Archive for the 'Penjelasan Syī’ah' Category

Hukum Shalat Tarawih

25 Agustus 2011

Allah swt berfirman kepada Rasulullah saww:

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Aali Imran: 31)

Dan perintah Allah kepada umat Muhammad:

“…apa yang diberikan Rasul kepada kalian, Maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian, Maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS Al-Hasyr: 7)

Dan firman Allah:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS Al-Ahzab: 36)

Semua pemeluk agama Islam pengikut Muhammad Rasulullah saww pasti meyakini bahwa bid’ah adalah perbuatan yang harus dijauhi. Hal itu karena terlampau banyak hadits Rasul, baik dalam kitab standar Ahlus-sunnah maupun Syiah, yang melarang dengan keras dan tegas kepada segenap umatnya dalam pelaksanaan bid’ah. Bahkan dalam beberapa hadits disebutkan bahwa berkumpul dengan pelaku bid’ah pun dilarang, apalagi melakukan bid’ah. Hal itu karena imbas dari ajaran Islam yang mengajarkan ajaran Tauhid, termasuk Tauhid dalam penentuan hukum agama. Jangankan manusia biasa, Rasulullah pun dilarang untuk membikin-bikin hukum agama. Beliau hanya berhak menyampaikan hukum Allah saja, tanpa diperkenankan untuk menambahi maupun menguranginya. Pelaku bid’ah dapat divonis sebagai penentang dalam masalah Tauhid penentuan hukum yang menjadi hak prerogatif Tuhan belaka. Hanya Dia yang memiliki otoritas mutlak untuk itu.

Pada kesempatan kali ini, kita akan menengok kembali hukum ‘Shalat Tarawih’ di bulan suci Ramadhan yang seringnya dilakukan secara berjamaah oleh kebanyakan kaum muslimin, tidak terkecuali di Indonesia. Apakah Rasul pernah mencontohkannya ataukah tidak? Siapa pertama kali yang mempolopori pelaksanaan shalat tarawih berjamaah, dan dengan alasan apa? Jika Rasul tidak pernah mencontohkannya, bahkan memerintahkan untuk shalat sendiri-sendiri, maka pelaksanaannya secara berjamaah apakah tidak termasuk kategori bid’ah, sedang Rasul dalam haditsnya pernah bersabda: “Setiap bid’ah adalah sesat” (Kullu bid’atin dhalalah) dimana ungkapan ini meniscayakan bahwa tidak ada lagi pembagian bid’ah menjadi ‘baik’ (hasanah) dan ‘sesat’ (dhalalah).

Kita akan mulai dengan apa yang dinyatakan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya yang dinukil dari Abdurrahman bin Abdul Qori yang menjelaskan: “Pada salah satu malam di bulan Ramadhan, aku berjalan bersama Umar (bin Khattab). Kami melihat orang-orang nampak sendiri-sendiri dan berpencar-pencar. Mereka melakukan shalat ada yang sendiri-sendiri ataupun dengan kelompoknya masing-masing. Lantas Umar berkata: ‘Menurutku alangkah baiknya jika mereka mengikuti satu imam (untuk berjamaah).’ Lantas ia memerintahkan agar orang-orang itu melakukan shalat di belakang Ubay bin Ka’ab. Malam berikutnya, kami kembali datang ke masjid. Kami melihat orang-orang melakukan shalat sunnah malam Ramadhan (tarawih) dengan berjamaah. Melihat hal itu lantas Umar mengatakan: ‘Inilah sebaik-baik bid’ah!'” (Shahih Bukhari jilid 2 halaman 252, yang juga terdapat dalam kitab al-Muwattha’ karya Imam Malik halaman 73).

Dari riwayat di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa: pertama, shalat tarawih berjamaah tidak pernah dilakukan sebelum adanya perintah dari Umar; kedua: pertama kali shalat tarawih berjamaah diadakan pada zaman Umar sebagai khalifah. Sedang pada masa Rasul maupun khalifah pertama (Abu Bakar) tidak pernah ada; ketiga: atas dasar itulah maka Umar sendiri mengakui bahwa ini adalah ‘hasil pendapat pribadinya’ sehingga ia mengatakan: “Ini adalah sebaik-baik bid’ah” (Nimatul bid’ah hadzihi). Sekarang yang menjadi pertanyaan: Bolehkah seorang manusia biasa mengada-ngada dengan dasar ‘pendapat pribadinya’ untuk membikin hukum peribadatan dalam Islam? Apa hukum mengada-ngada tersebut? Bagaimana memvonis pengada-ngada dan pelaksana hukum bikinan (baca: bid’ah) tersebut?

Kini kita lihat pengakuan beberapa ulama Ahlus-sunnah tentang hakekat hukum shalat tarawih berjamaah itu sendiri. Di sini kita akan mengambil beberapa contoh dari pribadi-pribadi tersebut. Al-Qosthalani dalam mensyarahi ungkapan Umar (“Ini adalah sebaik-baik bid’ah”) dalam kitab Shahih Bukhari tadi mengatakan: “Ia mengakui bahwa itu adalah bid’ah karena Rasul tidak pernah memerintahkanya sehingga shalat sunah di malam Ramadhan harus dilakukan secara berjamaah. Pada zaman Abu Bakar pun tidak pernah ada hal semacam itu. Begitu pula tidak pernah ada pada malam pertama Ramadhan (di malam hari keluarnya perintah Umar tadi. red). Juga dalam kaitannya dengan jumlah rakaat (shalat tarawih) yang tidak memiliki asal” (Irsyad as-Sari jilid 5 halaman 4). Ungkapan dan penjelasan semacam ini juga dapat kita temukan dalam kitab Fathul Bari, Umdah al-Qori dan beberapa kitab lain yang dikarya untuk mensyarahi Shahih Bukhari. As-Suyuthi dalam kitab “Tarikh al-Khulafa’” menjelaskan bahwa, pertama kali yang memerintahkan untuk melakukan shalat tarawih secara berjamaah adalah Umar bin Khatab. Ini pula yang diungkapkan oleh Abu Walid Muhammad bin Syuhnah dalam mengisahkan kejadian tahun 23 H. Sebagaimana juga diakui oleh Muhammad bin Saad sebagaimana yang tercantum dalam jilid ketiga kitab “at-Tabaqoot” sewaktu menyebut nama Umar bin Khatab. Juga yang dinyatakan oleh Ibnu Abdul Bar dalam kitab “al-Isti’ab” sewaktu mensyarahi pribadi Umar bin Khatab. Jadi jelas sekali dan tidak dipungkiri oleh siapapun bahwa; shalat tarawih secara berjamaah adalah ibadah yang tidak pernah dicontohkan apalagi diperintahkan oleh baginda Rasulullah sehingga hal itu tergolong bid’ah yang harus dijauhi oleh setiap pribadi muslim yang mengaku cinta dan taat kepada pribadi mulia Rasulullah.

Sementara, dalam hadits-hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah dengan keras melarang umatnya untuk melakukan shalat sunnah secara berjamaah. Sebagai contoh, dalam sebuah hadits sahih disebutkan bahwa Rasul pernah bersabda: “Hendaknya atas kalian untuk melakukan shalat di rumah kalian, karena sebaik-baik shalat adalah yang dilakukan di rumah, kecuali shalat fardhu (wajib).” (Shahih Muslim dengan Syarh Imam Nawawi jilid 6 halaman 39, atau pada kitab Fathul Bari jilid 4 halaman 252).

Dengan menggabungkan empat argumen di atas tadi –(1) perintah mengikuti Rasul sehingga mendapat ridho Allah, (2) larangan melakukan bid’ah, (3) shalat tarawih tidak dicontohkan Rasul yang meniscayakan bid’ah dalam peribadatan dan (4) perintah Rasul untuk melakukan shalat sunah di rumah, secara sendiri-sendiri- maka banyak dari ulama Ahlus-sunnah sendiri yang mereka melakukan shalat tarawih di rumah masing-masing, tidak berjamaah di masjid ataupun mushalla. Malah dalam kitab “al-Mushannaf” disebutkan, Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan, bahwa “Ibnu Umar tidak pernah melakukan shalat tarawih berjamaah.” Dan dalam kitab yang sama, Mujahid mengatakan: “Pernah seseorang datang kepada Ibnu Umar dan bertanya: ‘Pada bulan Ramadhan, apakah shalat tarawih kita lakukan dengan berjamaah?’ Ibnu Umar berkata: ‘Apakah kamu bisa membaca al-Quran?’ Ia (penanya tadi) menjawab: ‘Ya!’ Lantas Ibnu Umar berkata: ‘Lakukan shalat tarawih di rumah!'” (Al-Mushannaf jilid 5 halaman 264 hadits ke-7742 dan ke-7743).

Namun, sebagian dari ikhwan Ahlsunnah mengelak bahwa itu (tarawih berjamaah) adalah bid’ah berargumen dengan beberapa dalil. Di sini kita akan sebutkan sandaran mereka dengan kritisi ringkas atas dalil yang mereka kemukakan.

Ada dua hadits yang sering dijadikan argumen sebagai landasan hukum legalitas shalat tarawih berjamaah di bulan Ramadhan:

1- Ummul Mukmin Aisyah berkata: “Pada satu pertengahan malam, Rasulullah keluar dari rumah untuk melaksanakan shalat di masjid. Beberapa orang mengikuti shalat beliau (sebagai makmum. red). Masyarakatpun mulai berdatangan karena kabar yang tersebar. Hal itu berjalan hingga malam ketiga. Masjidpun menjadi penuh. Pada malam keempat, setelah melaksanakan shalat Subuh Rasul berkhutbah di depan masyarakat dengan sabdanya: ‘…Aku khawatir perbuatan ini akan menjadi (dianggap) kewajiban sedang kalian tidak dapat melaksanakannya.’ Sewaktu Rasulullah meninggal, suasana menjadi sedia kala.” (Shahih Bukhari jilid 1 halaman 343)

Menjadikan hadits di atas sebagai dalil akan legalitas shalat tarawih berjamaah sangatlah lemah dan tidak sempurna. Karena di dalam teks hadits tersebut jelas sekali, bahwa tidak ada penjelasan bahwa itu terjadi pada bulan Ramadhan sehingga itu menunjukkan shalat tarawih. Selain karena hadits itu secara sanadnya terdapat pribadi yang bernama Yahya bin Bakir yang dihukumi lemah (dhaif) dalam meriwayatkan hadits. Hal itu bisa dilihat dalam kitab “Tahdzibul Kamal” jilid 20 halaman 40 dan atau Siar A’lam an-Nubala’ jilid 10 halaman 612. Apalagi jika kita kaitkan dengan pengakuan sahabat Umar sendiri yang mengatakan bahwa tarawih adalah: “Sebaik-baik bid’ah,” sebagaimana yang telah kita singgung di atas.

2- Ibn Wahab menukil dari Abu Hurairah yang meriwayatkan, bahwa suatu saat Rasul memasuki masjid. Beliau melihat para sahabat di beberapa tempat sedang sibuk melaksanakan shalat. Beliau bertanya: “Shalat apa yang mereka lakukan?” Dijawab: “Sekelompok sedang melakukan shalat dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab.” Rasul lantas bersabda: “Apa yang mereka lakukan benar dan mereka telah melakukan kebaikan.” (Fathul Bari jilid 4 halaman 252).

Menjadikan hadits ini sebagai pembenar pelaksanaan shalat tarawih berjamaah pun tidak benar, karena dalam teks hadits jelas tidak dinyatakan shalat apakah yang sedang mereka laksanakan, shalat tarawihkah ataukah shalat fardhu (shalat wajib). Selain itu, Ibnu Hajar sendiri (penulis kitab “Fathul Bari” tadi) setelah menukil hadits tersebut menyatakan kelemahan hadits tersebut dari dua sisi, pertama: terdapat pribadi yang bernama Muslim bin Khalid yang lemah (dhaif) dalam meriwayatkan hadits; kedua: dalam hadits ini disebutkan bahwa Rasul yang mengumpulkan orang-orang agar shalat di belakang Ubay bin Ka’ab, padahal yang terkenal (ma’ruf) adalah sahabat Umar-lah yang mengumpulkan orang-orang untuk shalat bersama Ubay bin Ka’ab.

Dari sini jelaslah, bahwa pelaksanaan ‘ibadah shalat tarawih berjamaah’ bukan hanya tidak pernah diperintahkan oleh Rasul, bahkan Rasul sendiri tidak pernah mencontohkannya. Dan terbukti pula bahwa sahabat umar-lah yang mempelopori ibadah tersebut. Padahal kita tahu bahwa ‘penentuan amal ibadah’ adalah hak mutlak Allah yang dijelaskan melalui lisan suci Rasulullah. Rasul sendiri tidak berhak menentukan suatu amal ibadah, apalagi manusia biasa, walaupun ia tergolong sahabat. Oleh karenanya, sahabat Umar sendiri mengakui bahwa itu adalah bagian dari Bid’ah. Sedang kita tahu bahwa semua bid’ah adalah sesat, sehingga tidak ada lagi celah untuk membagi bid’ah kepada baik dan tidak baik.

Semoga dalam bulan suci Ramadhan ini kita bisa mengamalkan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, termasuk menjauhi segala macam jenis bid’ah seperti melaksanakan shalat tarawih berjamaah. Karena bagaimana mungkin kita akan dapat mendekatkan diri kepada Allah swt namun jalan dan sarana yang kita tempuh adalah melalui perbuatan yang dibenci oleh Allah, seperti bid’ah. Mustahil sesuatu yang menjauhkan dari Allah (seperti Bid’ah) akan dapat mendekatkan kepada-Nya (masuk kategori ibadah). Ini adalah dua hal kontradiktif yang mustahil terjadi. Semoga dengan menjauhi semua bid’ah kita dapat meninggalkan bulan Ramadhan dengan kembali ke fitrah yang suci, melalui Iedul Fitri. Amin.

Iklan

Rasulullah saww bersabda, “Hai Ali, engkau dan Syi’ah-mu adalah sebaik-baik makhluk.”

29 Mei 2011

Di dalam Bab II, “Sawaiq al-Muhriqah”, Ibn Hajar mencatatkan Hafiz Jamaluddin Mohammad bin Yusuf Zarandi Madani (seorang faqih dan ulama di kalangan mazhab Sunni) yang mengatakan, “… tatkala engkau dan pengikut-pengikut (Syi’ah) engkau akan datang pada Hari Pembalasan kelak di dalam keadaan diridhai Allah dan Allah ridha terhadap kamu semua. Musuh-musuh engkau akan berasa cemburu dan tangan mereka akan dibelenggu ke leher mereka.” Kemudian Ali as bertanya siapakah musuhnya. Rasulullah saww menjawab, “Orang-orang yang memusuhi engkau dan yang menghina engkau.” Allamah Samhudi di dalam “Jawahirul”, dengan pengesahan Hafiz Jamaluddin Zarandi Madani dan Nuruddin Ali bin Mohammad bin Ahmad Maliki Makki yang terkenal sebagai Ibn Sabbagh, yang dianggap sebagai ulama yang berwibawa dari kalangan ulama Sunni dan juga seorang ahli ilmu kalam, di dalam bukunya “Fusul al-Muhimmah”, pada halaman 122, memetik dari Abdullah bin Abbas bahwa, ketika ayat tersebut diwahyukan Rasulullah saww bersabda kepada Ali as, “Engkau dan Syi’ahmu. Engkau dan merekalah yang akan datang di Hari Pembalasan kelak dengan penuh keridhaan dan kepuasan, manakala musuh-musuh engkau akan datang dengan kesedihan dan terbelenggu tangan-tangan mereka.”

Mir Syed Ali Hamdani Syafie, salah seorang daripada ulama Sunni yang terpercaya, menyebut di dalam bukunya “Mawaddatul Qurba.” Juga Ibn Hajar, seorang yang terkenal sebagai anti-Syi’ah di dalam bukunya “Sawaiq al-Muhriqah” meriwayatkan dari Ummul Mukminin Ummu Salamah, isteri Nabi saww, bahwa Rasulullah saww bersabda, “Hai Ali, engkau dan Syi’ahmu akan kekal di dalam Syurga, engkau dan Syi’ahmu akan kekal di dalam Syurga.”

Seorang ulama yang terkemuka, Khawarazim Muaffaq bin Ahmad di dalam “Manqib”nya, Bab 19, meriwayatkan dari Rasulullah saww di atas pengesahan yang tidak dapat diragukan, bahwa Baginda Nabi bersabda kepada Ali as, “Di kalangan umatku, engkau adalah seumpama Isa al-Masih Ibn Mariam as, yakni sebagaimana pengikut Nabi Isa as yang telah berpecah kepada tiga kelompok, yaitu yang benar-benar beriman yang dikenali sebagai Hawariyyin, penentangnya yaitu orang-orang Yahudi dan satu lagi golongan yang melampaui batas, yang menyamakan beliau dengan sifat-sifat ketuhanan. Seperti itu juga umat Muslim, yang akan berpecah kepada tiga kelompok terhadap engkau. Salah satu dari mereka adalah Syi’ahmu, dan mereka inilah golongan yang benar-benar beriman. Yang lainnya adalah musuh-musuh engkau dan mereka itulah yang memungkiri janji-janji untuk taat setia kepadamu, dan yang ketiganya adalah golongan yang melampaui batas mengenai kedudukan engkau dan mereka adalah orang-orang yang menolak kebenaran serta tersesat. Jadi, engkau, hai Ali, dan juga Syi’ahmu akan berada di dalam Syurga, dan juga orang-orang yang mencintaimu akan berada di dalam Syurga sedangkan musuh-musuhmu dan mereka yang berlebih-lebihan terhadapmu akan berada di dalam Neraka.”

_______________

Dikutip dari:
Dialog Sunni-Syi’ah di Peshawar
Swaramuslim Cyber Book


Al-Quran Sunni-Syiah Satu, Tiada Perobahan dalam Al-Quran

1 Mei 2011

Semakin banyak tulisan yang menyebutkan bahwa kaum Syiah memiliki Al-Quran yang berbeda, hal ini menjadi salah satu alasan kafirnya Syiah dari sekian banyak tuduhan yang tidak berdasar. Tuduhan yang mengatakan bahwa kaum Syiah mempunyai Al-Quran yang berbeda sangatlah tidak adil.

Kaum Syiah meyakini tidak terjadinya tahrif di dalam Al-Quran dari zaman kapan pun sampai zaman kapan pun. Bukankah Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surah Al-Hijr ayat 9, “Sungguh Kamilah yang menurunkan Al-Quran dan sungguh Kamilah yang menjaganya.”

Tidak dapat disangkal bahwa di dalam kitab hadis Syiah terdapat riwayat yang menyebutkan hal tersebut, namun perlu diingat bahwa kitab tersebut, Al-Kafi, bukanlah kitab hadis yang shahih, sebagaimana Shahih Bukhari atau Muslim.

Seorang ulama Syiah, Sayid Hasyim Ma’ruf Al-Hasani, pernah melakukan penelitian dan menyatakan bahwa Al-Kafi berisi 16.199 hadis; diantaranya 5.072 dianggap shahih, 144 hasan, 1128 nuwatstsa’, 302 qawiy, dan 9.480 hadis dhaif. Pengklasifikasian itu pun baru berdasarkan keabsahan sanad, belum isinya (matan).

Penolakan Tahrif (Perobahan) Al-Quran oleh Ulama Syiah

Abu Ja’far Muhammad ibn Ali ibn Husain ibn Babawaih Al-Qummiy (Ash-Shaduq): “Keyakinan kita tentang Al-Quran yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yaitu ada di antara dua sisi kitab yang berada di tangan kaum Muslim dan tidak lebih dari itu. Maka barang siapa yang mengatakan bahwa kami meyakini yang lebih dari itu, pastilah orang tersebut berbuat dusta.”

Syaikh Thaifah Abu Ja’far Muhammad ibn Hasan Ath-Thusiy: “Pembicaraan tentang adanya penambahan dan pengurangan pada Al-Quran adalah sesuatu yang tidak pantas… Dan itulah yang sesuai dengan kebenaran dari mazhab kita. Itulah yang dibela Al-Murtadha (Imam Ali ibn Abi Thalib AS), yang tampak dari banyak riwayat…”

Abu Ali Thabarsi: “…Adapun tentang adanya penambahan pada Al-Quran maka hal tersebut disepakati sebagai sesuatu yang batil…”

Sayid Ibnu Thawus: “Imamiyah yakin tidak ada tahrif dalam Al-Quran.”

Syaikh Muhammad ibn Hasan Al-Hurr Al-Amiliy: “Barang siapa mau meneliti tarikh, riwayat-riwayat dan atsar, maka dia tahu dengan pasti bahwa Al-Quran telah ditetapkan pada tingkat ke-mutawatir-an yang sangat kuat, dan dengan penukilan ribuan sahabat, dan bahwa Al-Quran telah tersusun dan terkumpul rapi pada masa Rasulallah SAW.”

Syaikh Abu Zuhrah: “Sejumlah ulama besar Imamiyah yang diketuai Al-Murtadha, Syaikh Thusi, dan lain-lain menolak…”

Ayatullah Sayid Burujerdi: “Merupakan suatu kemestian logis untuk menolak (tahrif) dan kabar-kabar yang menolak kemurnian ayat Al-Quran amat sangat lemah dan bertentang dengan hadis yang pasti (qath’i) dan mesti (dharurah), malah bertentangan dengan tujuan kenabian.Kemudian, sungguh sangat mengherankan adanya sebagian orang-orang yang mempertahankan kabar angin ini, lisan maupun tulisan yang tersimpan selama lebih dari tiga belas abad, yang menyatakan bahwa ada penghapusan ayat-ayat dalam Al-Quran Al-Majid.”

Allamah Syahsyahani: “Hadis-hadis ini tidak pantas diperhatikan bila ditinjau dari segi sanadnya. Tidak ada seorang pun yang menyatakan bahwa ada satu ayat saja dari hadis itu yang shahih… Hadis-hadis ini bertentangan dengan hadis-hadis mutawatir yang lebih kuat, dan sesuai dengan Al-Quran, sunnah, akal sehat, dan kesepakatan.”

Imam Khomaini: “Lemah, tidak pantas berdalil dengannya.”

Dan masih banyak ulama-ulama Syiah yang menolak perubahan Al-Quran, seperti Zainuddin Al-Bayadli, Al-Muqaddas Al-Baghdadi, Kasyful-Ghitha, Sayid Muhammad Jawad Al-Balaghiy, Sayid Muhammad Thabathaba’i Bahrul-Ulum, Ayatullah Kuh Kamariy, Sayid Muhsin Al-Amin Al-Amiliy, Sayid Muhammad Mahdi Syirazy, dll. Oleh karena di dalam kitab Al-Kafi terdapat hadis yang lemah, maka juga terdapat periwayat (rawi) yang lemah. Seperti Abi Al-Jarud Ziyad ibn Mundzir As-Sarhub (pemimpin sekte Jarudiyah/Sarhubiyah), Ahmad ibn Muhammad As-Sayyari, Mankhal ibn Jamil Al-Kufi, Muhammad ibn Hasan ibn Jumhur, dll.

Itulah akidah Syiah Imamiyah terhadap Al-Quran yang tidak mengalami pengurangan atau penambahan hingga akhir zaman. Jadi apabila masih ada yang mengatakan bahwa Syiah memiliki Al-Quran yang berbeda, itu merupakan hal dusta, dan lebih konyol lagi ada yang mengatakan bahwa Jibril AS salah menyampaikan wahyu yang seharusnya diturunkan kepada Imam Ali AS. Pastilah kaum Syiah akan menertawakannya.

Al-Quran yang ada di Iran pun (yang notabene mayoritas Syiah) tidak sedikit yang didatangkan/dicetak dari Beirut (Lebanon) dan Kairo (Mesir). Iran pun mengadakan MTQ Internasional yang dihadiri negara-negara Timur Tengah, bahkan kalau tidak salah Indonesia pernah mengirim wakilnya. Entah bagaimana jadinya jika Quran yang dibaca wakil Iran berbeda? Pastilah juri akan pusing menilainya…

Pernah di kampus ada seminar tentang “Dikotomi Sunni Syiah” dan tema Al-Quran Syiah pun sempat ditanyakan. Pak Miftah (sebagai pembicara dari Syiah nya) menjelaskan, “Jadi perbedaan antara Al-Quran Syiah dan (Ahlus) Sunnah hanya terletak pada jenis kertas saja. Di Iran dicetak dengan jenis kertas yang paling mahal dan di dalamnya terdapat keindahan, karena Al-Quran merupakan kalamullah.” Jadi kaum Syiah di Indonesia tidak perlu impor Quran dari Iran, karena Quran nya sama.

Hadis Perubahan Al-Quran dalam Kitab Ahlus Sunnah

Seperti yang sudah disebutkan bahwa Al-Kafi bukanlah kitab shahih, yang hadisnya pun sampai sekarang masih diteliti, makanya tidak bernama “Shahih Al-Kafi”. Lucunya (atau tidak lucunya) di dalam kitab Ahlus Sunnah, yang bernama Shahih Bukhari atau Shahih Muslim, juga terdapat hadis tentang perubahan Al-Quran. Bedanya, ini kitab shahih! Tentu saja shahih menurut penulisnya. Jadi di dalam Shahih Bukhari atau Muslim tidak perlu pengklasifikasian hadis, karena semuanya shahih (menurut saudara Ahlus Sunnah).

Tentang Surah Al-Lail

Dari Qabshah ibn Uqbah yang berasal dari Ibrahim ibn Al-Qamah. Ia berkata kepada kami: “Saya bersama pengikut Abdullah ibn Ubay datang ke Syam. Abu Darda’ yang mendengar kedatangan kami segera datang dan bertanya: ‘Adakah di antara kalian yang membaca Al-Quran?’ Orang-orang menunjuk saya. Kemudian ia berkata: ‘Bacalah!’ Maka saya pun membaca: Wal-Laili idzaa yaghsyaa, wan-nahaari idzaa tajallaa, wadzdzakraa wal-untsaa… Mendengar itu dia bertanya: ‘Apakah engkau mendengar dari mulut temanmu Abdullah ibn Ubay?’ Saya menjawab: ‘Ya.’ Ia melanjutkan: ‘Saya sendiri mendengarnya dari mulut Nabi SAW. Dan mereka menolak untuk menerimanya’.” (Shahih Bukhari, Kitab At-Tafsir, bab Surah wal-Laili idzaa yaghsyaa; pada catatan kaki As-Sanadiy, jilid III, hlm. 139; jilid VI, hlm. 21; jilid V, hlm. 35; Musnad Ahmad, jilid VI, hlm. 449, 451; Ad-Durr Al-Mantsur, jilid VI, hlm. 358 dari Said ibn Manshur, Ahmad Abd ibn Hamid, Bukhari, Muslim, Turmudzi, Nasa’i, Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir, Ibnu Marduwaih, Ibn Al-Qamah, dll.) Padahal yang tertulis dalam Al-Quran sekarang adalah Wal-Laili idzaa yaghsyaa, wan-nahaari idzaa tajallaa, wamaa khalaqadzdzakraa wal-untsaa…

Ayat Rajam

Umar ibn Khaththab berkata: “Bila bukan karena orang akan mengatakan bahwa Umar menambah (ayat) ke dalam Kitab Allah, akan kutulis ayat rajam dengan tanganku sendiri.” (Shahih Bukhari, bab Asy-Syahadah ‘indal-Hakim fi Wilayatil-Qadha; Al-Itqan, jilid II, hlm. 25-26; Ad-Durr Al-Mantsur, jilid I, hlm. 230; jilid V, hlm. 179 dari Imam Malik, Bukhari, Muslim, dan Ibnu Dhurais, dan hlm. 180 berasal dari Nasa’i, Ahmad, Ibnu Auf; Musnad Ahmad, jilid I, hlm. 23, 29, 36, 40, 43, 47, 50, 55; jilid V, hlm. 132, 183; Hayat Ash-Shahabah, jilid II, hlm. 12; jilid III, hlm. 449) Jadi, Umar meyakini Ayat Rajam itu ada dalam Al-Quran, tapi kenyataannya tidak ada. Tapi Umar tidak menulisnya karena takut ucapan orang-orang bahwa Umar menambah ayat. Seperti itulah yang dijelaskan As-Suyuthi dalam Al-Itqan jilid II, hlm. 26, mengutip tulisan Az-Zarkasyi: “Tampaknya penulisan ayat tersebut boleh saja. Hanya ucapan oranglah yang mencegah (Umar melakukan) hal itu… Seharusnya ayat itu dimasukkan ke dalam Al-Quran, ayat itu semestinya ditulis.” Ayat rajam ini juga pernah disebut-sebut waktu saya (pertama kali) belajar Ulumul-Quran di kampus.

An-Naas dan Al-Falaq

Dinukil dari Ibnu Mas’ud, bahwa dia membuang Surah Mu’awidzdzatain (An-Naas dan Al-Falaq) dari mushhafnya dan mengatakan keduanya tidak termasuk Al-Quran. (Ad-Durr Al-Mantsur, jilid VI, hlm. 146; Ruhul-Ma’ani, jilid I, hlm. 24; Al-Itqan, jilid I, hlm. 79; Fathul-Bari, jilid VIII, hlm. 581)

195 Ayat Surah Al-Ahzab Hilang

Demikian riwayat dari Abdurrazaq yang berasal dari Tsauri, dari Zirr ibn Hubaisy yang berkata: “Ubay ibn Kaab telah bertanya kepada saya: ‘Berapa jumlah ayat yang kalian baca dalam surah Al-Ahzab?’ Saya menjawab: ’73 atau 74 ayat.’ Dia bertanya: ‘Hanya sebanyak itu? Pada mulanya surah tersebut sama panjangnya dengan Al-Baqarah atau lebih. Dan di dalamnya terdapat surah (ayat) rajam.’ Saya bertanya: ‘Wahai Abu Mundzir, bagaimana bunyinya?’ Dia menjawab: ‘Ayat tersebut berbunyi: Idzaa zanayaa asysyaikhu wasy-syaikhah farjamuu…’.” (Al-Itqan, jilid II, hlm. 25; Mushhanaf Abdurrazaq, jilid VII, hlm. 320; Muntakhab Kanzul-Ummal pada catatan kaki Musnad Ahmad, jilid II, hlm. 1) Ternyata ayat rajam tersebut tidak ada dalam Al-Quran, dan tampaknya sama seperti apa yang diucapkan oleh khalifah kedua bahwa ada ayat rajam.

Ada Surah seperti At-Taubah yang Hilang

Abu Harb ibn Abi Aswad meriwayatkan dari ayahnya yang berkata: “Abu Musa Al-Asyari berkunjung ke Basrah untuk menemui para qari di sana. Dia bertemu dengan 300 qari dan berkata kepada mereka: ‘Kalian adalah sebaik-baiknya penduduk Basrah dan qari mereka.’ Maka mereka membaca surah panjang seperti Al-Bara’ah (At-Taubah). Saya lupa surah tersebut. Akan tetapi beberapa ayatnya masih saya hapal, yaitu: …Law kaani li ibni Adam… Demikian pula kami pernah membaca surah mirip dengan satu surah yang diawali shabaha lillaahi. Saya telah lupa surah itu. Hanya beberapa ayatnya masih saya ingat. Di antaranya: Yaa ayyuhalladziina aamanuu limaa taquuluu… (Shahih Muslim, jilid II, hlm. 100; Al-Itqan, jilid II, hlm. 25; Al-Burhan fii Ulumil-Quran, jilid II, hlm. 43)

Ayat Radha’ah yang Hilang

Dari Ummul-Mu’minin Aisyah yang berkata: “Di antara ayat-ayat Al-Quran yang diwahyukan adalah: “‘Asyru radha’aat ma’luumaat yuharramna… (Shahih Muslim, jilid IV, hlm. 167-168; Al-Bidayatul-Mujtahid, jilid II, hlm. 36; Ad-Durr Al-Mantsur, jilid II, hlm. 135)

Awal Surah At-Taubah Hilang dengan Basmalah

Dari Imam Malik: “Ketika awal surah Al-Bara’ah (At-Taubah) hilang, maka basmalah (bismillahirrahmaanirrahiim) pun hilang bersamanya. Padahal sudah pasti sebelumnya surah tersebut sama panjangnya dengan surah Al-Baqarah (Al-Itqan, jilid I, hlm. 65) Sebagaimana diketahui bersama bahwa At-Taubah merupakan satu-satunya surah yang tidak diawali dengan basmalah. Dan terlihat riwayat ini sesuai dengan riwayat sebelumnya bahwa 195 ayat surah At-Taubah hilang, sehingga panjangnya sama seperti Al-Baqarah.

Ayat Ali Mawla Mu’minin

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud yang berkata: “Pada masa Rasulallah kami membaca ayat yang berbunyi: Yaa ayyuharrasuul ballagh maa anzal ilayka min rabbika anna Aliyan mawlal-mu’minin wa in lam… (Ad-Durr Al-Mantsur, jilid II, hlm. 298; At-Tahmid fi Ulumil-Quran, jilid I, hlm. 261) Padahal dalam surah Al-Maidah ayat 67 tidak ada kata-kata Ali, dan kaum Syiah pun menolak adanya kalimat tersebut dalam Al-Quran.

Itulah sebagian riwayat tahrif Al-Quran yang ada dalam kitab Ahlus Sunnah. Jadi baik Syiah maupun Ahlus Sunnah ada riwayat tahrif, bedanya yang satu shahih yang satu lagi tidak shahih (menurut masing-masing). Jadi jangan mengatakan bahwa Syiah mempunyai Quran yang berbeda, sementara di sisi lain ada juga riwayat tahrif dalam kitab shahih. Sudah saatnya berhenti bertikai. Justru kita harus mengamalkan apa yang ada di Al-Quran Al-Karim, insya Allah. Mohon maaf apabila ada kata-kata kurang berkenan. [YAPI]

_______________

Artikel milik: http://islamsyiah.wordpress.com/

%d blogger menyukai ini: