Archive for the 'Nasihat Para Imam' Category

Khotbah Imam Ali bin Abi Thalib (AS): Memaksimalkan Manfaat dari Bulan Suci Ramadhan

15 Juli 2012

Bulan suci Ramadhan telah dimulai, Sang Imam (as) memasuki mesjid Kufah, naik ke mimbar dan setelah memuji Allah (SWT) dan mengirim salam kepada Nabi Suci Muhammad (saw) beliau menghadap ke orang-orang:

“Wahai manusia! Kami mengamati bulan yang Allah (SWT) telah menjadikannya lebih unggul dari semua bulan lainnya. Inilah bulan dimana gerbang langit dan pintu rahmat Tuhan dibuka dan gerbang Nar ditutup.”

“Inilah bulan dimana suara-suara (orang) didengar dan doa diterima dan orang-orang yang menangis menyebabkan turunnya rahmat Allah (SWT).”

“Inilah bulan yang malam harinya malaikat turun dari langit atas perintah Allah (SWT), dan memberikan salam sampai subuh kepada laki-laki dan perempuan yang berpuasa. Malam itu adalah malam Qadr (Malam Kemuliaan). Puasa di hari berikutnya lebih besar (pahalanya) dari puasa seribu bulan, dan melakukan apapun yang baik lebih besar (pahalanya) dari melakukan yang baik selama seribu bulan.”

“Allah (SWT) mengirim berkatnya siang dan malam di bulan suci Ramadhan ini. Maka siapapun yang melakukan setiap hal kecil yang bermanfaat di bulan ini, ia akan mendapatkan kehormatan pada hari ia menghadap Allah (SWT), dan tidak seorang pun yang mendapatkan kehormatan di hadapan Allah (SWT) kecuali Allah akan memberikan Surga kepadanya.”

Kemudian Amirul Mu’minin Imam Ali bin Abi Thalib (as) melanjutkan pidatonya di atas mimbar masjid Kufa:

“Wahai hamba-hamba Allah! Bulan ini tidaklah sama seperti bulan yang lainnya! Siang dan malam harinya, juga setiap jamnya adalah lebih berharga dibandingkan bulan-bulan lainnya. Inilah bulan dimana Setan dibelenggu selama satu bulan penuh. Allah (SWT) menambah rizki dan kelangsungan hidup serta memilih tamu-tamu rumah-Nya (untuk haji Ziarah).”

“Hai orang yang berpuasa! Berhati-hatilah tentang apa yang engkau lakukan. Engkau adalah tamu Tuhanmu di bulan ini. Amati perilakumu setiap hari dan perhatikan bagaimana engkau menjaga tubuh dan anggota-anggota badanmu dari melakukan dosa.”

“Berhati-hatilah untuk tidak tidur sepanjang malam dan ceroboh pada siang harinya, dan akibatnya begitu bulan ini berlalu engkau masih membawa dosa-dosamu. Sehingga pada hari orang-orang beriman mendapatkan pahala puasa, engkau (malah) termasuk orang-orang yang merugi; atau mereka menikmati berkat-berkat dan anugerah Tuhan sementara engkau tidak bisa mendapatkan semua itu, dan mereka menjadi dekat dengan Allah (SWT) selama hidupnya sementara engkau berada di antara mereka yang dijauhkan dari-Nya!”

“Hai orang yang berpuasa! Jika engkau jauh dari Tuhanmu, kemanakah engkau akan berpaling? Jika Tuhanmu meninggalkan engkau sendirian, siapa yang akan menolongmu? Dan jika Dia tidak menerima engkau di antara hamba-hambanya-Nya, kepada siapa engkau akan pasrah? Dan jika Dia tidak mengampunimu, kepada siapa engkau akan memohon ampun?”

“Hai orang yang berpuasa! Bacalah Al-Quran di siang dan malam harinya sebagai sarana untuk semakin dekat kepada Allah (SWT). Sungguh Kitab Allah dapat berdoa bagi mereka yang membacanya dan syafaat akan diterima pada hari kebangkitan. Oleh karena itu, mereka (yang membaca Al-Qur’an) naik ke tingkat Surga yang lebih tinggi dengan membaca ayat-ayat Kitab ini.”

“Kabar gembira bagi orang yang berpuasa! Aku mendengar dari orang yang paling aku cintai, Nabi Allah berkata, “Allah mengampuni sejumlah besar orang dari siksa api Neraka, tetapi tidak ada yang tahu berapa banyak mereka kecuali diri-Nya. Pada malam terakhir bulan Ramadhan Allah akan mengampuni sebanyak Dia memberikan ampunan sepanjang bulan ini.”

Ketika itu ada seorang pria dari sebuah suku Hamdaan berdiri dan berkata, “Wahai Amirul Mu’minin! Beritahukan lagi kepada kami dari yang kekasihmu (Nabi Suci Muhammad saw) beritahukan kepada engkau tentang Ramadhan.”

Amirul Mu’minin berkata, “Aku mendengar bahwa saudaraku dan sepupuku, Nabi Allah berkata, ‘Barangsiapa berpuasa selama bulan Ramadhan dan menghindari dosa, ia akan masuk Surga.'”

Pria dari suku Hamdaan itu mengulangi permintaannya sebanyak tiga kali dan Imam Ali bin Abi Thalib (as) menjawab di ketiga kalinya sebagai berikut,

“Saya mendengar bahwa yang terbesar dari semua Nabi, Rasul dan Malaikat Allah berkata, ‘Penguasa Penerus akan dibunuh di Penguasa Bulan.'”

“Aku bertanya: ‘Bulan yang manakah penguasa semua bulan dan siapakah Penguasa Penerus?'”

“Nabi saw bersabda, Penguasa bulan adalah Ramadhan dan Penguasa Penerus adalah engkau, hai Ali.'”

“Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Apakah ini (sungguh) akan terjadi?'”

“Nabi saw bersabda, ‘Aku bersumpah kepada Allah ini akan terjadi. Sungguh, yang terburuk di antara orang-orang bangsaku akan memukul bagian atas kepala engkau dengan pedang sehingga darah akan menutupi wajah dan jenggotmu.'”

_______________

Diterjemahkan dari: http://www.ezsoftech.com/ramadan/ramadan30.asp

Iklan

Nasihat Imam Musa Al-Kadzim AS

1 Februari 2011

Hujjah lahiriah dan batiniah.

“Sesungguhnya Allah memiliki dua hujjah atas manusia: hujjah lahiriah dan hujjah batiniah. Hujjah lahiriah adalah para Rasul, Nabi dan Imam (ma’shum) dan hujjah batiniah adalah akal”.

Sabar dan menjauhi orang-orang yang mencintai dunia.

“Sabar dalam kesendirian adalah tanda kekuatan akal. Barangsiapa yang merenungkan tentang Allah, ia akan menjauhi orang-orang yang mencintai dunia dan menginginkan apa yang ada di sisi Tuhannya, Allah adalah penenangnya dalam ketakutan, temannya dalam kesendirian, kekayaannya dalam kefakiran dan kemuliaannya di hadapan selain kerabatnya.”

Merendahkan diri di hadapan Allah.

“Barangsiapa yang menginginkan kekayaan tanpa harta, terselamatkan dari sifat iri dengki dan keselamatan dalam agama, hendaknya ia merendahkan diri di hadapan Allah ketika meminta kepada-Nya (dan mintalah kepada-Nya untuk) menyempurnakan akalnya. Barangsiapa yang akalnya telah sempurna, maka ia akan merasa cukup dengan rezeki yang mencukupi hidupnya. Barangsiapa yang merasa cukup dengan rezeki yang mencukupi hidupnya, maka ia akan merasa kaya. Dan barangsiapa yang tidak merasa cukup dengan rezeki yang mencukupi hidupnya, maka ia tidak pernah merasakan kekayaan sama sekali.”

Menjenguk mukmin karena Allah.

“Barangsiapa yang menjenguk saudara seimannya karena Allah, bukan karena selain-Nya, demi mengharap pahala-Nya dan segala yang telah dijanjikan kepadanya, maka Allah azza wa jalla akan memerintahkan tujuh puluh ribu malaikat untuk menjaganya dari sejak ia keluar dari rumah hingga ia kembali ke rumahnya seraya berkata kepadanya: ‘Engkau adalah orang baik (baca: beruntung) dan surga adalah sesuai denganmu. Engkau telah membangun rumah di sana.'”

Harga diri, akal dan nilai seseorang.

“Tidak sempurna agama orang yang tidak memiliki harga diri, dan tidak memiliki harga diri orang yang tidak berakal. Sesungguhnya orang yang paling agung nilainya adalah orang yang tidak menganggap dunia sebagai satu nilai baginya. Ingatlah, harga badanmu ini adalah surga, jangan engkau menjualnya dengan selainnya.”

Menjaga harga diri orang lain.

“Barangsiapa yang menjaga dirinya untuk tidak mempermalukan orang lain, maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat, dan barangsiapa yang menahan kemarahannya terhadap orang lain, maka Allah akan menahan murka-Nya terhadapnya pada hari kiamat.”

Faktor-faktor yang dapat mendekatkan kepada dari Allah.

“Sarana paling baik yang dapat digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah shalat, berbakti kepada kedua orangtua, meninggalkan sifat dengki, sombong dan bangga diri.”

Orang berakal tidak akan berbohong.

“Sesungguhnya orang yang berakal tidak akan berbohong meskipun hal itu tidak sesuai dengan hawa nafsunya.”

Hikmah diam.

“Sedikit berbicara adalah sebuah hikmah yang amat besar. Oleh karena itu, hendaklah kalian banyak diam, karena banyak diam adalah satu ketenangan hidup dan satu faktor yang dapat meringankan dosa.”

Pencela yang tak tahu malu.

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan surga bagi pencela yang tak tahu malu dan tidak memikirkan apa yang keluar dari mulutnya serta apa yang dikatakan orang lain kepadanya.”

Orang sombong tidak akan masuk surga.

“Hati-hatilah terhadap sifat sombong! Karena tidak akan masuk surga orang yang di hatinya tersimpan setitik kesombongan.”

Program kerja siang dan malam.

“Berusahalah untuk membagi waktu kalian dalam empat bagian: satu bagian untuk bermunajat kepada Allah, satu bagian untuk mencari rezeki, satu bagian untuk menjenguk para saudara seiman yang dapat dipercaya untuk memberitahukan aib-aib yang ada pada dirimu dan sahabat setiamu lahir-batin, dan satu bagian untuk menikmati kenikmatan yang kalian miliki asalkan tidak haram. Dengan menggunakan bagian keempat ini kalian akan mampu melaksanakan tiga bagian di atas.”

Duduk bersama dengan orang yang beragama dan berakal.

“Duduk bersama orang yang beragama adalah sebuah kemuliaan dunia dan akhirat, dan bermusyawarah dengan orang berakal dan ahli nasihat adalah sebuah berkah, petunjuk dan taufik dari Allah. Jika ia menentukan sebuah solusi, maka janganlah menentangnya, karena hal itu akan mengundang kecelakaan bagimu.”

Akibat cinta dunia.

“Barangsiapa yang mencintai dunia, rasa takut kepada akhirat akan sirna dari hatinya. Barangsiapa yang ilmunya bertambah kemudian kecintaannya kepada dunia juga bertambah, maka ia akan bertambah jauh dari Allah dan kemurkaan-Nya kepadanya akan bertambah.”

Menjauhi tamak dan hanya bertawakal kepada Allah.

“Hindarilah tamak dan janganlah mengharap apa yang ada di tangan manusia serta musnahkanlah rasa tamak dari hati para makhluk, karena tamak adalah kunci kehinaan, pembasmi akal, pemusnah dan pengotor harga diri serta pembasmi ilmu. Janganlah (hanya mengandalkan) tawakal kepada Tuhanmu.”

Hasil amanah dan kejujuran.

“Menjaga amanah dan berkata jujur dapat mendatangkan rezeki, sedangkan khianat dan berkata bohong dapat mendatangkan kefakiran dan kemunafikan.”

Berkata benar dan membasmi kebatilan.

“Takutlah kepada Allah dan berkatalah benar meskipun engkau harus binasa, karena di dalam berkata benar itu adalah keselamatanmu. Takutlah kepada Allah dan tinggalkanlah kebatilan meskipun engkau akan selamat, karena di dalam kebatilan itu adalah kecelakaanmu.”

Bala` sesuai dengan kadar iman seseorang.

“Seorang mukmin bak dua sayap timbangan, ketika imannya bertambah, maka bala`nya pun akan bertambah.”

Shalat sunnah dan mendekatkan diri kepada Allah.

“Shalat sunnah adalah sarana bagi mukmin untuk mendekatkan diri kepada Allah.”

Keutamaan ishlah (memperbaiki keadaan) dan memaafkan.

“Pada hari kiamat sebuah suara akan berteriak lantang: “Perhatian! Barangsiapa yang merasa memiliki pahala di sisi Allah, hendaklah ia berdiri!” Tidak ada orang yang berani berdiri kecuali para pemaaf dan orang yang memilih semangat untuk ishlah. Pahalanya ada di sisi Allah.”

Sedekah terbaik.

“Menolong orang yang lemah adalah sedekah terbaik.”

Dosa baru, bala` baru.

“Ketika seseorang melakukan dosa baru yang belum pernah dilakukannya, maka Allah akan mendatangkan bala` yang tak pernah disangka-sangka baginya.”

Kunci pintu hati.

“Perdalamilah agama Allah, karena memperdalami agama adalah kunci hati dan faktor utama untuk mencapai kedudukan yang tinggi di dalam agama dan di dunia. Dan keutamaan seorang “faqih” atas seorang abid bak keutamaan matahari atas bintang-bintang, dan barangsiapa enggan mendalami agamanya, maka Allah tidak akan pernah merelai amalannya.”

Dunia adalah sarana terbaik.

“Jadikanlah untuk dirimu bagian dari dunia selama hal itu halal, tidak merusak harga diri dan tidak melampaui batas, serta gunakanlah dunia tersebut untuk memperkokoh agama, karena diriwayatkan bahwa bukan golongan kami orang yang mengorbankan dunia demi agamanya atau mengorbankan agama demi dunianya.”

Ibadah terbaik.

“Ibadah terbaik setelah mengetahui Allah adalah menunggu “faraj” (kemunculan Imam Mahdi as).”

Mencintai orang lain.

“Mencintai orang lain adalah setengah iman.”

Menghindari kemarahan.

“Barangsiapa yang menahan kemarahannya terhadap orang lain, maka Allah akan menghindarkannya dari siksa api neraka.”

Manusia terkuat.

“Barangsiapa ingin menjadi manusia terkuat, hendaknya bertawakal kepada Allah.”

Selalu meningkat, bukan malah mundur.

“Barangsiapa yang dua harinya sama, maka ia telah rugi, barangsiapa yang satu harinya lebih jelek, maka ia terlaknat, barangsiapa yang (kebaikannya) tidak bertambah sama sekali, maka ia berada dalam kekurangan, dan barangsiapa yang berada dalam kekurangan, maka kematian lebih baik baginya.”

Berbuat kebajikan kepada orang lain.

“Hak saudaramu yang paling vital adalah jangan kau menutupi sesuatu yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya.”

Menghindari bergurau.

“Hindarilah bergurau, karena bergurau dapat melenyapkan cahaya imanmu.”

Nasihat alam semesta.

“Jika engkau merenungkan ciptaan (yang ada di dunia ini), niscaya engkau akan melihat nasihat di dalamnya bagimu.”

Yang memahami nilai kebajikan.

“Barangsiapa yang tidak pernah merasakan kesulitan, maka ia tidak akan pernah memahami nilai kebajikan orang lain.”

_______________

Imam Musa al-Kadzim موسی بن جعفر
744-799 M; Gelar: al-Kadzim
Pemimpin umat Islam Syi’ah pada saat terjadi perpecahan antara pengikut Ismailiyah dan pengikut lainnya setelah kematian Ja’far ash-Shadiq. Beliau membuat sistem pengumpulan ghanimah di daerah Timur Tengah dan Khurasan.

Nasihat Imam Ja’far Ash-Shadiq AS

16 Januari 2011

Sulaiman ibn Mahrân berkata, “Aku masuk menjumpai Imam Ja’far ibn Muhammad ash Shadiq as, ketika itu di sisi beliau ada beberapa orang Syi’ah, beliau as bersabda:

معاشِرَ الشيعَةِ! كونُوا لنا زينًا وَ لاَ تكونوا علينا شَيْنًا، و احفَظُوا أَلْسِنَتَكُمْ و كُفُّها عن الفُضُولِ و قُبْحِ القولِ

“Wahai sekalian Syi’ah! Jadilah kalian penghias bagi kami dan jangan jadi pencoreng kami. Katakan yang baik-baik kepada manusia, jagalah lisan-lisan kalian, tahanlah dia dari kelebihan berbicara dan omongan yang jelek.”[1]

يا معشرَ الشيعَةِ! إِنَّكُمْ نُسِبْتُمْ إلينَا، كونوا لنا زينًا وَ لاَ تكونوا علينا شَيْنًا

“Hai sekalian Syi’ah! Sesungguhnya kalian telah dinisbatkan kepada kami, jadilah penghias bagi kami dan jangan menjadi pencoreng!”[2]

رَحِمَ اللهُ عَبْدًا حَبَبَنَا إلى الناسِ لا يُبَغِّضُنا إليهِمْ. وايمُ اللهِ لَوْ يرْوونَ مَحاسِنَ كلامِنا لَكانوا أَعَزَّ، و ما استَطاعَ أَحدٌ أَنْ يَتَعَلَّقَ عليهِمْ بشيْئٍ

“Semoga Allah merahmati seorang yang mencintakan kami kepada manusia dan tidak membencikan kami kepada mereka. Demi Allah, andai mereka menyampaikan keindahan ucapan-ucapan kami pastilah mereka lebih berjaya dan tiada seorangpun yang dapat bergantung atas (menyalahkan) mereka dengan sesuatu apapun.”[3]

Dalam salah satu pesannya melalui sahabat beliau bernama Abdul A’lâ, Imam Ja’far bersabda:

يَا عبدَ الأعلى … فَأَقْرَأْهُمْ السلام و رحمة الله و قل: قال لكم: رَحِمَ اللهُ عبْدًا اسْتَجَرَّ مَوَدَّةَ الناسِ إلى نفسِهِ و إلينا بِأَنْ يُظْهِرَ ما يَعْرِفُونَ و يَكُفَّ عنهُم ما يُنْكِرُونَ

“Hai Abdul A’lâ, sampaikan salam kepada mereka (syi’ahku) dan katakan kepada mereka bahwa Ja’far berkata kepada kalian, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang menarik kecintaan manusia kepada dirinya dan kepada kami dengan menampakkan apa-apa yang mereka kenal dan menahan dari menyampaikan apa-apa yang tidak mereka kenal.”[4]

Abu Shabâh al Kinani berkata, “Aku berkata kepada Abu Abdillah (Imam Ja’far) as, ‘Di kota Kufah kami diperolok-olokkan karena (mengikuti tuan), kami diolok-olok ‘Ja’fariyah’. Maka Imam murka dan bersabda:

إنَّ أصحابَ جعفر مِنكُم لَقليلٌ، إنما أصحابُ جَعْفَر مَنْ اشْتَدَّ وَرَعُهُ و عَمِلَ لِخالِقِهِ

“Sesungguhnya pengikut Ja’far di antara kalian itu sedikit. Sesungguhnya pengikut Ja’far itu adalah orang yang besar kehati-hatiannya dan berbuat untuk akhiratnya.’”[5]

Bassâm berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah as bersabda:

إنَّ أَحَقَّ الناسِ بالورعِ آلُ محمدٍ و شِيْعَتُهُم

“Yang paling berhak bersikap wara’ adalah keluarga Muhammad dan Syi’ah mereka.[6]

شيعتُنا أهلُ الورعِ و الإجتهادِ، و أهلُ الوقارِ و الأمانَةِ، أهلُ الزهدِ و العبادَةِ. أصحابُ إحدَى و خمسونَ رَكْعَةً في اليومِ و الليلَةِ، القائمونَ بالليلِ، الصائمونَ بالنهار، يَحِجُّونَ البيتَ… و يَجْتَنِبونَ كُلَّ مُحَرَّمٍ

“Syi’ah kami adalah ahli/penyandang wara’ dan bersungguh-sungguh dalam ibadah, pemilik ketenangan/keanggunan dan amanat, penyandang zuhud dan getol beribadah. Pelaksana shalat lima puluh satu rakaat dalam sehari semalam. Berdiri (mengisi malam dengan shalat) puasa di siang hari dan berangkat haji ke tanah suci… dan mereka menjauhkan dri dari setiap yang haram.”[7]

و اللهِ ما شيعَةُ علي (عليه السلام) إلاَّ مَنْ عَفَّ بطنُهُ و فرْجُهُ، و عمل لِخالقِهِ، و رجَا ثوابَهُ، و خافَ عقابَهُ

“Demi Allah, tiada Syi’ah Ali as kecuali orang yang menjaga perutnya dan kemaluannya, berbuat demi Tuhannya, mengharap pahala-Nya dan takut dari siksa-Nya.”[8]

يا شِيْعَةَ آلِ محمَّدٍ، إنَهُ ليسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَملكْ نفسَهُ عندَ الغضَبِ، و لَمْ يُحسِنْ صُحْبَةَ مَن صحِبَهُ، و مرافَقَةَ مَن رافقَهُ، و مصالَحَةَ مَن صالَحَهُ

“Wahai Syi’ah Âli (keluarga) Muhammad, sesungguhnya bukan dari kami orang yang tidak menguasai nafsunya di saat merah, tidak berbaik persahabatan dengan orang yang ia temani, dan tidak berbaik kebersamaan dengan orang yang bermasa dengannya serta tidak berbaik shulh dengan orang yang berdamai dengannya.”[9]

ليسَ مِنْ شيعَتِنا مَنْ يكونُ فِيْ مِصْرَ، يكونُ فيْهِ آلآف و يكون في المصرِ أورَعُ منهُ

“Tidak termasuk dari Syi’ah kami seorang yang bertinggal di sebuah kota yang terdiri dari beribu-ribu masyarakat, sementara di kota itu ada seorang yang lebih wara’ darinya.”[10]

Kulaib ibn Mu’awiyah al Asadi berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ja’far) as bersabda:

و اللهِ إنَّكُمْ لَعلَى دينِ اللهِ و دينِ ملآئكَتِهِ فَأَعِيْنُونِيْ بورَعٍ و اجتهادٍ. عليكُمْ بصلاةِ الليلِ و اعبادَةِ، عليكم بالورعِ

“Demi Allah kalian benar-benar berada di atas agama Allah dan agama para malaikat-Nya, maka bantulah aku dengan wara’ dan kesungguh-sungguhan dalam ibadah. Hendaknya kalian konsisten shalat malam, beribadah. Hendaknya kalian konsisten berpegang dengan wara’.”[11]

شيعتُنا أهلُ الورعِ و الإجتهادِ ، و اهلُ الوفاء و الأمانةِ، و أهل الزهدِ و العبادةِ، أصحابُ إحدِىَ و خمسينَ ركعَةً في اليومِ و الليلَةِ، و القَائِمُونَ باللَّيلِ، الصائِمونَ بالنهارِ ،يُزَكُّوْنَ أَموالَهُمْ ، و يَحِجُّوْنَ البيتَ و يَجْتَنِبُوْنَ كُلَّ مُحَرَّمٍ

“Syi’ah kami adalah ahli (penyandang) wara’, dan bersungguh-sungguhan dalam ibadah, ahli menepati janji dan amanat, ahli zuhud dan ibadah, ahli (pelaksanaan) salat lima puluh satu raka’at dalam sehari, bangun di malam hari, puasa di siang hari, menzakati hartanya, melaksanakan haji, dan menjauhkan diri dari setiap yang diharamkan.”[12]

_______________

[1] Amâli ath Thûsi, 2/55 dan Bihar al Anwâr, 68/151.

[2] Misykât al Anwâr, 67.

[3] Ibid., 180.

[4] Bihal al Anwâr, 2/77.

[5] Al Bihar, 68/166.

[6] Bisyâratul Mushthafa, 17.

[7] Al Bihâr, 68/167.

[8] Ibid., 168.

[9] Ibid., 266.

[10] Ibid., 164.

[11] Bisyâratul Mushthafa, 55 dan 174, dan Al Bihâr, 68/87.

[12] Shifâtusy Syi’ah, 2 dan al Bihâr, 68/167 hadits 33.

_______________

Imam Ja’far ash-Shadiq جعفر بن محمد
702-765 M; Gelar: ash-Shadiq
Beliau mendirikan ajaran Ja’fariyyah dan mengembangkan ajaran Syi’ah. Ia mengajari banyak murid dalam berbagai bidang, diantaranya Imam Abu Hanifah dalam Fiqih, dan Jabir Ibnu Hayyan dalam Alkimia.

%d blogger menyukai ini: