Archive for September, 2010

Imam Ali dan Nahjul Balâghah

25 September 2010

Sementara itu, sebagai seorang ilmuan besar, muwahhid dan ârif, banyak sekali pidato dan kata-kata beliau tentang ketuhanan, tauhid, ilmu-ilmu Al-Quran, kenabian, akhlak dan metode mengelola negara yang berlandaskan Al-Quran serta negara yang adil. Imam Ali as memilik metode tersendiri dalam mengungkapkan masalah-masalah akidah. Beliau telah menyampaikannya dalam bentuk khutbah, risalah, wejangan dan diskusi. Namun dikarenakan beliau tidak sempat menyusunnya, sebagian apa yang beliau sampaikan itu hilang akibat beberapa peristiwa dan sebagian pendapat serta pemikiran beliau telah dikumpulkan dan disusun setelah beliau wafat sejak beberapa waktu yang cukup panjang. Sebagian pidato dan ucapan-ucapan beliau tentang itu semua sampai sekarang masih dapat kita baca dan kita kaji dalam kitab Nahjul Balâghah yang disusun oleh pemikir besar Islam bernama Sayyid Syarif Ridha. Begitu menakjubkan kata-kata Imam Ali dalam kitab itu, sampai-sampai ratusan ulama tertarik menyempatkan diri mengkaji dan memberikan syarah atau komentar.

Tidak ada orang yang membantah kedalaman dan keluasan ilmu beliau yang tak dapat ditandingi oleh siapa pun kecuali Rasulullah saww. Setelah Al-Quran dan hadis Rasul, balaghah dan kefasihan beliau tidak dapat ditandingi siapa saja. Kenyataan ini diakui oleh para ulama dan para ilmuan, termasuk non-Muslim setelah menyaksikan pesona kata-kata Imam Ali dalam Nahjul Balâghah, sebuah kitab kebanggaan umat Islam khazanah warisan peninggalan manusia besar ini. Dalam kitab ini, kita bisa menyaksikan sebagian diantara sekian banyak tanda-tanda yang membuktikan betapa Imam Ali telah menghabiskan usianya dalam renungan, pengkajian dan pembahasan.

Nahjul Balâghah yang terdiri dari pidato dan ucapan-ucapan Imam Ali tersebut, meliputi berbagai macam persoalan, termasuk akidah, pengenalan terhadap Allah, alam semesta dan hukum kuasalitas, keistimewaan manusia serta kondisi berbagai umat, moral, sistem pemerintahan, sosial dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Namun dalam pidato-pidato itu, maksud utama Imam Ali bukan sekedar mengajarkan ilmu-ilmu alam atau teori-teori filsafat. Tujuan utama beliau adalah untuk mengantar manusia ke hakikat yang tinggi melalui ketajaman indera dan logika. Yaitu hakikat yang akan menggiring manusia menuju Sang Khâliq yang Maha Esa. Kitab ini dari segi kesusasteraan dan seni yang memanfaatkan lafaz-lafaz Arab, tiada tara dan tandingnya.

Beliau mengesankan seorang filosof Ilahi terkemuka manakala beliau menerangkan masalah-masalah Tauhîd dan sifat-sifat Allah. Dalam menerangkan masalah Jihad, beliau akan tampak sebagai panglima perang yang pemberani yang sekaligus sangat tajam dan terperinci dalam menjelaskan strategi perang kepada para komandan pasukan bawahannya. Dan yang tak kalah pentingnya adalah ketajaman pemikiran-pemikiran beliau dalam menjelaskan dasar-dasar pemerintahan. Sehingga praktis ahli-ahli sejarah menyebutnya sebagai negarawan. Beliau juga dikenal sangat fasih berbicara mengenai rumus-rumus keterbelakangan dan kemajuan berbagai peradaban serta jalan menuju ketenteraman sosial, politik dan militer.

Syaikh Muhammad Abduh, salah seorang komentator Kitab Nahjul Balâghah mengatakan: “Dalam kalimat-kalimat Imam Ali terlihat hakikat mukjizat. Tokoh besar ini, dengan kalimat-kalimatnya ada kalanya mengantar manusia ke alam supernatural dan ada kalanya pula ia menggiring perhatian manusia kepada suasana alam dunia. Keberanian dan keteguhan telah beliau kristalkan, dan ketika beliau mensifatinya, seorang yang pemberani pun akan bergetar, dan jika ia menjelaskan mengenai cinta dan kasih sayang, orang yang keras hati pun akan tersentuh.”

Mengenai keagungan kitab Nahjul Balagah serta kefasihan dan kebalighan Imam Ali as yang tiada taranya, telah banyak dikemukakan oleh para pemikir termasuk ilmuan dan pemikir non-Muslim. Narse Sean, seorang politikus Inggris ketika berbicara tentang Nahjul Balâghah mengenai Imam Ali mengatakan: “Jika sang pembicara (kalimat-kalimat di Nahjul Balâghah ini sekarang berdiri di mimbar Kufah, maka kalian akan menyaksikan wahai kaum Muslimin bahwa masjid Kufah dengan segala keluasannya akan diterjang gelombang rakyat Maroko untuk menimba lautan ilmu Ali ibn Abi Thalib.”

Pesan-pesan Imam Ali as mengandung berbagai konsep yang sangat bermakna. Ia membukakan pintu bagi manusia menuju Allah. Seorang pengkaji beragama Kristen bernama Amin Nakhlah dalam ucapan yang disampaikannya kepada seseorang yang meminta agar memilihkan kalimat-kalimat indah Imam Ali ibn Abi Thalib yang termuat dalam kitab Nahjul Balâghah menulis dalam bukunya: “Berbinar-binar rasanya manakala kubaca lembaran-lembaran kitab Nahjul Balâghah. Namun aku tidak tahu bagaimana aku harus memilih kalimat-kalimat yang termuat dalam kitab itu. Pekerjaan ini benar-benar ibarat memilih mutiara di antara mutiara-mutiara lain. Namun akhirnya pekerjaan ini selesai juga. Tapi sebenarnya tanganku telah meninggalkan mutiara-mutiara yang lain, karena pandanganku telah dibingungkan oleh cahaya kalimat-kalimat itu. Sejumlah kalimat itu telah kupilih, dan ingatlah bahwa sinar kalimat-kalimat itu adalah cahaya dari kefasihan dan kebalighan (mudah ditangkap dan difahami serta indah) kata-kata Ali ibn Abi Thalib.”

Memang mempelajarai pandangan-pandangan Imam Ali dalam berbagai masalah akan menggiring hati manusia kepada suasana alam yang sangat menakjubkan. Khotbah-khotbah beliau diakui sangat dalam dan penuh makna. Masalah akhlak dan penyucian jiwa dalam khotbah-khotbah beliau juga termasuk masalah yang paling diutamakan. Karena penataran moral sangat berperan dalam usaha membangun masyarakat yang sehat.

Menurut beliau, kejujuran adalah fokus penting dalam masalah-masalah akhlak. Bahkan beliau memandangnya sebagai salah satu tanda keimanan dan mengatakan bahwa seseorang yang jujur selalu mendapat kemuliaan dan pendusta akan jatuh ke jurang kemusnahan.

Dalam pidato Imam Ali dapat kita saksikan bahwa kejujuran adalah salah satu hal yang esensial dalam sebuah kehidupan yang sederhana dan sehat. Imam Ali as dalam sebuah pidatonya mengenai kehidupan yang bahagia menjelaskan sebagai berikut:

“Betapa hinanya seseorang yang bersikap merendah di saat memerlukan dan bersikap angkuh pada saat tidak memerlukan. Memuji seseorang secara berlebihan adalah menjilat dan sebaliknya, memuji seseorang tidak dengan pujian yang semestinya adalah hasud. Seseorang yang mencari-cari kekurangan dan aib masyarakat dan menilainya sebagai keburukan, kemudian aib itu ia terima, maka orang ini tak punya harga diri. Apa yang tidak kau lakukan, janganlah kau ucapkan. Janganlah kau lakukan kebaikan hanya untuk riya’ dan janganlah kau tinggalkan kebaikan hanya karena malu.”

Imam Ali as dalam pidato-pidatonya tidak pernah melepaskan perhatiannya terhadap masalah-masalah manusia dan kehidupan. Setiap poin mengenai itu semua telah beliau sampaikan dalam bentuk ungkapan-ungkapan yang sangat menarik.

Imam Ali as pernah berpesan bahwa seseorang tidak perlu mempersoalkan kekhilafan orang lain selama tidak menggangu kemaslahatan masyarakat. Beliau juga sangat mencela “ghibah” atau mempergunjing orang lain. Imam Ali as berpesan bahwa seseorang demi menjaga akhlaknya dari dosa dan noda hendaknya menyesalinya dengan segala keikhlasan kepada diri sendiri.

Dalam hal ini beliau mengatakan:

“Sesalilah segala sesuatu yang menuntut penyesalanmu jika kau lakukan, karena (orang lain) tidak akan menuntut penyesalan atas perbuatan baik.”

Maksud Imam Ali as ialah seseorang hendaknya tidak keberatan menyatakan penyesalannya jika berbuat hal yang tercela dan membuatnya malu di depan orang lain, begitu pula di depan diri sendiri. Karena ini adalah perbuatan baik, dan perbuatan baik bukan hanya tidak membuat malu seseorang, malah justru memuliakan seseorang.

Diantara masalah penting dalam Nahjul Balâghah adalah masalah hak-hak manusia dan kewajiban setiap individu dalam bermasyarakat. Imam Ali telah membahas masalah ini dalam berbagai kesempatan. Antaranya adalah mengenai hubungan timbal balik antara hak seorang pemimpin dengan rakyat.

Imam Ali as tidak menilai hubungan itu sebagaimana layaknya hubungan penguasa dan rakyat, sehingga seorang pemimpin punya hak mutlak untuk dipatuhi dalam arti tidak ada celah sama sekali bagi rakyatnya untuk mengkritiknya. Hubungan ini, menurut Imam Ali harus didasari rasa tanggungjawab rakyat dan para pemimpin untuk menciptakan keadilan sosial dan maslahat umum. Karena masing-masing memiliki hak dan tugas-tugas tersendiri.

Imam Ali dalam khutbahnya yang ke 34 dalam kitab Nahjul Balâghah mengatakan:

“Wahai masyarakat! Aku selaku pemimpin kalian, memiliki hak atas kalian dan kalianpun punya hak atas diriku. Adapun hak kalian atasku adalah aku harus berkhidmat demi keinginan-keinginan baik kalian. Aku harus menjalankan hak-hak kalian atas baitul-mâl, aku harus mendidik kalian agar tingkat pengetahuan kalian bertambah. Dan dengan demikian kalian akan mengerti hak yang kumiliki atas kalian, yaitu kalian harus menepati janji yang pernah kalian berikan kepadaku, baik di depanku atau tidak, jadilah kalian orang yang baik. Berilah respon yang positif jika aku menyeru kalian untuk mengerjakan sesuatu, dan janganlah kalian berusaha untuk berkelit.”

Dalam pidatonya yang lain, Imam Ali pernah mengingatkan bahwa seorang pemimpin hendaknya tidak menanti pujian dan penghargaan dari masyarakat atas tugas-tugas yang telah ia laksanakan. Imam Ali juga berpendapat bahwa rakyat hendaknya bisa meletakkan posisinya sebagai penasehat pemimpinnya dan tidak perlu takut atau segan menyampaikan kritik bila kebijaksanaannya perlu dikritik. Dalam hal ini, beliau berkata:

“Janganlah kalian berkata kepadaku seperti kata-kata yang biasa disampaikan kepada orang yang zalim. Janganlah kalian keberatan menjelaskan kebenaran sebagaimana kebenaran disembunyikan di depan masyarakat yang murka. Janganlah kalian menjilat dan berlagak di hadapanku. Yakinlah bahwa perkataan yang hak bagiku adalah sangat berharga.”

Sumber: www.irib.ir (Islamic Republic of Iran Broadcasting)

Mazhab Cinta

23 September 2010

Satu-satunya manusia yang dilahirkan di bawah naungan Ka’bah adalah Ali bin Abi Thalib. Ketika ibunya, Fathimah binti Asad, dalam keadaan hamil tua, ia thawaf mengelilingi Ka’bah. Pada saat itulah, datang tanda-tanda bahwa ia akan segera melahirkan. Abu Thalib lalu membawanya masuk ke dalam Ka’bah dan di tempat itulah Ali bin Abi Thalib lahir.

Menurut satu riwayat, ibunya meminta agar anak yang baru lahir itu diberi nama Haidar, yang berarti singa. Kakek dari arah ibunya bernama Asad, yang juga berarti singa. Tetapi Abu Thalib berkata, “Kita tunggu saja sampai Rasulullah (s.a.w) datang.” Masih menurut riwayat ini, Ali kecil tidak mau menyusu kepada ibunya sebelum Rasulullah (s.a.w) datang. Ketika Rasulullah (s.a.w) tiba, ia mengecup Ali dan Ali pun mengecup Nabi. Rasulullah (s.a.w) menamainya ‘Ali yang berarti orang yang memiliki ketinggian. ‘Ali adalah salah satu nama Tuhan. Misalnya dalam ayat, “Wa lâ ya’udduhû hifzhuhumâ wa huwal ‘aliyul ‘azhîm.” (Al-Baqarah 255). Sama halnya dengan nama Muhammad, yang juga merupakan nama Tuhan, seperti dalam hadits Qudsi, “Ana Mahmud, wa anta Muhammad. Aku Tuhan adalah Yang Terpuji dan engkau juga adalah yang terpuji,”

Ali tumbuh besar bersama Rasulullah (s.a.w). Ketika Abu Thalib mengalami kebangkrutan dalam usahanya, ia mengirim putra-putranya ke tempat para saudaranya. Ali bin Abi Thalib diambil oleh Rasulullah (s.a.w). Ia dipelihara di dalam keluarga Nabi bersama Sayyidah Khadijah Al-Kubra. Karena Rasulullah (s.a.w) tidak mempunyai anak laki-laki, Nabi sering memperlakukan Ali bin Abi Thalib sebagai anak laki-lakinya.

Setelah Rasul meninggal dunia, ia sering bercerita bagaimana beliau suka merapatkan tubuhnya kepada tubuh Rasulullah (s.a.w). Imam Ali (k.w) berkata bahwa ia masih dapat mengenang harumnya tubuh Rasul yang mulia. Rasul sangat mencintai Ali dan Ali pun sangat mencintainya.

Kelak pada zaman pemerintahan Muawiyah, Muawiyah menerapkan peraturan yang mengharuskan khatib di setiap akhir khutbahnya untuk melaknat Imam Ali (k.w). Orang dipaksa untuk menghujat Imam Ali (k.w). Ada seorang sahabat Nabi yang pergi ke mimbar untuk melaknat Imam Ali (k.w) tetapi ia hanya berkata, “Demi Allah, ada tiga hal yang menyebabkan aku tidak mungkin mengutuk Ali bin Abi Thalib. Jika salah satu dari tiga hal itu saja ada pada diriku, itu lebih baik dari dunia dan segala isinya.” Hal pertama ialah bahwa Rasulullah (s.a.w) pernah berkata sebelum Perang Khaibar, “Akan kuserahkan bendera kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian setelah itu, bendera diserahkan kepada Imam Ali (k.w). Lalu sahabat Nabi itu menyebut dua lagi peristiwa penting. Saya kutip hadits itu untuk menyatakan bahwa kecintaan Rasulullah (s.a.w) kepada Ali bin Abi Thalib dinyatakan secara terbuka.

Ada sebuah hadits yang diterima keshahihannya oleh seluruh madzhab tetapi ditafsirkan berlainan. Hadits itu bercerita tentang peristiwa pada Haji Wada’, tanggal 18 Dzulhijjah. Ketika Rasulullah (s.a.w) pulang bersama rombongan hajinya dari Mekkah menuju Madinah, di suatu mata air bernama Khum, Rasulullah (s.a.w) berhenti. Ia melingkarkan serbannya kepada Imam Ali (k.w). Nabi mengangkat tangan Ali dan bersabda, “Man kuntu maulâh, fa hâdza ‘Aliyyun maulâh. Siapa yang menjadikan aku sebagai maulanya, hendaknya menjadikan Ali sebagai maulanya.”

Menurut penafsiran Ahlu Sunnah, yang dimaksud dengan maulâ di situ artinya adalah kekasih. Barang siapa yang menjadikan Nabi sebagai kekasihnya, hendaknya ia juga menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai kekasihnya. Penafsiran itu tidak salah. Ali adalah seseorang yang sangat dicintai dan dikasihi Rasulullah (s.a.w).

Ketika terjadi Perang Khandak, seorang kafir bernama ‘Amr ibn Wud ingin memulai pertempuran dengan mengajak duel. Rasulullah (s.a.w) bertanya kepada para sahabat-sahabatnya, “Siapa yang mau melawan ‘Amr ibn Wud?” Semuanya diam, kecuali Ali yang masih sangat muda. Ia berdiri dan berkata, “Saya, Ya Rasul Allah.” “Tidak,” jawab Rasul, “aku cari orang yang lebih tua.” Lalu Rasulullah (s.a.w) menawarkan lagi kepada para sahabat tetapi tetap tidak ada yang menjawab. Semua orang tahu siapa ‘Amr ibn Wud. Ia adalah jago pedang yang tak terkalahkan.

‘Amr mengancam dari kejauhan, “Katanya kalau kalian mati dalam peperangan, kalian akan masuk surga. Siapa yang bersedia aku antarkan dengan cepat masuk ke surga?” Ancaman itu tidak ada yang menjawab kecuali Ali yang untuk kedua kalinya berdiri. Rasul kembali berkata, “Duduklah kamu sampai aku cari yang lebih tua lagi.” Ketika untuk ketiga kalinya, masih tidak ada yang menjawab seruan itu, Rasulullah (s.a.w) mengirim Ali bin Abi Thalib. Kepadanya diberikan Pedang Dzulfiqar.

Saat Ali bin Abi Thalib berangkat, Rasulullah (s.a.w) menangis dan bersujud di medan peperangan. Rasul berdoa, “Ya Allah, Engkau telah mengambil Abu Ubaidah, Engkau telah mengambil Hamzah dari diriku. Janganlah Kauambil Ali.”

Terjadilah duel itu. Suatu pertempuran yang amat dahsyat. Rasulullah (s.a.w) menggambarkannya sebagai perang antara seluruh keislaman dan seluruh kekafiran. Mungkin yang dimaksud Rasul ialah, sekiranya Imam Ali (k.w) kalah, maka kalahlah Islam secara keseluruhan dan jika Imam Ali (k.w) menang, maka menanglah Islam secara keseluruhan. Atau barangkali yang beliau maksudkan ialah bahwa kepribadian Ali bin Abi Thalib itu mencerminkan seluruh keislaman dan kepribadian ‘Amr ibn Wud itu mencerminkan seluruh kekafiran. Singkat cerita, kita tahu akhirnya Sayidina Ali yang memenangkan pertempuran. Ketika ia kembali, Rasulullah (s.a.w) menciuminya dengan berurai air mata.

Pernah satu saat Imam Ali (k.w) dikirim untuk menaklukan pemberontakan yang tidak bisa ditaklukan oleh para sahabat Nabi yang lain. Ketika Ali pulang dari tugas itu, sambil memeluk Ali, Nabi bersabda, “Kalau aku tidak takut umatku akan memperlakukan kamu seperti orang-orang Kristen memperlakukan Nabi Isa as, akan aku ceritakan kepada mereka sesuatu yang sekiranya jika engkau lewat, orang akan memperebutkan bekas injakan kakimu.” Kemudian Rasulullah (s.a.w) mengatakan sesuatu kepada Imam Ali (k.w) dalam waktu yang lama. Karena lamanya hal itu, para sahabat bertanya-tanya ihwal apa perbincangan itu. Setelah Imam Ali (k.w) keluar, ia berkata, “Baru saja Rasulullah (s.a.w) membukakan kepadaku satu bab ilmu pengetahuan. Dan dari satu bab itu dibuka lagi seribu bab ilmu pengetahuan yang lain.”

Rasulullah (s.a.w) mendidik Imam Ali (k.w) sejak kecil. Jika kita ingin tahu siapa kader Rasulullah (s.a.w) yang dikaderkan sejak awal, maka itulah Imam Ali (k.w). Saya sebut sebagai ‘kader’, karena Rasulullah (s.a.w) benar-benar mempersiapkan Imam Ali (k.w) sejak awal. Rasulullah (s.a.w) mengajarkan kepadanya satu pelajaran khusus yang tidak diberikan kepada sahabat-sahabatnya yang lain. Sebagian di antara kita merasa berkeberatan akan hal ini, “Masa Rasulullah (s.a.w) mengajar dengan pilih kasih. Bukankah salah satu sifat Nabi adalah Al-Tabligh? Jadi, Nabi harus menyampaikan seluruhnya. Masa Nabi menyembunyikan kepada sebagian sahabat dan hanya menyampaikan kepada Ali bin Abi Thalib?”

Rasulullah (s.a.w) adalah guru yang baik. Seorang guru yang baik tidak akan mengajarkan seluruh ilmu kepada semua orang. Ilmu itu hanya diajarkan sesuai dengan tingkat pengetahuan orang yang diajar itu. Imam Ali (k.w) sebagaimana diakui oleh para sahabat yang lain adalah orang yang paling tinggi derajat keilmuannya. Karena itulah, tentu saja ada ilmu yang diajarkan kepada Imam Ali (k.w), yang belum bisa disampaikan kepada sahabat Nabi yang lain yang kualifikasi keilmuannya belum sampai ke situ.

Tentang ilmu Imam Ali (k.w) ini, Rasulullah (s.a.w) bersabda, “Ana madînatul ‘ilmi, wa ‘Aliyyun bâbuhâ. Fa man arâdal madînah, fal ya’tihâ min bâbihâ. Akulah kota ilmu dan Alilah pintunya. Barang siapa yang mau memasuki kota, hendaklah ia datang melalui pintunya.” Hadits ini sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah (s.a.w). Nabi mengkaderkan Ali sejak awal dengan maksud untuk mempersiapkannya sebagai pelanjut yang akan meneruskan ajaran Islam sepeninggal Rasulullah (s.a.w).

Ketika Rasulullah (s.a.w) meninggal dunia, umur Imam Ali (k.w) masih muda. Sekitar tigapuluh tahunan. Seperti kita ketahui, Ali masuk Islam pada usia yang amat belia, sepuluh tahunan. Imam Ali (k.w) dikenal sebagai orang yang pertama kali masuk Islam. Sebagian orang memperkecil hal ini dengan mengatakan bahwa Ali itu lelaki pertama yang masuk Islam, karena yang pertama kali masuk Islam adalah Sayyidah Khadijah. Belakangan, kenyataan ini diturunkan lagi dengan menyatakan bahwa Ali adalah anak-anak yang pertama masuk Islam, karena laki-laki yang pertama masuk Islam itu adalah Abu Bakar. Malahan ada juga yang masih menurunkan hal ini dengan mengatakan bahwa keislaman Sayidina Ali adalah tidak sah, karena beliau masuk Islam ketika masih kecil.

Ciri-Ciri Mazhab Alawi

Imam Ali (k.w) adalah pemberi ruh suatu mazhab di dalam Islam. Yang saya maksud dengan mazhab adalah cara memahami Islam. Islam itu satu, tetapi bagaimana orang memahami dan mengamalkan ajaran Islam, itu berbeda-beda. Dan itu sudah terjadi sejak zaman Rasulullah (s.a.w). Hampir setiap sahabat mendirikan mazhab. Ada Mazhab Umari dari Umar ibn Khattab, Mazhab Abdullah ibn Umar, Mazhab Abdullah ibn Mas’ud, dan Mazhab Abu Hurairah. Setiap sahabat memiliki mazhab sendiri-sendiri disebabkan dalam memahami agama Islam, pendapat mereka berlainan. Karena itulah, amalan yang dikerjakannya pun berlainan. Dalam Ilmu Komunikasi ada yang disebut dengan Teori KAP atau Knowledge, Attitude, dan Performance. Setiap orang mempunyai knowledge atau pengetahuan yang berbeda, yang tidak mungkin sama dengan orang lain. Jika pengetahuan berbeda, maka attitude atau sikap kita pun berbeda. Dan jika sikap berbeda, maka performance atau perilaku pun akan berbeda. Suatu mazhab adalah rangkaian Knowledge, Attitude, dan Performance dari sebuah agama.

Di Indonesia saja, terdapat banyak mazhab. Misalnya saja suatu mazhab melarang orang untuk menangis bila ditinggal mati oleh anggota keluarga atau orang yang dicintainya. Menurut pengetahuan (knowledge) mereka, ada sebuah hadits Nabi yang mengatakan bahwa mayit akan disiksa oleh tangisan keluarganya. Dari situ tumbuhlah sikap (attitude) tidak senang kepada orang-orang yang menangis kalau ditinggal mati dan sikap senang kepada orang-orang yang tidak menangis bila ditinggal mati. Jika seorang isteri tidak meneteskan air mata setitik pun ketika suaminya meninggal dunia, orang akan memujinya, “Hebat, itulah isteri yang sabar dan tabah.” Dari sikap itu timbul perilaku (performance) kita untuk tidak menangis bila kita ditinggal mati. Jadi, kita bisa melihat hubungan antara Knowledge-Attitude-Performance.

Sebagian mazhab lain berpendapat, mereka memiliki pengetahuan bahwa Rasulullah (s.a.w) pernah menangis ketika ditinggal mati oleh putranya, Ibrahim. Ibrahim ialah putra Rasul dari Maria Al-Qibthiya yang lahir di Madinah. Rasulullah (s.a.w) sangat menyayanginya karena Rasul belum pernah mempunyai anak laki-laki. Setiap selesai Shalat Ashar, Rasul selalu menggendong Ibrahim mengelilingi Kota Madinah. Ketika dalam usia yang masih sangat kecil, Ibrahim meninggal dunia. Rasulullah (s.a.w) menangis. Beliau ditegur sahabatnya, “Ya Rasul Allah, kenapa kau menangis?” Rasulullah (s.a.w) menjawab, “Inilah tangisan kasih sayang.” Mazhab ini berpengetahuan bahwa menangis ketika ditinggal mati itu dicontohkan Nabi untuk mengungkapkan kasih sayang. Dari hal itu, tumbuh sikap senang jika melihat orang yang menangis ketika ada yang meninggal dunia. Orang itu dilihat sebagai orang yang penuh kasih sayang. Mazhab ini pun menilai bila ada orang yang tidak menangis ketika ditinggal mati, maka orang itu bukanlah orang yang tabah, melainkan orang yang tidak punya kasih sayang. Perilaku yang muncul dari hal ini ialah jika ia ditinggal mati, ia akan menangis.

Kedua mazhab di atas sama-sama memahami ajaran Islam. Tetapi pengetahuan-nya berbeda, sikapnya berlainan, sehingga kemudian akhirnya perilakunya pun tidak sama.

Di zaman Nabi, setiap sahabat memiliki mazhabnya masing-masing. Secara garis besar, kita bisa membaginya ke dalam dua kelompok; kita sebut saja Mazhab Ali bin Abi Thalib (Mazhab Alawi) dan Mazhab Umar bin Khattab (Mazhab Umari). Apa perbedaan kedua mazhab ini? Mazhab Ali ditandai dengan keyakinan bahwa seluruh sunnah Rasulullah (s.a.w), baik dalam bidang akidah, ibadah, maupun mualamalah, harus diikuti tanpa kecuali. Menurut Mazhab Ali, Rasulullah (s.a.w) tidak pernah berijtihad, karena ketentuan Nabi adalah nash. Rasulullah (s.a.w) tidak pernah berbicara atas hawa nafsunya, melainkan atas wahyu yang diterimanya. Wa mâ yanthiqu ‘anil hawâ in huwa illâ wahyu yûhâ. (Al-Najm 3) Rasulullah (s.a.w) tidak pernah salah. Oleh karena itu, kita harus mengikuti semua yang diajarkan Rasulullah (s.a.w).

Adapun Mazhab Umari berpendapat bahwa kita harus mengikuti Rasulullah (s.a.w) di dalam dua hal saja; urusan akidah dan ibadah. Dalam bidang muamalah atau keduniaan, Rasulullah (s.a.w) tidak wajib dipatuhi. Menurut mazhab ini, Rasulullah (s.a.w) juga suka berijtihad dan kadang-kadang ijtihadnya salah. Oleh sebab itu, tidak perlu kita ikuti ijtihad yang salah. Rasulullah (s.a.w) sering alpa dan salah. Bahkan Rasulullah (s.a.w) pernah ditegur Allah (s.w.t) dan kemudian dibetulkan oleh sahabatnya, seperti dalam peristiwa Perang Badar. Menurut hadits yang diriwayatkan oleh mazhab ini, ketika perang berkecamuk, terdapat banyak tawanan. Rasulullah (s.a.w) menginginkan agar tawanan itu dibebaskan dengan sejumlah uang tebusan. Sedangkan Umar bin Khattab menghendaki agar tawanan itu dibunuh saja semua. Akhirnya turun satu wahyu yang membenarkan Umar dan menyalahkan Rasulullah (s.a.w). Malahan Rasulullah (s.a.w) ditegur Allah (s.w.t), “Kamu mencintai dunia, sementara Umar mencintai akhirat.”

Saya tidak akan lebih lanjut membandingkan kedua mazhab ini secara keseluruhan. Saya hanya akan memberikan ciri-ciri khas dari Mazhab Alawi. Ciri yang pertama, Mazhab Alawi menerima seluruh sunah Nabi. Baik dalam hal akidah, ibadah, ataupun muamalah. Tidak ada pemisahan antara urusan dunia dan urusan agama. Tidak ada dalam mazhab ini hadits yang berbunyi, “Antum a’lamu fî umûrî dunyakum. Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.” Ciri yang kedua, Mazhab Alawi ialah mazhab yang sangat mencintai persatuan di antara kaum Muslimin. Imam Ali (k.w) sangat mencintai persatuan sehingga ketika ada orang yang berontak kepadanya, ia malah mengirim surat yang isinya mengajak mereka untuk berdamai. Bahkan ketika Imam Ali (k.w) pernah hampir memenangkan suatu pertempuran, lawannya mengajak berdamai sehingga Imam Ali (k.w) menghentikan peperangan. Tentu saja, hal ini menimbulkan reaksi dari para pengikutnya sendiri yang hampir memperoleh kemenangan.

Kecintaan Imam Ali (k.w) terhadap persatuan kaum Muslimin dapat kita lihat dari suatu peristiwa peperangan antara Imam Ali (k.w) dengan sesama umat Islam lagi. Saat itu, ada seseorang yang bingung harus bergabung ke kelompok mana. Karena kedua-duanyaadalah kaum Muslimin. Ia bertanya kepada Amar bin Yasir -yang sudah berusia amat tua. Amar berkata, “Kau lihat bendera di sebelah sana? Dahulu di bawah bendera itu, kami berjuang bersama Rasulullah (s.a.w) untuk membela turunnya Al-Qur’an. Sekarang di bawah bendera itu, kami berjuang untuk membela penafsiran Al-Qur’an. Dahulu kami berperang ‘ala tanzîlil Qur’ân, sekarang kami berperang ‘ala ta’wîlil Qur’ân”

Orang-orang bertanya kepada Imam Ali (k.w), “Mau Anda sebut apa orang yang memerangi Anda itu?” Seseorang meng-usulkan, “Itulah orang-orang kafir.” Tapi Imam Ali (k.w) menolak, “Tidak, mereka bukan orang kafir. Mereka mengucapkan syahadat dan melakukan shalat.” “Kalau begitu, merekalah orang-orang munafik,” berkata para pengikutnya. “Tidak,” ucap Imam Ali (k.w), “orang-orang munafik itu sedikit dzikirnya sedangkan mereka banyak dzikirnya.” Orang-orang bingung, “Kalau begitu, bagaimana kami harus memanggil mereka, Ya Amiral Mukminin.” Imam Ali (k.w) menjawab, “Itulah saudara-saudara kita yang berbeda faham dengan kita.”

Ciri yang ketiga, Mazhab Alawi adalah mazhab cinta. Inilah sejenis keberagamaan yang didasarkan kepada cinta. Kita lihat doa-doa Imam Ali (k.w), doa-doa itu menggambarkan kecintaannya kepada Allah (s.w.t). Jika kita belajar Tasawuf, yang keberagamaannya didasarkan pada cinta atau mahabbah, seluruh aliran tarekat dalam Tasawuf itu bermuara pada Imam Ali (k.w) dan keturunannya. Misalnya Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah.

Doa di dalam Mazhab Alawi dipenuhi dengan kecintaan kepada Allah (s.w.t). Hanya dalam Mazhab Alawi, kecintaan kepada Allah (s.w.t) mencapai puncaknya. Seperti dalam doa Imam Ali (k.w) yang diajarkan secara khusus kepada muridnya, Kumayl bin Ziyad. Kumayl adalah murid Imam Ali (k.w) yang paling setia. Karena kesetiaannyalah maka doa ini hanya diajarkan kepadanya. Saya akan tutup tulisan ini dengan menampilkan beberapa bait dari Doa Kumayl tersebut yang menunjukkan begitu dalamnya kecintaan mazhab ini kepada Allah (s.w.t);

Tuhanku, junjunganku, pelindungku, pemeliharaku
Sekiranya aku mampu bersabar menanggung azab-Mu
Bagaimana mungkin aku mampu bersabar berpisah dari-Mu
Sekiranya aku mampu bersabar menahan api neraka-Mu
Bagaimana mungkin aku mampu bersabar tidak memandang wajah-Mu
Bagaimana mungkin aku tinggal di neraka
Padahal harapanku adalah ampunan-Mu
Tuhanku, limpahkanlah kepadaku anugerah-Mu
Sayangi aku dengan karunia-Mu
Jagalah aku dengan seluruh kasih sayang-Mu
Jadikan lidahku selalu bergetar menyebut asma-Mu
Dan hatiku dipenuhi dengan kecintaan kepada-Mu
___________________

Judul Asli:

Sayidina Ali bin Abi Thalib, Pendiri Mazhab Cinta

oleh Jalaludin Rakhmat

 

Sumber:

Buletin Al-Tanwir, Nomor 127 Edisi 15 November 1998

Ceramah Syaikh Ahmad Hoosen Deedat: Persatuan Sunni-Syi’ah

21 September 2010

Kami pergi mengunjungi Imam, Ayatullah Ruhullah Musawi Khomeini. Ada sekitar 40 orang dari kami menunggu Imam dan Imam datang dan berada sekitar sepuluh meter dari tempat saya. Saya melihat Imam. Dia menyampaikan ceramah kepada kami sekitar setengah jam, dan tidak ada apapun kecuali Quran. Orang ini seperti Quran yang terkomputerisasi. Pengaruh luar biasa yang dia miliki di setiap orang; kharismanya sungguh menakjubkan. Anda cukup melihat ke arahnya dan air mata mengalir di pipimu. Anda cukup melihatnya dan Anda akan menangis. Saya tidak pernah melihat orang tua yang lebih tampan darinya dalam hidupku, tidak foto, video atau televisi yang dapat mengadili orang ini. Orang tua paling tampan yang pernah saya lihat dalam hidup saya adalah dia.

Ada hal yang juga menarik tentang namanya. Pertama dia disebut Imam Khomeini. Kata “imam” bagi kita merupakan kata yang murah. Ke mana pun kita pergi ke suatu tempat kita bertanya siapa imam masjid di sana. Bagi Syiah hanya ada satu Imam di dunia dan itu adalah Dua Belas Imam. Mereka percaya pada konsep imamah dan imam merupakan pemimpin spiritual umat. Imam pertama menurut pemikiran ini adalah Hadhrat Ali (RA). Kemudian Imam Hasan sebagai imam kedua, Imam Husain ketiga seterusnya hingga imam kedua belas, Imam Muhammad yang hilang pada umur 5 tahun dan mereka menanti kedatangannya. Mereka menggunakan istilah “ghaibah” (occultation), sesuatu seperti tidur-spiritualnya Ashhabul Kahfi. Karena itu beliau dinantikan untuk kembali dan dia satu-satunya orang di dunia yang bisa disebut Imam. Kebanyakan ulama mereka disebut mullah, dan Ayatullah berarti Allamah dan Ayatullah Khomeini disebut Imam tidak mengurangi rasa hormat tapi mereka tetap menanti Imam sesungguhnya untuk muncul. Ruhullah merupakan nama yang diberikan ayahnya dan tahukah Anda artinya? Rûhullâh berarti “kalimat Tuhan” dan ini merupakan gelar Hadhrat Isa (AS) di dalam Al-Quran. Kemudian beliau adalah Ayatullah yang merupakan gelar lain dari Hadhrat Isa (AS) di dalam Al-Quran. Al-Musawi berasal dari keluarga Musa dan dari kota Khomein yang menjadi nama akhirnya yang menunjukkan asalnya… (Kerusakan audio pada menit 41:05)

Tapi mereka masih menanti Mahdi, dan bukan Khomeini. Mereka ingin menciptakan kestabilan dan membuat persiapan untuk kemunculan Mahdi. Di dunia Sunni kita juga menunggu kedatangan Mahdi tapi kita ingin agar dia menciptakan kestabilan bagi kita, menjadikan kita pemilik dunia dan duduk di atas singgasana. Sampai situ kita hanya bisa menangani pertengkaran kecil kita. Apapun yang kita lakukan sekarang, hanya Imam Mahdi yang bisa membersihkan dunia bagi kita. Ini garis pikir Sunni. Khomeini di satu sisi mengatakan kepada pengikutnya bahwa kita harus membantu menyiapkan jalan sehingga ketika beliau (Imam Mahdi) datang segalanya sudah siap baginya untuk bertindak. Sementara kita, dunia Sunni, menunggu Imam Mahdi untuk bersusah payah membantu kita melepaskan diri dari kesulitan, sedang orang Syiah menyiapkan dunia untuk kemunculannya.

Anda tahu terdapat banyak orang yang bersama kita dari seluruh dunia. Saya menemukan bermacam-macam orang sakit, sakit mental lebih tepatnya. Saya bertemu dengan orang alim dari Pakistan dan dia pikir bahwa ada yang salah dengan saudara Syiah kita. Anda melihat di Iran ketika seseorang berceramah dan nama Khomeini disebut, orang-orang berhenti dan mengucapkan shalawat (durood) kepada Nabi (SAW) tiga kali. Tapi ketika nama Muhammad (SAW) disebutkan mereka mengirim shalawat satu kali. Tapi orang alim dari Pakistan ini berkata, “Coba lihat orang-orang ini. Muslim jenis apa mereka itu. Ketika nama Muhammad (SAW) disebutkan mereka mengirim shalawat kepada Nabi (SAW) satu kali tapi ketika nama Khomeini disebutkan mereka mengirim shalawat kepada Khomeini tiga kali.”

Saya berkata, “Apa yang mereka katakan? Apa yang mereka katakan sehingga Anda mengatakan ‘shalawat kepada Khomeini’?” Dia mengatakan, “Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad (Keselamatan bagi Muhammad dan keluarga Muhammad).” Saya katakan, “Siapa Muhammad? Khomeini? Siapa yang bilang Khomeini sebagai Muhammad? Mereka shalawat kepada Muhammad dan Anda bilang kepada Khomeini? Anda tahu? Inilah penyakit. Terdapat banyak orang terdidik (alim) tapi pikiran mereka penuh dengan buruk sangka. Mereka hanya mencari-cari kesalahan dan mencela.

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Mâidah [5]: 54)

Contoh lain adalah saudara Syiah ketika mereka shalat, mereka mempunyai sebuah tanah (turbah) sebagai tempat sujud. Dan dia (alim Pakistan) berkata, “Lihatlah apa yang mereka lakukan. Ini adalah syirik. Mereka menyembah lempengan tanah.” Saya berkata mengapa anda tidak bertanya kepada mereka kenapa mereka menaruh kening mereka di lempengan tanah dan pelajari alasan logis dibalik semua ini.

Anda tahu, pengalaman pertama saya tentang hal ini terjadi saat di Washington D.C. Pelajar Iran di sana mengundang saya untuk memberikan ceramah di universitas tempat mereka belajar di Amerika. Pada saat itu, waktu untuk Isya dan kami shalat. Setiap orang diberikan lempengan tanah. Saya saat itu berpikir hal ini lucu, maka saya taruh di samping dan saya shalat dengan pelajar Iran. Setelah shalat saya ingin tahu tentang hal ini dan saya tanya mereka, “Mengapa Anda membawa potongan tanah di kantong ke mana pun Anda pergi?” Mereka berkata, “Kami harus sujud di atas bumi/tanah Allah dengan kening kami menyentuh tanah. Kami mengucapkan subhanna rabial a’la wa bihamdih tiga kali dengan kening kami menyentuh tanah.”

Jadi Syiah sesungguhnya ingin menyentuh bumi/tanah dengan kening mereka dan bukan kepada karpet buatan manusia. Mereka benar-benar ingin menunjukkan ekspresi berdoa/shalat dengan kening menyentuh bumi/tanah Allah. Anda lihat mereka tidak menyembah potongan tanah sebagaimana banyak orang berpikir salah. Ini merupakan sesuatu yang sering kita orang Sunni jadikan lelucon dan ejekan terhadap Syiah. Dalam perjalanan pulang saya dari Teheran di seberang gang pesawat, ada dua orang Syiah yang ketika waktu shalat datang salah seorang dari mereka mengambil lempengan tanah dari kantongnya dan Allâhu Akbar, melakukan shalat di tempat duduknya, dan ketika selesai ia memberikan ini (tanah tersebut—pent.) ke sebelahnya dan dia shalat. Hal ini terlihat seperti lelucon bagi kami. Ya kan? Di pesawat itu terdapat banyak kaum Sunni dan di antara mereka itu hanya seorang pemuda yang melakukan shalat, dan saya katakan kepada Anda bahwa pemuda itu bukan saya. Tapi kami menertawakan orang yang lain (Syiah—pent.). Dia duduk di sana dan melakukan hal yang lebih baik dari kami dan kami menertawakan mereka sambil duduk menghakimi.

Dia mungkin tidak sesopan atau sebaik kami di Afrika Selatan. Anda tahu kami muslim di Afrika Selatan sangat sopan dan baik dalam shalat kami. Orang Arab tidak cocok dengan kami, orang Iran tidak tidak cocok dengan kami, Amerika, Negro mereka semua tidak cocok dengan kami. Dengan orang Arab saat Anda membungkuk rukuk, orang di sebelah Anda mendorong Anda untuk membuat jarak (Tawa dari penonton). Siapa yang tahu saudara, mungkin ini benar, kita tidah tahu.

Anda tahu, di antara empat mazhab Sunni; Hanafi, Hanbali, Maliki dan Syafi’i, terdapat lebih dari dua ratus perbedaan dalam satu shalat. Tahukah Anda? Dua ratus. Tapi kita menerimanya sebagai hal benar. Syafi’i mengucapkan amin dengan keras dan kami mengucapkannya dengan pelan, mereka mengucapkan bismillah dengan keras kami mengucapkan pelan dan tidak ada masalah. Semasa kecil, ayah saya mengulang formula terkenal yang dia pelajari dari ayahnya: “Seluruh mazhab adalah sama-sama benar dan sebuah kebenaran bagi mereka berdasarkan hadis dan Quran.” Maka kita menerimanya. Ketika hal itu terjadi pada Syafi’i, Hanbali, Hanafi dan Maliki kita bersikap toleran tapi ketika hal itu terjadi pada Syiah, Anda lihat hal itu bukanlah formula yang kita pikirkan waktu kecil, maka keanehan kecil apapun yang ada antara kita dan mereka, kita tidak bisa bertoleransi dan menolaknya. Kita mengatakan hal itu karena kita terprogram untuk meyakini hanya empat (mazhab). Tapi kita menerima keanehan di antara yang empat.

Saya katakan kenapa Anda tidak bisa menerima saudara Syiah sebagai mazhab kelima? Hal yang mengherankan adalah dia (Syiah) mengatakan kepada Anda bahwa dia ingin bersatu dengan Anda. Dia tidak mengatakan tentang menjadi Syiah. Dia berteriak “Tidak ada Sunni atau Syiah, hanya ada satu hal, Islam.” Tapi kita mengatakan kepada mereka “Tidak, Anda berbeda. Anda Syiah”. Sikap seperti ini adalah penyakit dari setan yang ingin memecah kita. Bisakah Anda membayangkan, kita Sunni adalah 90% dari muslim dunia dan 10% adalah Syiah yang ingin menjadi rekan saudara satu iman tapi yang 90% ketakutan. Saya tidak mengerti mengapa Anda yang 90% menjadi ketakutan. Mereka yang seharusnya ketakutan.

Seharusnya Anda tahu perasaan yang mereka miliki untuk Anda. Saat shalat Jumat di Iran, terdapat satu juta orang. Anda harus melihat cara mereka melihat kepada Anda saat Anda berjalan, mereka sadar bahwa Anda orang asing dan tidak satu dari mereka yang air mata mereka akan mengalir di pipi mereka. Inilah perasaan yang mereka miliki untuk Anda, tapi Anda mengatakan tidak, Anda ingin mereka tetap di luar, takut kalau mereka mengeluarkan Anda (dari mazhab Anda—pent.). Anda hanya bisa keluar kalau ada hal yang lebih baik dari yang Anda miliki. Saya tidak tahu, mungkin di antara kalian berpikir saya seorang Syiah, tapi saya masih di sini bersama kalian. Apa semua ketegangan Sunni – Syiah ini? Semuanya adalah politik. Semua permusuhan yang kita miliki sekarang adalah politik. Jika saudara Sunni di suatu tempat melakukan hal yang salah Anda mengatakan “Oh, orang itu tidak Islami, dia kafir”, tapi jika seorang Syiah melakukan hal yang salah Anda menyalahkan seluruh komunitas Syiah, seluruh negara bangsa yang berjumlah jutaan, dan mengatakan mereka semua sampah hanya karena satu orang Syiah berbuat tidak Islami. Pada saat yang sama, saat kita melihat dengan cara yang berbeda, jika salah seorang dari saudara Anda melakukan hal serius karena dia ayah atau paman Anda. Satu kelompok Sunni mengatakan kepada yang lain “Anda bukan Muslim”, kelompok Sunni lain mengatakan “Anda bukan Muslim, Anda kafir” lihat hal itu di sekeliling kita, dan kita bertengkar di antara sesama. Dan beberapa orang dari kita melakukan hal lucu (konyol).

Saya bertemu seseorang teman yang mengatakan kepada saya, “Kalau Anda pergi ke Newcastle, semua tuan fulan dan fulan dan Insya Allah segala hal akan diatur untukmu.” Lalu saya pergi ke orang itu dan seperti yang ia katakan kepada saya dia, saya diajak ke rumahnya untuk makan siang. Ketika saya duduk di meja makan saya melihat di dinding “burat”. Anda tahu apa itu “burat”? Sejenis binatang keledai dengan wajah seorang wanita yang bertujuan untuk memberikan tenaga listrik. Saya katakan kepadanya ini tidak benar. “Allah (SWT) menciptakan tenaga listrik, Anda tidak bisa menciptakannya dengan patung keledai berwajah wanita.” “Oh,” dan dia terlihat kecewa. Tapi dia seorang Sunni, dia saudara dan tetap saudara saya. Ketegangan Sunni – Syiah adalah pekerjaan setan untuk memecah belah kita.

Izinkan saya mengatakan sesuatu tentang Iran. Apa yang saya temukan adalah segala sesuatu berorientasi pada Islam. Seluruh negara diarahkan menuju Islam, dan mereka berbicara tidak lain hanya Al-Quran. Saya belum pernah memiliki pengalaman dengan orang Iran yang menyangkal saya ketika saya berbicara tentang Quran. Sebaliknya saudara seiman kita bangsa Arab, semakin sering Anda mengutip Quran maka mereka akan menyangkal Anda dengan Quran lagi. Mereka bangsa Arab, mereka mengira lebih tahu banyak tentang Al-Quran dari pada kita, tapi orang Iran terlihat searah dengan Al-Quran. Segala yang dia lakukan dan pikirkan adalah tentang Al-Quran.

Anda ingat Tabas, ketika orang Amerika meminta membebaskan para tawanan. Negara paling berkuasa dalam bidang kemajuan teknologi di muka bumi, negara yang dapat mendaratkan manusia di bulan dan mengembalikannya, negara yang mengatakan kepada Anda pada bagian mana dari bulan mereka akan mendaratkan dan membawanya kembali, mereka mengirim satelit ke Mars dan Jupiter. Sebuah negara yang memperingatkan Pakistan tentang gelombang pasang tragedi dan mereka tidak mengindahkan peringatan itu. Negara itu tidak bisa mendarat di Iran!

Bayangkan, mereka pergi ke sana dengan helikopter dan menghancurkan serta membunuh diri mereka sendiri. Bayangkan! Sebuah negara yang mendarat di bulan dan kembali lagi tapi tidak bisa mendarat di Iran. Dan rakyat Iran tidak berada dalam posisi untuk melakukan hal tertentu kepada mereka. Orang Amerika dapat pergi dan mengakhiri apa yang mereka inginkan. Saya datang dan melihat kedutaan Amerika dan Anda mengira itu bangunan yang besar, luas dan tepat berada di tengah Teheran. Mereka dapat dengan mudah pergi dan membawa keluar orang-orang mereka, meski mereka kehilangan beberapa orang. Mereka dapat meraih tujuan mereka. Hal itu sudah direncanakan dengan matang. Tapi tahukah Anda apa yang terjadi? Kegagalan dan mundurnya pasukan. Imam Khomeini telah mengatakan apa yang telah terjadi. Dia tidak mengatakan subhanallâh, tidak mengatakan alhamdulillâh, dan tahukah Anda apa yang dia katakan? Di mengutip Quran: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara gajah?” (QS. Al-Fîl : 1) Itulah kalimat yang keluar darinya. Saya telah katakan kepada Anda bahwa dia Quran yang terkomputerisasi.

Anda tahu mereka namai apa helikopter besar tersebut? Jumbo helicopters, dan pesawat besar itu dinamai jumbo planes. Anda tahu arti jumbo dalam bahasa Swahili? Gajah! Itu bahasa Swahili. Dari situ mereka menamainya. Jadi helikopter itu berukuran gajah (besar) dan Imam berkata: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara gajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia?” (QS. Al-Fîl [105]: 1-2).

Tapi kita masih ragu, dunia Muslim menjadi sangat skeptis. Kita tidak percayai Quran lagi. Kalian tidak benar-benar percaya Quran, bagi kebanyakan orang ini semua hanya untuk pertunjukan, untuk perasaan spiritual yang baik ketika Anda membaca Al-Quran. Tapi petunjuk yang Allah berikan, tidak ada orang terlihat peduli. Semoga Allah (SWT) menjadikan saudara seiman kita, pembawa obor dan cahaya petunjuk hari ini bagi dunia Islam. Inilah sebuah bangsa yang menjalankan tugas.

Saat Anda melihat mereka, kesungguhan ada pada mereka. Sebuah bangsa yang tidak takut. Saat Anda melihat mereka dengan semangat besar yang mereka miliki. Mereka tidak takut untuk mengatakan “Marg bar Amrika” (Kematian bagi Amerika)… Lalu mengatakan “Marg bar Shuravi” (Kematian bagi Uni Soviet). Bayangkan itu! (Tawa dari penonton), dan “Kematian bagi Israel”. Bisakah Anda bayangkan sebuah bangsa melakukan hal itu tanpa takut? Ini bukan semangat Islam yang ada pada kita, tapi bangsa Iran melakukan dengan hati dan pikiran. Mereka tidak mengatakan, “Ini revolusi Iran” atau “Kami bangsa Iran.” Mereka berbicara tentang Islam, sebuah Revolusi Islam. Ini bukan Revolusi Iran tapi ini adalah Revolusi Islam. Inilah revolusi bagi Islam dan sedikit pertanyaan mengapa bangsa-bangsa di dunia tidak bisa menerima karena Islam yang tidak ingin mereka terima. Maka saudara saudari sekalian, saya telah mengambil banyak waktu berharga kalian. Dengan kata-kata ini, saya persilahkan Anda duduk dan bertanya.

_______________

Download Pidato: http://www.inminds.com/ra/deedat.ra
Transkrip: Mustafa Mond
Penerjemah © ejajufri, fatimah_alkaff
%d blogger menyukai ini: