Archive for the '14 Ma’sum' Category

Imam Hasan AS bin Ali AS

15 Januari 2012

Nama: Hasan; Gelar: Al-Mujtaba; Julukan: Abu Muhammad; Ayah: Ali bin Abi Thalib; Ibu: Fathimah az-Zahra; Tempat dan tanggal lahir: Madinah, Selasa 15 Ramadhan 2 H; Hari dan tanggal wafat: Kamis, 7 Shafar Tahun 49 H; Umur: 47 Tahun; Sebab kematian: Diracun Istrinya, Ja’dah binti As-Ath; Makam: Baqi’ Madinah; Jumlah anak: 15 orang; 8 laki-laki dan 7 perempuan; Anak laki-laki: Zaid, Hasan, Umar, Qosim, Abdullah, Abdurrahman, Husein, Thalhah; Anak perempuan: Ummu al-Hasan, Ummu al-Husein, Fathimah, Ummu Abdullah, Fathimah, Ummu Salamah, Ruqoiyah

Riwayat Hidup

Maka katakanlah (hai Muhammad): mari kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kalian …”(Surah Al-lmran 61)

 “Sesungguhnya Allah SWT menjadikan keturunan bagi setiap Nabi dan dari tulang sulbinya masing-masing, tetapi Allah menjadikan keturunanku dan tulang sulbi Ali bin Abi Thalib.” (Kitab Ahlul Bait hal. 273-274)

 Semua anak Adam bernasab kepada orang tua lelaki (ayah mereka), kecuali anak-anak Fathimah. Akulah ayah mereka dan akulah yang menurunkan mereka.”(Tafsir Al Manar, dalam menafsirkan Surah al-An’am ayat 84)

Satu ayat di atas serta dua hadits di bawahnya menunjukkan bahwa Hasan dan Husein adalah kecintaan Rasul yang nasabnya disambungkan pada dirinya. Hadits yang berbunyi: “Tapi Allah menjadikan keturunanku dari tulang sulbi Ali Bin Abi Thalib”, menunjukkan bahwa Rasulullah yang tidak berbicara karena kemauan hawa nafsu kecuali wahyu semata-mata, ingin mengatakan bahwa Hasan dan Husein adalah anaknya beliau saw. Begitu juga hadits kedua, beliau mengungkapkan bahwa anak Fathimah bernasab kepada dirinya saw. Pernyataan tersebut dipertegas oleh ayat yang di atas, dimana Allah sendiri menyebut mereka dengan istitah ‘anak-anaknya’ yakni putra-putra Muhammad Rasululullah saw.

Nabi juga sering bersabda: “Hasan dan Husein adalah anak-anakku.” Atas dasar ucapan Nabi inilah, Ali bin Abi Thalib berkata kepada anak-anaknya yang lain: “Kalian adalah anak-anakku sedangkan Hasan dan Husein adalah anak-anak Nabi.” Karena itulah ketika Rasulullah saw masih hidup mereka berdua memanggil Nabi saw “ayah”. Sedang kepada Imam Ali as Husein memanggilnya Abu al-Hasan, sedang Hasan memanggil sebagai Abu al-Husein. Ketika Rasulullah saw berpulang ke rahmat Allah, barulah mereka berdua memanggil hadrat Ali dengan “ayah”.

Beginilah kedekatan nasab mereka berdua kepada Rasululullah saw. Sejak hari lahirnya hingga berumur tujuh tahun Hasan mendapat kasih sayang serta naungan dan didikan langsung dari Rasululullah saw, sehingga beliau dikenal sebagai seorang yang ramah, cerdas, murah hati, pemberani, serta berpengetahuan luas tentang seluruh kandungan setiap wahyu yang diturunkan saat Nabi akan menyingkapnya kepada para sahabatnya.

Dalam kesalehannya, beliau dikenal sebagai orang yang saleh, bersujud dan sangat khusyuk dalam shalatnya. Ketika berwudhu beliau gemetar dan di saat shalat pipinya basah oleh air mata sedang wajahnya pucat karena takut kepada Allah SWT. Dalam belas dan kasih sayangnya, beliau dikenal sebagai orang yang tidak segan untuk dengan pengemis dan para penghuni kota yang bertanya tentang masalah agama kepadanya.

Dari sifat-sifat yang mulia inilah beliau tumbuh menjadi seorang dewasa yang tampan, bijaksana dan berwibawa. Setelah kepergian Rasulullah saw beliau langsung berada di bawah naungan dan didikan ayahnya Ali bin Abi Thalib as. Hampir tiga puluh tahun, beliau bernaung di bawah didikan ayahnya, hingga akhirnya pada tahun 40 Hijriyah. Ketika ayahnya terbunuh dengan pedang beracun yang dipukulkan Abdurrahman bin Muljam, Hasan mulai menjabat keimamahan yang ditunjuk oleh Allah SWT.

Selama masa kepemimpinannya, beliau dihadapkan kepada orang yang sangat memusuhinya dan memusuhi ayahnya, Muawiyah bin Abi Sofyan dari bani Umayyah. Muawiyah bin Abi Sofyan yang sangat tamakan kepada kekuasaan selalu menentang dan menyerang Imam Hasan as dengan kekuatan pasukannya. Sementara dengan kelicikannya dia menjanjikan hadiah-hadiah yang menarik bagi jenderal dan pengikut Imam Hasan yang mau menjadi pengikutnya.

Karena banyaknya pengkhianatan yang dilakukan pengikut Imam Hasan as yang merupakan akibat pujukan Muawiyah, akhirnya Imam Hasan menerima tawaran darinya. Perdamaian bersyarat itu dimaksudkan agar tidak terjadi pertumpahan darah yang lebih banyak di kalangan kaum muslimin. Namun, Muawiyah mengingkari seluruh isi perjanjian itu. Kejahatannya pun semakin merajalela, khususnya kepada keluarga Rasulullah saw dan orang yang mencintai mereka akan selalu ditekan dengan kekerasan dan diperlakukan dengan tidak senonoh.

Dan pada tahun 50 Hijriah, beliau dikhianati oleh isterinya, Ja’dah putri Ash’ad, yang menaruh racun di minuman Imam Hasan. Menurut sejarah, Muawiyah adalah dalang dari usaha pembunuhan anak kesayangan Rasulullah saw ini.

Akhirnya manusia agung, pribadi mulia yang sangat dicintai oleh Rasulullah kini telah berpulang ke rahmatullah. Pemakamannya dihadiri oleh Imam Husein as dan para anggota keluarga Bani Hasyim. Karena adanya beberapa pihak yang tidak setuju jika Imam Hasan dikuburkan di dekat maqam Rasulullah dan ketidaksetujuannya itu dibuktikan dengan adanya hujan panah ke keranda jenazah Imam Hasan as. Akhirnya untuk kesekian kalinya keluarga Rasulullah yang teraniaya terpaksa harus bersabar. Mereka kemudian mengalihkan pemakaman Imam Hasan as ke Jannatul Baqi’ di Madinah. Pada tanggal 8 Syawal 1344 H (21 April 1926) kemudian, pekuburan Baqi’ diratakan dengan tanah oleh pemerintah yang berkuasa di Hijaz.

Imam Hasan telah tiada, pemakamannya pun digusur. Namun perjuangan serta pengorbanannya yang diberikan kepada Islam akan tetap terkenang di hati sanubari setiap insan yang mengaku dirinya sebagai pengikut dan pencinta Muhammad saw serta Ahlul Baitnya.

Imam Husain AS bin Ali AS

21 Agustus 2011

Nama: Husain; Gelar: Sayyidu Syuhada’, As-Syahid bi Karbala; Julukan: Aba Abdillah; Ayah: Ali bin Abi Thalib; lbu: Fatimah Az-Zahra; Tempat dan tanggal lahir: Madinah, Kamis 3 Sya’ban 3 H; Hari dan tanggal wafat: Jum ‘at 10 Muharram 61 H; Umur: 58 Tahun; Sebab kematian: Dibantai di Padang Karbala; Makam: Padang Karbala; Jumlah anak: 6 orang; 4 laki-laki dan 2 perempuan; Anak laki-laki: Ali Akbar, Ali al-Autsat, Ali al-Asghar, dan Ja’far; Anak perempuan: Sakinah dan Fathimah.

Riwayat Hidup

Sabda Rasulullah saww: “Wahai putraku al-Husein, dagingmu adalah dagingku dan darahmu adalah darahku, engkau adalah seorang pemimpin putra seorang pemimpin dan saudara dari seorang pemimpin, engkau adalah seorang pemimpin spiritual, putra seorang pemimpin spiritual dan saudara dari pemimpin spiritual. Engkau adalah Imam yang  berasal dari Rasul, putra Imam yang berasal dari Rasul dan Saudara dari Imam yang berasal dari Rasul, engkau adalah ayah dari semua Imam, yang ke semua adalah al-Qo’im (Imam Mahdi).” (14 Manusia Suci Hal. 92)

Salman al-Farisi ra berkata: “Aku menemui Rasulullah saw, dan kulihat al-Husein sedang berada di pangkuan beliau. Nabi mencium pipinya dan mengecupi mulutnya, lalu bersabda: “Engkau seorang junjungan, putra seorang junjungan dan saudara seorang junjungan; engkau seorang Imam putra seorang Imam, dan saudara seorang Imam; engkau seorang hujjah, putra seorang hujah, dan ayah dari sembilan hujjah. Hujjah yang ke sembilan Qoim mereka yakni Al-Mahdi.” (al-Ganduzi, Yanabi’ al Mawaddah)

Berkata Jabir bin Samurrah: “Saya ikut bersama ayah menemui Nabi saw, lalu saya mendengar beliau bersabda: ‘Persoalan lima ini belum akan pantas sebelum berjalan pemerintahan 12 (dua belas) khalifah di tengah-tengah mereka.’ Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tidak pernah saya dengar. Karena itu, beberapa waktu kemudian saya bertanya kepada ayah: ‘Apa yang beliau katakan?’ Nabi mengatakan: ‘Semua khalifah itu berasal dari kalangan Quraish.’ Jawab ayahku.” (Shahih Muslim Jilid 3, Bukhari, Al-Tirmizi dan Abu Daud)

Di tengah kebahagiaan dan kerukunan keluarga Fathimah Az-Zahra lahirlah seorang bayi yang akan memperjuangkan kelanjutan misi Rasulullah saw. Bayi itu tidak lain adalah Husein bin Ali bin Abi Thalib, yang dilahirkan pada suatu malam di bulan Sya’ban.

Rasululullah saw bertanya pada Imam Ali bin Abi Thalib: “Engkau berinama siapa anakku ini?” Saya tidak berani mendahuluimu wahai Rasulullah”. Jawab Ali. Akhirnya Rasululullah saw mendapat wahyu agar menamainya Husein. Kemudian di hari ketujuh, Rasulullah bergegas ke rumah Fatimah Az-Zahra dan menyembelih domba sebagai aqiqahnya. Lalu dicukurnya rambut al-Husein dan Rasul bersedekah dengan perak seberat rambutnya yang kemudian mengkhatannya sebagaimana upacara yang dilakukan untuk Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

Sebagaimana Imam Hasan, beliau juga mendapat didikan langsung dari Rasulullah saw. Dan setelah Rasulullah meninggal, beliau dididik oleh ayahnya. Hingga akhirnya Imam Ali terbunuh dan Imam Hasan yang menjadi pimpinan saat itu. Namun Imam Hasan pun syahid dalam mempertahankan Islam dan kini Imam Husein yang menjadi Imam atas perintah Allah dan Rasul-Nya serta wasiat dari saudaranya. Imam Husein hidup dalam keadaan yang paling sulit. Itu semua merupakan akibat adanya penekanan dan penganiayaan serta banyaknya kejahatan dan kedurjanaan yang dilakukan Muawiyah. Bahkan yang lebih buruk lagi, ia menyerahkan ke khalifahan kaum muslimin kepada anaknya Yazid, yang dikenal sebagai pemabuk, penzina, yang tidak pernah mendapat didikan Islam, serta seorang pemimpin yang setiap harinya hanya bermain dan berteman dengan kera-kera kesayangannya.

Hukum-hukum Allah tidak dilakukan, sunnah-sunnah Rasululullah ditinggalkan dan Islam yang tersebar bukan lagi Islamnya     Muhammad saw, melainkan Islamnya Muawiyah serta Yazid yang kenal dengan kerusakan dan kedurjanaan. Imam Husein merupakan tokoh yang paling ditakuti oleh Yazid. Hampir setiap kerusakan yang dilakukannya ditentang oleh Imam Husein dan beliau merupakan seorang tokoh yang menolak untuk berbaiat kepadanya. Kemudian Yazid segera menulis surat kepada gubenurnya al-Walid bin Utbah, dan memerintahkannya agar meminta baiat dari penduduk Madinah secara umum dan dari al-Husein secara khusus dengan cara apapun.

Melihat itu semua, akhirnya Imam Husein berinisiatif untuk meninggalkan Madinah. Namun sebelum meninggalkan Madinah beliau terlebih dahulu berjalan menuju maqam datuknya Rasulullah saw, serta shalat di dekatnya dan berdoa: “Ya Allah ini adalah kuburan nabi-Mu dan aku adalah anak dari putri nabi-Mu ini. Kini telah datang kepadaku persoalan yang sudah aku ketahui sebelumnya. Ya Allah! Sesungguhnya aku menyukai yang maruf dan mengingkari yang mungkar, dan aku memohon kepada-Mu, wahai Tuhan yang Maha Agung dan Maha Mulia, melalui haq orang yang ada dalam kuburan ini, agar jangan Engkau pilihkan sesuatu untukku, kecuali yang Engkau dan Rasul-Mu meridhainya.” (Abdul Rozaq Makram, Maqtal al-Hasan hal. 147).

Setelah menyerahkan segala urusannya kepada Allah, beliau segera mengumpulkan seluruh Ahlul-Bait dan pengikut-pengikutnya yang setia, lalu menjelaskan tujuan perjalanan beliau, yakni Mekkah.

Mungkin kita bertanya-tanya, apa sebenarnya motivasi gerakan revolusioner yang dilakukan Imam Husein hingga beliau harus keluar dari Madinah. Imam Husein sendiri yang menjelaskan alasannya kepada Muhammad bin Hanafiah dalam surat yang ditulisnya: “Sesungguhnya aku melakukan perlawanan bukan dengan maksud berbuat jahat, sewenang- wenang, melakukan kerusakan atau kezaliman. Tetapi semuanya ini aku lakukan semata-mata demi kemaslahatan umat datukku Muhammad saw. Aku bermaksud melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar, dan mengikuti jalan yang telah dirintis oleh datukku dan juga ayahku Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah barangsiapa yang menerimaku dengan haq, maka Allah lebih berhak atas yang haq. Dan barangsiapa yang menentang apa yang telah kuputuskan ini, maka aku akan tetap bersabar hingga Allah memutuskan antara aku dengan mereka tentang yang haq dan Dia adalah sebaik-baik pemberi keputusan.”

Setelah melakukan perjalanan panjang, akhirnya rombongan Imam Husein sampai di kotaMakkah, yaitu suatu kota yang dilindungi Allah SWT yang dalam Islam merupakan tempat yang di dalamnya perlindungan dan keamanan dijamin. Peristiwa ini terjadi di akhir bulan Rajab 60 Hijriah.

Selama empat bulan di Makkah Imam banyak berdakwah dan membangkitkan semangat Islam dari penduduk Makkah.

Dan ketika tiba musim haji, Imam segera melaksanakan ibadah haji dan berkhutbah di depan khalayak ramai dengan khutbah singkat yang mengatakan bahwa beliau akan ke lraq menujukota Kufah.

Selain karena keamanan Imam Husein sudah terancam, ribuan surat yang datangnya dari penduduk kota Kufah juga menjadi pendorong keberangkatan Imam Husein ke kota itu. Dan sehari setelah khutbahnya itu, Imam Husein berangkat bersama keluarga dan para pengikutnya yang setia, guna memenuhi panggilan tersebut.

Ketika dalam perjalanan, ternyata keadaan kota Kufah telah berubah. Yazid mengirimkan lbnu Ziyad guna mengantisipasi keadaan. Wakil Imam Husein (Muslim bin Aqil), diseret dan dipenggal kepalanya. Orang-orang yang setia segera dibunuhnya. Penduduk Kufah pun berubah menjadi ketakutan, tak ubahnya laksana tikus yang melihat kucing. (Abdul Karim AL-Gazwini, al-Wasaiq al-Rasmiah Li Tsaurah al-Husein Hal. 36).

Sekitar tujuh puluh kilometer dari Kufah di suatu tempat yang bernama Karbala, Imam Husein beserta rombongan yang berjumlah 70 (tujuh puluh) orang; 40 (empat puluh) laki-laki dan sisanya kaum wanita; dan itu pun terdiri dari keluarga bani Hasyim, baik anak-anak, saudara, terdekat dan saudara sepupu; telah dikepung oleh pasukan bersenjata lengkap yang berjumlah 30 (tiga puluh) ribu orang.

Musuh yang tidak berperikemanusiaan itu, melarang Imam dan rombongannya untuk meminum dari sungai Efrat. Padahal, anjing, babi dan binatang lainnya bisa berendam di sungai itu sepuas-puasnya, sementara keluarga suci Rasulullah dilarang mengambil air walaupun seteguk.

Penderitaan demi penderitaan, jeritan demi jeritan, pekikan suci dari anak-anak yang tak berdosa menambah sedihnya peristiwa itu. Imam Husein yang digambarkan oleh Rasul sebagai pemuda penghulu surga, yang digambarkan sebagai Imam di saat duduk dan berdiri, harus menerima perlakuan keji dari manusia yang tidak mengenal batas budi.

Pada tanggal 10 (sepuluh) Muharram 61 Hijriah, 680 Masehi), pasukan Imam Husein yang berjumlah 70 (tujuh puluh) orang telah berhadapan dengan pasukan bersenjata lengkap yang berjumlah 30.000 (tiga puluh ribu) orang. Seorang demi seorang dari pengikut al-Husein mati terbunuh. Tak luput keluarganya juga mati dibantai. Tubuh mereka dipisah-pisah dan diinjak-injak dengan kudanya.         Hingga ketika tidak ada seorangpun yang akan membelanya beliau mengangkat anaknya yang bernama Ali al-Asghar, seorang bayi yang masih menyusu sambil menanyakan apa dosa bayi itu hingga harus dibiarkan kehausan. Belum lagi terjawab pertanyaannya sebuah panah telah menancap di dada bayi tersebut dan ketika itu pula bayi yang masih mungil itu harus mengakhiri riwayatnya di dekapan ayahnya, al-Husein.

Kini tinggallah al-Husein seorang diri, membela misi suci seorang nabi, demi projek Allah apapun boleh terjadi, asal agama Allah mampu tegak berdiri, badan pun boleh mati. Perjuangan al-Husein telah mencapai puncaknya, tubuhnya yang suci telah dilumuri darah, rasa haus pun telah mencekiknya. Tubuh yang pernah dikucup dan digendong Rasulullah saw kini telah rebah di atas padang Karbala. Lalu datanglah Syimr, lelaki yang bertempang menakutkan, menaiki dada al-Husein lalu memisahkah kepala beliau serta melepas anggota tubuhnya satu demi satu.

Setelah kepergian Imam Husein, pasukan musuh menjarah barang-barang milik Imam dan pengikutnya yang telah tiada. Kebiadaban mereka tidak cukup sampai di sini, mereka lalu menyerang kemah wanita dan membakarnya serta mempermalukan wanita keluarga Rasulullah. Rombongan yang hanya terdiri dan kaum wanita itu, kemudian dijadikan sebagai tawanan perang yang dipertontonkan dan satu kota ke kota lain.

Rasulullah yang mendirikan negara Islam dan membebaskan mereka dari kebodohan. Namun keluarga Umayah yang tidak tahu membalas budi telah memperlakukan keluarga Rasulullah semena-mena. Beginikah cara umatmu membalas kebaikanmu wahai Rasulullah saw? Benarlah sabda Rasulullah yang berbunyi: “Wahai Asma! Dia (al-Husein) kelak akan dibunuh oleh sekelompok pembangkang sesudahku, yang syafaatku tidak akan sampai kepada mereka.”

Pembicaraan tentang Imam Husain adalah pembicaraan yang dipenuhi dengan kepahlawanan dan pengorbanan.

Ali bin Abi Thalib AS

19 Juni 2011

Nama: Ali bin Abi Thalib as; Gelar: Amirul Mu’minin; Julukan: Abu al-Hasan, Abu Turab; Ayah: Abu Thalib (Bapa saudara Rasululullah saww); Ibu: Fatimah binti Asad; Tempat dan tanggal lahir: Mekkah, Jum’at 13 Rajab (di dalam Baitullah); Hari dan tanggal wafat: Malam Jum’at, 21 Ramadhan 40 H; Umur: 63 Tahun; Sebab kematian: Ditikam oleh Abdurrahman ibnu Muljam; Makam: Najaf Al-Syarif (Iraq); Jumlah anak: 36 Orang, 18 laki-laki dan 18 perempuan; Anak laki-laki: 1. Hasan Mujtaba, 2. Husein, 3. Muhammad Hanafiah, 4. Abbas al-Akbar, yang dijuluki Abu Fadl, 5. Abdullah al-Akbar, 6. Ja’far al-Akbar, 7. Utsman al- Akbar, 8. Muhammad al-Ashghar, 9. Abdullah al-Ashghar, 10. Abdullah, yang dijuluki Abu Ali, 11. ‘Aun, 12. Yahya, 13. Muhammad al Ausath, 14. Utsman al Ashghar 15.Abbas al-Ashghar, 16. Ja’far al-Ashghar, 17. Umar al-Ashghar, 18. Umar al-Akbar; Anak perempuan: 1. Zainab al-Kubra, 2. Zainab al-Sughra, 3. Ummu al-Hasan, 4. Ramlah al-Kubra, 4. Ramlah al-Sughra, 5. Ummu al-Hasan, 6. Nafisah, 7. Ruqoiyah al-Sughra, 8. Ruqoiyah al-Kubra, 9. Maimunah, 10. Zainab al-Sughra, 11. Ummu Hani, 12. Fathimah al-Sughra, 13. Umamah, 14. Khodijah al-Sughra, 15. Ummu Kaltsum, 16. Ummu Salamah, 17. Hamamah, 18. Ummu Kiram.

Riwayat Hidup

Imam Ali bin Abi Thalib as adalah sepupu Rasulullah saw. Dikisahkan bahwa pada saat ibunya, Fatimah binti Asad, dalam keadaan hamil, beliau masih ikut bertawaf di sekitar Ka’bah. Karena keletihan yang dialaminya lalu si ibu tadi duduk di depan pintu Ka’bah seraya memohon kepada Tuhannya agar memberinya kekuatan. Tiba-tiba tembok Ka’bah tersebut bergetar dan terbukalah dindingnya. Seketika itu pula Fatimah binti Asad masuk ke dalamnya dan terlahirlah di sana seorang bayi mungil yang kelak kemudian menjadi manusia besar, Imam Ali bin Abi Thalib as.

Pembicaraan tentang Imam Ali bin Abi Thalib tidak dapat dipisahkan dengan Rasulullah saw. Sebab sejak kecil beliau telah berada dalam didikan Rasulullah saw, sebagaimana dikatakannya sendiri: “Nabi membesarkan aku dengan suapannya sendiri. Aku menyertai beliau kemanapun beliau pergi, seperti anak unta yang mengikuti induknya. Tiap hari aku dapatkan suatu hal baru dari karakternya yang mulia dan aku menerima serta mengikutinya sebagai suatu perintah.”

Setelah Rasulullah saw mengumurnkan tentang kenabiannya, beliau menerima dan mengimaninya dan termasuk orang yang masuk islam pertama kali dari kaum laki-laki. Apapun yang dikerjakan dan diajarkan Rasulullah kepadanya, selalu diamalkan dan ditirunya. Sehingga beliau tidak pernah terkotori oleh kesyirikan atau tercemari oleh kelakuan hina dan jahat dan tidak tenodai oleh kemaksiatan. Keperibadian beliau telah menyatu dengan Rasululullah saw, baik dalam kelakuannya, pengetahuannya, pengorbanan diri, kesabaran, keberanian, kebaikan, kemurahan hati, kefasihan dalam berbicara dan berpidato.

Sejak masa kecilnya beliau telah menolong Rasulullah saw dan terpaksa harus menggunakan kepalan tangannya dalam mengusir anak-anak kecil serta para bajingan yang diperintah kaum kafir Quraish untuk mengganggu dan melempari batu kepada diri Rasulullah saw.

Keberaniannya tidak tertandingi, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw: “Tiada pemuda sehebat Alî.” Dalam bidang keilmuan, Rasul menamakannya sebagai pintu ilmu. Bila ingin berbicara tentang kesalehan dan kesetiaannya, maka simaklah sabda Rasulullah saw: “Jika kalian ingin tahu ilmunya Adam, kesalehan Nuh, kesetiaan lbrahim, keterpesonaan Mûsa, pelayanan dan kepantangan Isa, maka lihatlah kecemerlangan wajah Alî.” Beliau merupakan orang yang paling dekat hubungan kekeluargaanya dengan Nabi saw sebab, beliau bukan hanya sepupu nabi, tapi sekaligus sebagai anak asuhnya dan suami dari putrinya serta sebagai penerus kepemimpinan sepeninggalnya saw.

Sejarah juga telah menjadi saksi nyata atas keberaniannya. Di setiap peperangan, beliau selalu saja menjadi orang yang terkemuka. Di perang Badar, hampir separuh dan jumlah musuh yang mati, tewas di ujung pedang Imam Ali as. Di perang Uhud, yang mana musuh Islam lagi-lagi dipimpin oleh Abu Sofyan dan keluarga Umayyah yang sangat memusuhi Nabi saw, Imam Ali as kembali memainkan peranan yang sangat penting, yaitu ketika sebagian sahabat tidak lagi mendengarkan wasiat Rasulullah agar tidak turun dari atas gunung, namun mereka tetap turun sehingga orang kafir Quraish mengambil kedudukan mereka, lmam Ali bin Abi Thalib as segera datang untuk menyelamatkan diri nabi dan sekaligus menghalau serangan itu.

Perang Khandak juga menjadi saksi nyata keberanian Imam Ali bin Abi Thalib as ketika memerangi Amar bin Abdi Wud. Dengan satu tebasan pedangnya yang bernama dzulfikar, Amar bin Abdi Wud terbelah menjadi dua bagian. Demikian pula halnya dengan perang Khaibar, di saat para sahabat tidak mampu membuka benteng Khaibar, Nabi saw bersabda: “Besok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri, dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengaruniakan kemenangan baginya. Allah dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Maka, seluruh sahabat pun berangan-angan untuk mendapatkan kemuliaan tersebut. Namun, ternyata Imam Ali bin Abi Thalib as yang mendapat kehormatan itu serta mampu menghancurkan benteng Khaibar dan berhasil membunuh seorang prajurit musuh yang berani bernama Marhab lalu menebasnya hingga terbelah menjadi dua bagian.

Begitulah kegagahan yang ditampakkan oleh Imam Ali dalam menghadapi musuh islam serta dalam membela Allah dan Rasul-Nya. Tidak syak lagi bahwa seluruh kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib as dipersembahkan untuk Rasul demi keberhasilan projek Allah. Kecintaan yang mendalam kepada Rasulullah benar-benar terbukti lewat perjuangannya. Penderitaan dan kesedihan dalam medan perjuangan mewarnai kehidupannya. Namun, penderitaan dan kesedihan yang paling dirasakan adalah saat ditinggalkan Rasulullah saw. Tidak cukup itu, 75 hari kemudian istrinya, Fatimah Zahra, juga meninggal dunia.

Kepergian Rasululullah saw telah membawa angin lain dalam kehidupan Imam Ali as. Terjadinya perternuan Saqifah yang menghasilkan pemilihan khalifah pertama, baru didengarnya setelah pulang dari kuburan Rasulullah saw. Sebab, pemilihan khalifah itu menurut sejarah memang terjadi saat Rasulullah belum dimakamkan. Pada tahun ke-13 H, khalifah pertama, Abu Bakar as-Shiddiq, meninggal dunia dan menunjuk khalifah ke-2, Umar bin Khaththab sebagai penggantinya. Sepuluh tahun lamanya khalifah ke-2 memimpin dan pada tahun ke-23 H, beliau juga wafat. Namun, sebelum wafatnya, khalifah pertama telah menunjuk 6 orang calon pengganti dan Imam Ali as termasuk salah seorang dari mereka. Kemudian terpilihlah khalifah Utsman bin Affan. Sedang Imam Ali bin Abi Thalib as tidak terpilih karena menolak syarat yang diajukan Abdurrahman bin Auf yaitu agar mengikuti apa yang diperbuat khalifah pertama dan kedua dan mengatakan akan mengikuti apa yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Pada tahun 35 H, khalifah Utsman terbunuh dan kaum muslimin secara aklamasi memilih serta menunjuk Imam Ali sebagai khalifah dan pengganti Rasululullah saw dan sejak itu beliau memimpin negara Islam tersebut. Selama masa kekhalifahannya yang hampir 4 tahun 9 bulan, Ali mengikuti cara Nabi dan mulai menyusun sistem yang islami dengan membentuk gerakan spiritual dan pembaharuan.

Dalam merealisasikan usahanya, beliau menghadapi banyak tantangan dan peperangan, sebab, tidak dapat dimungkiri bahwa gerakan pembaharuan yang dicanangkannya dapat medorong dan menghancurkan keuntungan-keuntungan pribadi dan beberapa kelompok yang merasa dirugikan. Akhirnya, terjadilah perang Jamal dekat Bashrah antara beliau dengan Talhah dan Zubair yang didukung oleh Mua’wiyah, yang mana di dalamnya Aisyah “Ummul Mu’minin” ikut keluar untuk memerangi Imam Ali bin Abi Thalib as. Peperangan pun tak dapat dihindari, dan akhirnya pasukan Imam Ali as berhasil memenangkan peperangan itu sementara Aisyah “Ummul Mu’rninin” dipulangkan secara terhormat kerumahnya.

Kemudian terjadi “perang Siffin” yaitu peperangan antara beliau as melawan kelompok Mu’awiyah, sebagai kelompok oposisi untuk kepentingan pribadi yang mendorong negara yang sah. Peperangan itu terjadi di perbatasan Iraq dan Syiria dan berlangsung selama setengah tahun. Beliau juga memerangi Khawarij (orang yang keluar dan lingkup Islam) di Nahrawan, yang dikenal dengan nama “perang Nahrawan”. Oleh karena itu, hampir sebagian besar hari-hari pemerintahan Imam Ali bin Abi Thalib as digunakan untuk peperangan dalam melawan pihak- pihak oposisi yang sangat mendorong dan merugikan keabsahan negara Islam.

Akhirnya, menjelang subuh, 19 Ramadhan 40 H, ketika sedang shalat di masjid Kufah, kepala beliau ditebas dengan pedang beracun oleh Abdurrahman bin Muljam. Menjelang wafatnya, pria sejati ini masih sempat memberi makan kepada pembunuhnya. Singa Allah, yang dilahirkan di rumah Allah “Ka’bah” dan dibunuh di rumah Allah “Mesjid Kufah”, yang mempunyai hati paling berani, yang selalu berada dalam didikan Rasulullah saw sejak kecilnya serta selalu berjalan dalam ketaatan pada Allah hingga hari wafatnya, kini telah mengakhiri kehidupan dan pengabdiannya untuk Islam.

Beliau memang telah tiada namun itu tidak berarti seruannya telah berakhir, Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Quran 2:154)

%d blogger menyukai ini: