Archive for the 'Nashruddin Hoja' Category

Nashruddin Hoja – Tampak Seperti Wujudmu

8 Juni 2011

Nashruddin sedang merenungi harmoni alam, dan kebesaran Penciptanya.

“Oh Kasih Yang Agung. Seluruh diriku terselimuti oleh-Mu. Segala yang tampak oleh mataku. Tampak seperti wujud-Mu.”

Seorang tukang melucu menggodanya, “Bagaimana jika ada orang jelek dan dungu lewat di depan matamu?”

Nashruddin berbalik, menatapnya, dan menjawab dengan konsisten: “Tampak seperti wujudmu.”

Nashruddin Hoja – Nashruddin Pemungut Pajak

19 Mei 2011

Pada masa Timur Lenk, infrastruktur rusak, sehingga hasil pertanian dan pekerjaan lain sangat menurun. Pajak yang diberikan daerah-daerah tidak memuaskan bagi Timur Lenk. Maka para pejabat pemungut pajak dikumpulkan. Mereka datang dengan membawa buku-buku laporan. Namun Timur Lenk yang marah merobek-robek buku-buku itu satu per satu, dan menyuruh para pejabat yang malang itu memakannya. Kemudian mereka dipecat dan diusir keluar.

Timur Lenk memerintahkan Nashruddin yang telah dipercayainya untuk menggantikan para pemungut pajak untuk menghitungkan pajak yang lebih besar. Nashruddin mencoba mengelak, tetapi akhirnya terpaksa ia menggantikan tugas para pemungut pajak. Namun, pajak yang diambil tetap kecil dan tidak memuaskan Timur Lenk. Maka Nashruddin pun dipanggil.

Nashruddin datang menghadap Timur Lenk. Ia membawa roti hangat.

“Kau hendak menyuapku dengan roti celaka itu, Nashruddin?” bentak Timur Lenk.

“Laporan keuangan saya catat pada roti ini, Paduka,” jawab Nashruddin dengan gaya pejabat.

“Kau berpura-pura gila lagi, Nahsruddin?” Timur Lenk lebih marah lagi.

Nashrudin menjawab takzim, “Paduka, usiaku sudah cukup lanjut. Aku tidak akan kuat makan kertas-kertas laporan itu. Jadi semuanya aku pindahkan pada roti hangat ini.”

Nashruddin Hoja – Penyelundup

15 Maret 2011

Ada kabar angin bahwa Mullah Nashruddin disebutkan berprofesi sebagai penyelundup. Maka setiap melewati batas wilayah, penjaga gerbang menggeledah jubahnya yang berlapis-lapis dengan teliti. Tetapi tidak ada hal yang mencurigakan yang ditemukan. Untuk mengajar, Mullah Nashruddin memang sering harus melintasi batas wilayah.

Suatu malam, salah seorang penjaga mendatangi rumahnya. “Aku tahu, Mullah, engkau penyelundup. Tapi aku menyerah, karena tidak pernah bisa menemukan barang selundupanmu. Sekarang, jawablah penasaranku, apa yang engkau selundupkan?”

“Jubah”, kata Nashruddin serius.

%d blogger menyukai ini: