapat bahwa kegembiraan jiwa hanya bisa diperoleh dengan cara hidup yang bermoral dan religius.

Islam sebagai agama universal yang memenuhi seluruh tuntutan jasmani dan rohani manusia mengajarkan bahwa jiwa yang ceria merupakan hal yang vital bagi kehidupan. Islam mengajarkan pula kepada kita cara menciptakan keceriaan yang agamis. Keceriaan yang kadang bermanfaat bagi diri sendiri, dan kadang bermanfaat pula bagi orang lain. Imam Ali bin Musa ar-Ridha as menyatakan,

“Waktu kalian terbagi dalam empat sesi. Sesi pertama untuk menyepi bersama Tuhan, sesi kedua untuk mencari rezeki, sesi ketiga bercengkerama dengan saudara dan siapa saja yang kalian percaya dapat menyimpan aib kalian, dan sesi keempat sisihkanlah untuk bersenang-senang. Manfaatkan sebaik-baiknya waktu bersenang-senang kalian sehingga bisa membantu dalam menjalankan tugas dan kewajiban kalian”.

Salah satu faktor penyebab kegembiraan adalah melakukan rekreasi atau wisata. Rekreasi dan berwisata sehat akan menghasilkan keceriaan yang sehat pula. Bercengkerama dengan alam, menyaksikan pemandangan yang indah, warna-warni bunga yang mempesona, pepohonan yang hijau, air terjun yang eksotis, gunung-gunung, dan pesona alam lainnya merupakan kenikmatan yang bisa membangkitkan rasa keceriaan dan kebahagiaan hati.

Selain berwisata, melakukan perjalanan merupakan hal positif yang diajarkan Islam kepada umatnya. Allah Swt dalam kitab sucinya al-Quran mengajak manusia untuk melakukan perjalanan ke berbagai pelosok bumi, sehingga selain bisa mengambil pelajaran dari sejarah dan umat-umat lainnya, juga bisa menikmati keindahan alam di negeri-negeri lain. Rasulullah saw dalam hadisnya bersabda, “Bersafarlah supaya kalian sehat.”

Olahraga juga termasuk ihwal yang bisa menciptakan keceriaan bagi jiwa manusia. Olahraga merupakan aksi positif dan menggembirakan yang selalu ditegaskan oleh para pemimpin agama. Tentu saja, jenis olahraga yang bisa memperkuat semangat kesatriaan dan mengajarkan teknik bela diri lebih dianjurkan. Rasulullah saw bersabda,

“Hak seorang anak dari bapaknya adalah mendapatkan pengajaran cara menulis, berenang, dan memanah serta memperoleh rezeki hanya dari cara yang halal.”

Menghadiri acara-acara hiburan dan pesta juga bisa memunculkan keceriaan. Karena itu, Islam juga menganjurkan pada umatnya untuk menggelar perayaan dan pesta khusus menyambut hari-hari besar keagamaan dan hari kelahiran para pemimpin agama. Tentu saja perayaan dan pesta yang dimaksud tidak boleh bercampur dengan hal-hal yang dilarang oleh agama. Islam melarang acara hiburan dan pesta yang bercampur dengan laku maksiat dan hal-hal yang diharamkan. Sejatinya, keceriaan dan kegembiraan yang positif bisa diperoleh dengan cara menolong sesama dan menjalankan kewajiban agama.

Menurut Islam, keceriaan yang sejati hanya bisa diperoleh dengan cara menjalankan perintah agama dan mengurangi ketergantuingan terhadap dunia. Terikat dengan dunia dan tenggelam dalam kehidupan materi akan membuat manusia menjadi lalai dan tamak. Manusia yang tamak tidak akan pernah puas dan hal inilah yang menyebabkan rasa duka dan kesedihan. Karena itu, manusia yang tidak terlalu terikat dengan kehidupan duniawi, ia akan senantiasa tabah dalam menghadapi segala cobaan dan memiliki jiwa yang lebih positif.

Selain itu, doa yang selalu diajarkan oleh agama juga bisa menciptakan keceriaan batin dan menghidupkan jiwa manusia. Selain doa, membaca puisi atau melantunkan nyanyian, menggelar pesta pernikahan, memberi hadiah, mengenakan busana yang indah, memakai wewangian, bertemu dengan saudara dan sahabat serta menjalin silaturrahmi dan bekerja keras merupakan sejumlah contoh perbuatan yang dianjurkan Islam untuk menciptakan jiwa yang ceria. Rasulullah saw dalam salah satu hadisnya menuturkan,

“Barangsiapa yang menggembirakan seorang mukmin, sejatinya ia menggembirakan diriku, barang siapa yang menggembirakan diriku, sejatinya ia menggembirakan Allah”.

_______________

Artikel milik: IRIB Indonesian Radio

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: