Archive for the 'Kisah' Category

Nabi Kepada Aisyah: Mengapa Aku Begitu Mencintai Husein?

6 Desember 2011

Aisyah binti Abu Bakar, isteri Nabi Muhammad saw terheran-heran menyaksikan betapa Nabi begitu sabar bermain dengan cucunya, Husein. Setiap kali menyaksikan tawa renyah kekanak-kanakan Husein, membuatnya berpikir. Namun kejadian ini terjadi berulang-ulang dan membuatnya tidak tahan. Akhirnya, Aisyah bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah! Seberapa besar engkau mencintai anak-anak? Ketika Husein berada di sisimu, engkau terlihat begitu gembira dan ceria.”

Nabi menjawab, “Mengapa aku begitu mencintai Husein? Ia adalah buah hatiku dan cahaya mataku. Namun ia akan dibunuh oleh orang-orang zalim. Ketahuilah bahwa siapa yang menziarahinya pasca syahadahnya, Allah akan menuliskan baginya pahala ibadah haji dariku.”

Mendengar ucapan Nabi, Aisyah semakin takjub dan bertanya, “Pahala satu dari ibadah hajimu?”

Nabi menjawab, “Bahkan sama dengan dua ibadah hajiku.”

Seakan tidak percaya apa yang didengarnya, Aisyah kembali bertanya, “Pahala dua dari ibadah hajimu?”

Nabi menjawab, “Bahkan sama dengan tiga ibadah hajiku.”

Aisyah kembali mengulangi pertanyaan dan Nabi menjawabnya. Kejadian ini terus berulang hingga akhirnya Nabi berkata, “Allah akan memberikan pahala 90 haji dari ibadah haji Rasulullah ditambah pahala ibadah umrahnya kepada orang yang berziarah ke kuburan Husein as.”

_______________

Sumber: “Sad Pand va Hekayat” Husein (IRIB Indonesia/Saleh Lapadi)

Imam Muhammad Al-Baqir AS dan Alim Nasrani

14 Mei 2011

Dalam perjalanan pulang dari Syam menuju Madinah, di suatu tempat Imam Muhammad Al Baqir as berhenti karena menyaksikan orang-orang Nasrani sedang berkumpul dan seolah-olah mereka sedang akan melakukan sebuah perayaan di sebuah tempat dekat gunung.

Beliau bertanya kepada salah satu dari mereka: “Apakah ini? Apakah ada hari raya untuk mereka orang-orang Nasrani?” Mereka menjawab: “Tidak. Ini adalah acara tahunan. Setiap tahun para pembesar Kristen mengundang orang-orang Kristen untuk berkumpul di tempat ini dan di antara para pembesar mereka akan keluar seseorang yang paling alim dari mereka untuk menjawab semua pertanyaan mereka.”

Imam Baqir mengajak Imam Ja’far as, anaknya, untuk ikut bersama mereka dan kemudian mengenakan sorbannya untuk menutupi wajah beliau dan diikuti oleh Imam Ja’far as. Lalu masuk ke dalam rombongan untuk duduk bersama-sama orang-orang Kristen. Tidak lama datanglah orang yang paling alim dari para pembesar Kristen tersebut yang hanya terjadi setahun sekali perayaan ini untuk menjawab semua pertanyaan mereka.

Satu persatu para peserta rombongan diperhatikan oleh sang alim Kristen ini. Namun ia mendapati orang asing yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Tatap menatap pun terjadi antara sang alim dan Imam Baqir as.

Kemudian ia bertanya kepada Imam Baqir as: “Siapakah anda? Apakah anda dari golongan kami (Nasrani) atau golongan Marhumah (Muhammad)?”

Imam Baqir as menjawab: “Dari golongan Marhumah (yang dirahmati).”

Sang alim Nasrani bertanya kembali: “Apakah dari golongan alim mereka atau orang-orang bodoh dari mereka?”

Imam Baqir as menjawab: “Bukan dari orang-orang bodoh dari mereka.”

Sang alim bertanya kembali: “Engkau ingin bertanya atau ingin aku bertanya kepadamu?”

Imam Baqir as menjawab: “Kalau anda berkenan silahkan bertanya kepadaku.”

Maka sang alim Nasrani pun berteriak kepada para hadirin: “Wahai para hadirin dengarkan bahwa saat ini ada dari umat Muhammad yang sok menunjukkan ilmunya di tempat kita yang kita hanya jumpa setiap setahun sekali. Perhatikan bahwa aku akan memberikan beberapa pertanyaan untuk menunjukkan bahwa umat Muhammad ini tidak memiliki orang yang berilmu.”

Imam Baqir as pun menegaskan kembali: “Tanyakan apa saja yang ingin anda tanyakan.”

Sang alim Nasrani pun bertanya: “Aku bertanya bahwa ada suatu waktu yang waktu tersebut tidak termasuk waktu malam juga tidak termasuk waktu siang. Waktu apakah itu?”

Imam Baqir as pun langsung menjawab: “Itu adalah waktu antara terbit fajar dengan terbitnya matahari.”

Tercengang karena pertanyaan itu terjawab oleh Imam Baqir as, sang alim pun berkata: “Kamu tadi mengatakan bahwa engkau bukan dari golongan alim umat Marhumah.” Imam pun menjawab: “Aku hanya mengatakan bahwa aku bukan termasuk dari golongan orang-orang bodoh dari mereka.”

Sang alim Nasrani pun berkata: “Kalau begitu aku akan menanyakan sebuah pertanyaan kembali.”

Imam Baqir as berkata: “Silahkan.”

Sang alim Nasrani bertanya: “Kalian umat Muhammad mengaku bahwa surga yang akan diberikan kepada kalian di dalamnya terdapat buah-buahan selalu fresh, tidak pernah busuk dan selalu tersedia (tidak kosong). Adakah engkau mampu menjelaskannya dalam kehidupan dunia ini?”

Imam Baqir as pun menjawab dengan tenang: “Aku akan memberikan sebuah contoh dalam kehidupan dunia ini. Bukankah anda melihat tanah ini? Pernahkah manusia yang hidup di dunia ini tidak menemukan tanah? Pernahkah tanah ini tidak fresh? Selamanya dan dimanapun manusia berada akan selalu menemukan tanah. Dan begitulah kelak di surga Allah, di mana pun dan kapan pun anda akan menemukan buah-buahan yang fresh (ghaddan thariyyan).

Tercengang karena pertanyaan itu terjawab oleh Imam Baqir as, sang alim pun berkata: “Kamu tadi mengatakan bahwa engkau bukan dari golongan alim umat Marhumah.” Imam pun menjawab: “Tidakkah aku hanya mengatakan bahwa aku bukan termasuk golongan orang-orang bodoh dari mereka?”

Sang alim Nasrani pun berkata: “Kalau begitu aku akan menanyakan sebuah pertanyaan kembali.”

Imam Baqir as berkata: “Silahkan.”

Sang alim Nasrani pun berkata: “Surga Allah yang dijanjikan untuk kalian ini aneh. Tiap kali mereka makan dan minum segala kenikmatan sebanyak-banyaknya tidak pernah buang air. Adakah engkau mampu menjelaskannya dalam kehidupan dunia ini?”

Imam Baqir as pun langsung menjawab: “Aku akan berikan contoh kembali dalam kehidupan dunia ini sebelum masuk surga.”

Sang alim Nasrani bertanya penasaran: “Apa itu?”

Imam Baqir as berkata: “Tidakkah kau lihat janin dalam perut ibu? Ia akan selalu makan apapun yang dimakan oleh sang ibu. Namun selama dalam kandungan pernahkah ia buang kotoran dari sisa makanannya?”

Sang alim pun bertambah jengkel dan tercengang karena pertanyaan itu terjawab oleh Imam Baqir as. Sang alim pun berkata: “Kamu tadi mengatakan bahwa engkau bukan dari golongan alim umat Marhumah.” Imam pun menjawab: “Tidakkah Aku hanya mengatakan bahwa aku bukan termasuk golongan orang-orang bodoh dari mereka?”

Sang alim Nasrani pun berkata: “Kalau begitu aku akan menanyakan pertanyaan terakhir!”

Imam Baqir as berkata: “Silahkan.”

Sang alim bertanya: “Siapakah 2 anak kembar yang dikandung dalam perut yang sama, lahir dan wafat di hari yang sama. Namun salah satunya berusia 50 tahun sedang yang lainnya berusia 150 tahun?”

Imam Baqir as pun tersenyum dan menjawab: “Mereka adalah ‘Uzair dan ‘Uzairah. Lahir di hari yang sama, dalam kandungan yang sama namun ketika mereka berdua berusia 25 tahun, maka ‘Uzair diwafatkan oleh Allah selama 100 tahun sedang ‘Uzairah tetap hidup. Maka ketika ‘Uzairah berusia 125 tahun, ‘Uzair dihidupkan oleh Allah kembali sebagai pemuda berusia 25 tahun. (fa amaatahu Allah mi’ata ‘am tumma ba’atsahu [QS. al-Baqarah: 259]) Keledai dan makanannya pun tetap utuh. Maka ia pun kembali ke rumahnya. Dan mereka berdua hidup selama 25 tahun setelah itu. Kemudian mereka pun mati di hari yang sama.”

Sang alim Nasrani malu, menyerah dan berkata: “Wahai para hadirin, sungguh kalian telah durhaka kepadaku. Mengapa kalian mengizinkan ia hadir dalam acara setahun sekali ini dan mempermalukan aku di hadapan kalian? Maka aku tidak akan pernah lagi keluar sepanjang hidupku.”

_______________

Muhammad al-Baqir bin Ali bin Husain (676743), (Bahasa Arabمحمد ألباقر إبن علي) adalah imam ke-5 dalam tradisi Islam Syi’ah Imamiyah, sedangkan menurut Ismailiyah, ia merupakan imam ke-4. Dia lahir pada tanggal 1 Rajab 57 Hijriyah, di Madinah. Ayahnya adalah Imam Ali Zainal Abidin dan ibunya adalah Fatimah binti Hasan bin Ali. Dia mendapatkan penghormatan yang tinggi di kalangan Sunni karena pengetahuan agamanya.

Tak Jadi Mencuri Terong, Allah Karuniakan Untuknya Seorang Isteri

17 April 2011

Di Damaskus, Suria, ada sebuah masjid besar, namanya masjid Jami’ At-Taubah. Ia adalah sebuah masjid yang penuh keberkahan. Di dalamnya ada ketenangan dan keindahan. Sejak tujuh puluh tahun, di masjid itu ada seorang syaikh pendidik yang alim dan mengamalkan ilmunya, namanya Syaikh Salim Al-Masuthi. Ia sangat fakir sehingga menjadi contoh dalam kefakirannya, dalam menahan diri dari meminta, dalam kemuliaan jiwanya dan dalam berkhidmat untuk kepentingan orang lain.

Saat itu ada pemuda yang bertempat di sebuah kamar dalam masjid. Sudah dua hari berlalu tanpa ada makanan yang dapat dimakannya. Ia tidak mempunyai makanan ataupun uang untuk membeli makanan. Saat datang hari ketiga ia merasa bahwa ia akan mati, lalu ia berfikir tentang apa yang akan dilakukan. Menurutnya, saat ini ia telah sampai pada kondisi terpaksa yang membolehkannya memakan bangkai atau mencuri sekedar untuk bisa menegakkan tulang punggungnya. Itulah pendapatnya pada kondisi semacam ini.

Masjid tempat ia tinggal itu, atapnya bersambung dengan atap beberapa rumah yang ada di sampingnya. Hal ini memungkinkan seseorang pindah dari rumah pertama sampai terakhir dengan berjalan di atas atap rumah-rumah tersebut. Maka, ia pun naik ke atas atap masjid dan dari situ ia pindah ke rumah sebelah. Di situ ia melihat orang-orang wanita, maka ia memalingkan pandangannya dan menjauh dari rumah itu. Lalu ia lihat rumah yang di sebelahnya lagi. Keadaannya sedang sepi dan ia mencium ada bau masakan berasal dari rumah itu. Rasa laparnya bangkit, seolah-olah bau masakan tersebut magnet yang menariknya.

Rumah-rumah di masa itu banyak dibangun dengan satu lantai, maka ia melompat dari atap ke dalam serambi. Dalam sekejap ia sudah berada di dalam rumah dan dengan cepat ia masuk ke dapur lalu mengangkat tutup panci yang ada di situ. Dilihatnya sebuah terong besar dan sudah dimasak. Lalu ia ambil satu, karena rasa laparnya ia tidak lagi merasakan panasnya, digigitlah terong yang ada di tangannya dan saat itu ia mengunyah dan hendak menelannya, ia ingat dan timbul lagi kesadaran beragamanya. Langsung ia berkata, “A’udzu billah! Aku adalah penuntut ilmu dan tinggal di masjid, pantaskah aku masuk ke rumah orang dan mencuri barang yang ada di dalamnya?” Ia merasa bahwa ini adalah kesalahan besar, lalu ia menyesal dan beristighfar kepada Allah, kemudian mengembalikan lagi terong yang ada di tangannya. Akhirnya ia pulang kembali ke tempat semula. Lalu ia masuk ke dalam masjid dan mendengarkan syaikh yang saat itu sedang mengajar. Karena terlalu lapar ia tidak dapat memahami apa yang ia dengar.

Ketika majlis itu selesai dan orang-orang sudah pulang, datanglah seorang perempuan yang menutup tubuhnya dengan hijab -saat itu memang tidak ada perempuan kecuali ia memakai hijab-, kemudian perempuan itu berbicara dengan syaikh. Sang pemuda tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakannya. Akan tetapi, secara tiba-tiba syaikh itu melihat ke sekelilingnya. Tak tampak olehnya kecuali pemuda itu, dipanggillah ia dan syaikh itu bertanya, “Apakah kamu sudah menikah?” Dijawab, “Belum.” Syaikh itu bertanya lagi, “Apakah kau ingin menikah?” Pemuda itu diam. Syaikh mengulangi lagi pertanyaannya. Akhirnya pemuda itu angkat bicara, “Ya Syaikh, demi Allah! Aku tidak punya uang untuk membeli roti, bagaimana aku akan menikah?” Syaikh itu menjawab, “Wanita ini datang membawa khabar, bahwa suaminya telah meninggal dan ia adalah orang asing di kota ini. Di sini bahkan di dunia ini ia tidak mempunyai siapa-siapa kecuali seorang paman yang sudah tua dan miskin.” kata syaikh itu sambil menunjuk seorang laki-laki yang duduk di pojokkan.

Syaikh itu melanjutkan pembicaraannya, “Dan wanita ini telah mewarisi rumah suaminya dan hasil penghidupannya. Sekarang, ia ingin seorang laki-laki yang mau menikahinya, agar ia tidak sendirian dan mungkin diganggu orang. Maukah kau menikah dengannya?” Pemuda itu menjawab “Ya.” Kemudian Syaikh bertanya kepada wanita itu, “Apakah engkau mau menerimanya sebagai suamimu?” Ia menjawab “Ya.” Maka Syaikh itu mendatangkan pamannya dan dua orang saksi kemudian melangsungkan akad nikah dan membayarkan mahar untuk muridnya itu. Kemudian syaikh itu berkata, “Peganglah tangan isterimu!” Dipeganglah tangan isterinya dan sang isteri membawanya ke rumahnya. Setelah keduanya masuk ke dalam rumah, sang isteri membuka kain yang menutupi wajahnya. Tampaklah oleh pemuda itu, bahwa ia adalah seorang wanita yang masih muda dan cantik. Rupanya pemuda itu sadar bahwa rumah itu adalah rumah yang tadi telah ia masuki.

Sang isteri bertanya, “Kau ingin makan?” “Ya.” jawabnya. Lalu ia membuka tutup panci di dapurnya. Saat melihat buah terong di dalamnya ia heran dan berkata, “Heran siapa yang masuk ke rumah dan menggigit terong ini?” Maka pemuda itu menangis dan menceritakan kisahnya. Isterinya berkomentar:

“Ini adalah buah dari sifat amanah, kau jaga kehormatanmu dan kau tinggalkan terong yang haram itu, lalu Allah berikan rumah ini semuanya berikut pemiliknya dalam keadaan halal. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu ikhlas karena Allah, maka Allah akan ganti dengan yang lebih baik dari itu.”

_______________

Diceritakan oleh : Syaikh Ali Ath-Thanthawi


%d blogger menyukai ini: