Seruan Ukhuwah Syekh DR Aidh bin Abdullah Al-Qarni

1 Maret 2016

Aidh bin Abdullah Al-QarniBerikut adalah tulisan Syekh DR Aidh bin Abdullah Al-Qarni (Penulis Buku Best Seller Fenomenal: La Tahzan) pada harian  http://www.asharq-e.com/default.asp  edisi Selasa, 10 Rabiul Awal 1429 Hijriyah atau 18 Maret 2008. Tulisan ini sudah cukup lama, namun masih sangat relevan untuk terus dikaji.
“Sejauh ini kita telah gagal menghapus perbedaan pendapat di antara kelompok Sunnah dan Syiah, walaupun telah berlalu puluhan abad. Maka wajiblah kita mengakui bahwa perbedaan tersebut adalah sesuatu yang memang ada, namun jangan sekali-kali mengembangkannya sehingga menjadi pertentangan berdarah. Cukuplah luka-luka yang kita derita. Cukuplah perpecahan yang mengoyak-ngoyak kita. Sudah amat banyak bencana yang menghancurkan kita, umat Islam. Sementara itu, Zionisme Internasional selalu bersiap-siap untuk menghancurkan kita dan mencerabut eksistensi kita dari akar-akarnya. Apa gunanya mengulang-ulang pidato-pidato yang mencaci maki, menyakiti hati, memprovokasi, memusuhi dan menyebut-nyebut kejelekan dan aib masing-masing kelompok? Manfaat apa yang diharapkan dari permusuhan yang menumpahkan darah si Sunni maupun si Syi’i?

Masing-masing kelompok di antara Sunnah dan Syiah menganut kepercayaan tentang kebenaran mazhabnya sendiri dan kesalahan mazhab selainnya. Anda takkan mampu mengubah prinsip-prinsip utama yang telah dipercayai manusia sepanjang mereka tetap berkeras hati untuk mempertahankannya. Kami, Ahlusunnah, berkeyakinan bahwa kebenaran ada pada kami, baik melalui Al Qur’an maupun Sunnah. Dan apabila kaum Syiah (mungkin) merasa bahwa kami kurang memberikan penghargaan kepada hak Ahlulbait, maka kami ingin menegaskan dengan kuat, terus terang, tanpa tedeng aling-aling, bahwasanya kami berlepas tangan di hadapan Allah dari siapa saja yang merendahkan urusan Ahlulbait, atau mencaci mereka atau melecehkan mereka.

Bersamaan dengan itu, kami meminta agar kaum Syiah juga berhenti merendahkan martabat para Sahabat Nabi saw atau melecehkan mereka atau mencaci mereka. Membela dan menjaga kehormatan Ahlulbait dan para Sahabat merupakan kewajiban atas setiap Muslim dan Muslimah. Menjadi kewajiban orang-orang berakal, dari kalangan Sunnah dan Syiah, untuk berupaya sungguh-sungguh mengubur segala macam fitnah (penyebab pertikaian) di antara mereka, menghindari segala bentuk provokasi atau kebiasaan melempar ancaman ataupun tuduhan pengkhianatan ke alamat kelompok yang lain.

Wahai orang-orang berakal di kalangan Sunnah dan Syiah! Cabutlah semua sumbu pertikaian. Padamkanlah semua api pertikaian. Janganlah menambah lagi bencana umat ini di atas segala bencana yang sudah mereka alami.

Wahai orang-orang berakal di kalangan Sunnah dan Syiah! Biarlah masing-masing memilih jalannya sendiri, biarlah masing-masing menentukan arah pandangannya sendiri, sampai kelak saat Allah memutuskan apa yang kita perselisihkan di antara kita.

Wahai orang-orang berakal di kalangan Sunnah dan Syiah! Jangan sekali-kali memberi kesempatan para musuh Islam menghancurkan bangunan umat ini, melibas eksistensi mereka, menghapus jejak risalahnya dan mencemarkan segala kepercayaan sucinya.

Wahai orang-orang berakal di kalangan Sunnah dan Syiah! Haramkanlah segala fatwa yang membolehkan membunuh, menumpahkan darah dan mengobarkan api permusuhan, kebencian dan kedengkian.

Kita semua, Sunnah dan Syiah, menyerukan hidup berdampingan secara damai serta bersedia berdialog dengan kelompok-kelompok non-muslim. Apakah kita harus gagal menjalani kehidupan damai antara kaum Sunnah dan Syiah? Siapa saja yang gagal memperbaiki urusan rumahnya sendiri, tidak akan berhasil memperbaiki urusan rumah orang lain. Demi keuntungan siapakah terdengarnya suara sumbang busuk tak bertanggung jawab yang berseru: “Hai Syi’i, bunuhlah seorang Sunni, niscaya kau masuk surga!” Lalu dari arah yang lain terdengar suara: “Hai Sunni, bunuhlah seorang Syi’i sebagai penebus agar kau terhindar dari neraka!” Logika apa ini?! Akal apa ini?! Dalil apa ini?! Hujjah apa ini?! Bukti apa ini?! Wajiblah kita berkata: “Hai Sunni, darah si Syi’i adalah suci; haram menumpahkannya!”  “Hai Syi’i, darah si Sunni adalah suci; haram menumpahkannya!”

Belum tibakah saat kita sadar dan mendengarkan suara hati nurani dan akal sehat serta panggilan agama? Jangan sekali-kali ada lagi pelanggaran atas keselamatan orang lain. Jangan ada lagi kezaliman. Jangan pula ada lagi provokasi di antara sesama kita. Jangan ada lagi upaya menyenangkan hati para musuh, dengan mengoyak-koyak barisan-barisan kita sendiri. Jangan ada lagi upaya menghancurkan rumah-rumah kita dengan tangan-tangan kita sendiri. Jangan lagi ada upaya membunuh diri kita dengan pedang-pedang kita sendiri.

Barangkali yang terbaik untuk menghentikan pertikaian di antara Sunnah dan Syiah ialah dengan meniru apa yang dilakukan kaum Badui : setiap kali terjadi tabrakan di antara mobil-mobil mereka, mereka berkata: “Masing-masing memperbaiki mobilnya sendiri!” Segera pula masalahnya selesai, tanpa polisi lalu-lintas, tanpa denda tilang dan tanpa hukuman penjara!

Oleh sebab itu, wahai kelompok Sunnah dan Syiah, masing-masing kita “hendaknya memperbaiki kendaraannnya sendiri-sendiri!” Allah Swt. telah memerintahkan kita agar memperlakukan kaum non-Muslim dengan perlakuan yang baik, sepanjang mereka tidak memerangi kita atau mengusir kita dari perkampungan – perkampungan kita.

Sebagaimana dalam firman-Nya: “Allah tidak melarang kamu memperlakukan mereka yang tidak memerangi kamu dalam agama dan tidak mengusir kamu dari perkampungan-perkampungan kamu (Allah tidak melarang kamu) memperlakukan mereka dengan baik dan bersikap adil terhadap mereka. Sungguh Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil.”

Begitulah perlakuan terhadap kaum non-muslim. Perlakuan baik di sini artinya adalah mencegah diri jangan sampai mengganggu mereka, berkomunikasi dengan mereka dengan cara yang terpuji dan hidup berdampingan dengan aman dan damai. Maka betapa pula dengan kelompok-kelompok sesama muslim meskipun berbeda pandangan dan pendirian? Apa yang akan dikatakan orang-orang lain ketika menyaksikan masing-masing kita menumpahkan caci-maki dan sumpah serapah ke alamat saudara kita sesama Muslim, penuh pelecehan dan penghinaan? Saudara-saudara sekandung pun, jika mereka tidak mampu memperbaiki hubungan di antara mereka dan berdiri rapat dalam satu barisan, pastilah mereka itu dalam pandangan masyarakat menjadi rentan terhadap permusuhan, perpecahan, kegagalan dan kekalahan.

Mari kita tinggalkan pidato-pidato berapi-api yang penuh kebencian dan kata-kata kosong tak berharga sedikit pun, lalu kita semua kembali sebagaimana diperintahkan Allah SWT: “Berpeganglah kamu sekalian erat-erat dengan tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai!”


Islam dan Hidup yang Ceria

20 Agustus 2012

Manusia kerap kali didera rasa penat dan letih lantaran rutinitas kehidupan sehari-harinya. Untuk bisa lepas dari kondisi semacam itu, kita perlu membagi waktu khusus guna melakukan refreshing dan rekreasi, sehingga jiwa kita pun menjadi lebih ceria dan bersemangat kembali. Sebagaimana tubuh yang memerlukan makanan dan beragam nutrisi lainnya, jiwa manusia pun memerlukan istirahat, rekreasi, dan keceriaan. Rasa gembira merupakan reaksi positif kejiwaan yang muncul di berbagai keadaan. Jiwa yang ceria merupakan hal yang penting dalam menghapus pengalaman buruk yang tak mungkin dihindari seperti kegagalan, keputusasaan, dan perasaan negatif lainnya. Perasaan gembira bisa membantu kesehatan psikologis kembali pulih dan tenang. Imam Ali bin Musa ar-Ridha as menuturkan,

“Rekreasi dan permainan yang menghibur, bisa membantu kalian mengatur hidup dan dengannya kalian akan lebih baik memperoleh kesuksesan dalam urusan duniawi.”

Para psikolog kini meyakini bahwa kegembiraan dan pikiran yang ceria berpengaruh penting dalam kehidupan manusia. Begitu pentingnya keceriaan bagi manusia sehingga mampu menjadi pengobat sejumlah penyakit. Para psikolog percaya, pada abad terakhir ini, manusia disibukkan dengan dirinya sendiri. Keceriaan bukan hanya bisa mencegah sejumlah penyakit, tapi bahkan mampu menghambat tumbuh berkembangnya beberapa jenis kanker.

Dari sisi ilmu kedokteran, tertawa dan gembira merupakan reaksi reflektif yang menyebabkan bergeraknya 15 otot wajah secara harmonis, dan mempercepat pernafasan serta peredaran darah sehingga menambah adrenalin darah. Efek dari proses ini memunculkan perasaan ceria dan gembira dalam diri seseorang. Jika kehidupan manusia kosong dari rasa ceria, niscaya ia akan mengalami derita yang amat berat lantaran kerasnya tekanan psikologis.

Menghapus rasa duka dan menciptakan keceriaan merupkan hal yang vital baik bagi diri sendiri maupun bagi keluarga dan masyarakat. Karena rasa duka dan ceria tidak hanya terbatas pada pribadi manusia. Keceriaan dan kesedihan seorang manusia bisa berpengaruh juga terhadap orang lain. Rupel Scheldrake, seorang pakar biologi asal Inggris, menyatakan, “Ingatan dan kesadaran manusia tidak hanya tersimpan dalam otaknya. Tapi ada juga sesuatu yang dinamakan “kesadaran kolektif” yang bisa menghubungkan antarsesama manusia lewat kekuatan khusus”. Oleh karena itu, kesedihan ataupun keceriaan seseorang berpengaruh juga bagi orang lain di sekitarnya.

Tentu saja, keceriaan merupakan hal yang relatif dan seseorang bisa merasa gembira hanya dalam kondisi tertentu. Sebagian sosiolog meyakini, kalangan kelas bawah masyarakat memperoleh kegembiraanya lewat kesenangan sekilas, seperti menonton sepak bola dan sejenisnya. Sementara masyarakat kalangan menengah atau khusus memperolehnya dengan cara memenuhi keinginan jangka panjangnya seperti menaikkan investasi dan mendapatkan fasilitas hidup yang lebih sejahtera. Aristoteles, filosof Yunani kuno, mengajukan bentuk keceriaan yang lain, yaitu kegembiraan hidup yang diperoleh dari cara hidup yang berpemikiran. Menurutnya, hal itu merupakan level tertinggi keceriaan manusia. Sebagian filosof dan ilmuan lainnya ada pula yang berpendapat bahwa kegembiraan jiwa hanya bisa diperoleh dengan cara hidup yang bermoral dan religius.

Islam sebagai agama universal yang memenuhi seluruh tuntutan jasmani dan rohani manusia mengajarkan bahwa jiwa yang ceria merupakan hal yang vital bagi kehidupan. Islam mengajarkan pula kepada kita cara menciptakan keceriaan yang agamis. Keceriaan yang kadang bermanfaat bagi diri sendiri, dan kadang bermanfaat pula bagi orang lain. Imam Ali bin Musa ar-Ridha as menyatakan,

“Waktu kalian terbagi dalam empat sesi. Sesi pertama untuk menyepi bersama Tuhan, sesi kedua untuk mencari rezeki, sesi ketiga bercengkerama dengan saudara dan siapa saja yang kalian percaya dapat menyimpan aib kalian, dan sesi keempat sisihkanlah untuk bersenang-senang. Manfaatkan sebaik-baiknya waktu bersenang-senang kalian sehingga bisa membantu dalam menjalankan tugas dan kewajiban kalian”.

Salah satu faktor penyebab kegembiraan adalah melakukan rekreasi atau wisata. Rekreasi dan berwisata sehat akan menghasilkan keceriaan yang sehat pula. Bercengkerama dengan alam, menyaksikan pemandangan yang indah, warna-warni bunga yang mempesona, pepohonan yang hijau, air terjun yang eksotis, gunung-gunung, dan pesona alam lainnya merupakan kenikmatan yang bisa membangkitkan rasa keceriaan dan kebahagiaan hati.

Selain berwisata, melakukan perjalanan merupakan hal positif yang diajarkan Islam kepada umatnya. Allah Swt dalam kitab sucinya al-Quran mengajak manusia untuk melakukan perjalanan ke berbagai pelosok bumi, sehingga selain bisa mengambil pelajaran dari sejarah dan umat-umat lainnya, juga bisa menikmati keindahan alam di negeri-negeri lain. Rasulullah saw dalam hadisnya bersabda, “Bersafarlah supaya kalian sehat.”

Olahraga juga termasuk ihwal yang bisa menciptakan keceriaan bagi jiwa manusia. Olahraga merupakan aksi positif dan menggembirakan yang selalu ditegaskan oleh para pemimpin agama. Tentu saja, jenis olahraga yang bisa memperkuat semangat kesatriaan dan mengajarkan teknik bela diri lebih dianjurkan. Rasulullah saw bersabda,

“Hak seorang anak dari bapaknya adalah mendapatkan pengajaran cara menulis, berenang, dan memanah serta memperoleh rezeki hanya dari cara yang halal.”

Menghadiri acara-acara hiburan dan pesta juga bisa memunculkan keceriaan. Karena itu, Islam juga menganjurkan pada umatnya untuk menggelar perayaan dan pesta khusus menyambut hari-hari besar keagamaan dan hari kelahiran para pemimpin agama. Tentu saja perayaan dan pesta yang dimaksud tidak boleh bercampur dengan hal-hal yang dilarang oleh agama. Islam melarang acara hiburan dan pesta yang bercampur dengan laku maksiat dan hal-hal yang diharamkan. Sejatinya, keceriaan dan kegembiraan yang positif bisa diperoleh dengan cara menolong sesama dan menjalankan kewajiban agama.

Menurut Islam, keceriaan yang sejati hanya bisa diperoleh dengan cara menjalankan perintah agama dan mengurangi ketergantuingan terhadap dunia. Terikat dengan dunia dan tenggelam dalam kehidupan materi akan membuat manusia menjadi lalai dan tamak. Manusia yang tamak tidak akan pernah puas dan hal inilah yang menyebabkan rasa duka dan kesedihan. Karena itu, manusia yang tidak terlalu terikat dengan kehidupan duniawi, ia akan senantiasa tabah dalam menghadapi segala cobaan dan memiliki jiwa yang lebih positif.

Selain itu, doa yang selalu diajarkan oleh agama juga bisa menciptakan keceriaan batin dan menghidupkan jiwa manusia. Selain doa, membaca puisi atau melantunkan nyanyian, menggelar pesta pernikahan, memberi hadiah, mengenakan busana yang indah, memakai wewangian, bertemu dengan saudara dan sahabat serta menjalin silaturrahmi dan bekerja keras merupakan sejumlah contoh perbuatan yang dianjurkan Islam untuk menciptakan jiwa yang ceria. Rasulullah saw dalam salah satu hadisnya menuturkan,

“Barangsiapa yang menggembirakan seorang mukmin, sejatinya ia menggembirakan diriku, barang siapa yang menggembirakan diriku, sejatinya ia menggembirakan Allah”.

_______________

Artikel milik: IRIB Indonesian Radio


Khotbah Imam Ali bin Abi Thalib (AS): Memaksimalkan Manfaat dari Bulan Suci Ramadhan

15 Juli 2012

Bulan suci Ramadhan telah dimulai, Sang Imam (as) memasuki mesjid Kufah, naik ke mimbar dan setelah memuji Allah (SWT) dan mengirim salam kepada Nabi Suci Muhammad (saw) beliau menghadap ke orang-orang:

“Wahai manusia! Kami mengamati bulan yang Allah (SWT) telah menjadikannya lebih unggul dari semua bulan lainnya. Inilah bulan dimana gerbang langit dan pintu rahmat Tuhan dibuka dan gerbang Nar ditutup.”

“Inilah bulan dimana suara-suara (orang) didengar dan doa diterima dan orang-orang yang menangis menyebabkan turunnya rahmat Allah (SWT).”

“Inilah bulan yang malam harinya malaikat turun dari langit atas perintah Allah (SWT), dan memberikan salam sampai subuh kepada laki-laki dan perempuan yang berpuasa. Malam itu adalah malam Qadr (Malam Kemuliaan). Puasa di hari berikutnya lebih besar (pahalanya) dari puasa seribu bulan, dan melakukan apapun yang baik lebih besar (pahalanya) dari melakukan yang baik selama seribu bulan.”

“Allah (SWT) mengirim berkatnya siang dan malam di bulan suci Ramadhan ini. Maka siapapun yang melakukan setiap hal kecil yang bermanfaat di bulan ini, ia akan mendapatkan kehormatan pada hari ia menghadap Allah (SWT), dan tidak seorang pun yang mendapatkan kehormatan di hadapan Allah (SWT) kecuali Allah akan memberikan Surga kepadanya.”

Kemudian Amirul Mu’minin Imam Ali bin Abi Thalib (as) melanjutkan pidatonya di atas mimbar masjid Kufa:

“Wahai hamba-hamba Allah! Bulan ini tidaklah sama seperti bulan yang lainnya! Siang dan malam harinya, juga setiap jamnya adalah lebih berharga dibandingkan bulan-bulan lainnya. Inilah bulan dimana Setan dibelenggu selama satu bulan penuh. Allah (SWT) menambah rizki dan kelangsungan hidup serta memilih tamu-tamu rumah-Nya (untuk haji Ziarah).”

“Hai orang yang berpuasa! Berhati-hatilah tentang apa yang engkau lakukan. Engkau adalah tamu Tuhanmu di bulan ini. Amati perilakumu setiap hari dan perhatikan bagaimana engkau menjaga tubuh dan anggota-anggota badanmu dari melakukan dosa.”

“Berhati-hatilah untuk tidak tidur sepanjang malam dan ceroboh pada siang harinya, dan akibatnya begitu bulan ini berlalu engkau masih membawa dosa-dosamu. Sehingga pada hari orang-orang beriman mendapatkan pahala puasa, engkau (malah) termasuk orang-orang yang merugi; atau mereka menikmati berkat-berkat dan anugerah Tuhan sementara engkau tidak bisa mendapatkan semua itu, dan mereka menjadi dekat dengan Allah (SWT) selama hidupnya sementara engkau berada di antara mereka yang dijauhkan dari-Nya!”

“Hai orang yang berpuasa! Jika engkau jauh dari Tuhanmu, kemanakah engkau akan berpaling? Jika Tuhanmu meninggalkan engkau sendirian, siapa yang akan menolongmu? Dan jika Dia tidak menerima engkau di antara hamba-hambanya-Nya, kepada siapa engkau akan pasrah? Dan jika Dia tidak mengampunimu, kepada siapa engkau akan memohon ampun?”

“Hai orang yang berpuasa! Bacalah Al-Quran di siang dan malam harinya sebagai sarana untuk semakin dekat kepada Allah (SWT). Sungguh Kitab Allah dapat berdoa bagi mereka yang membacanya dan syafaat akan diterima pada hari kebangkitan. Oleh karena itu, mereka (yang membaca Al-Qur’an) naik ke tingkat Surga yang lebih tinggi dengan membaca ayat-ayat Kitab ini.”

“Kabar gembira bagi orang yang berpuasa! Aku mendengar dari orang yang paling aku cintai, Nabi Allah berkata, “Allah mengampuni sejumlah besar orang dari siksa api Neraka, tetapi tidak ada yang tahu berapa banyak mereka kecuali diri-Nya. Pada malam terakhir bulan Ramadhan Allah akan mengampuni sebanyak Dia memberikan ampunan sepanjang bulan ini.”

Ketika itu ada seorang pria dari sebuah suku Hamdaan berdiri dan berkata, “Wahai Amirul Mu’minin! Beritahukan lagi kepada kami dari yang kekasihmu (Nabi Suci Muhammad saw) beritahukan kepada engkau tentang Ramadhan.”

Amirul Mu’minin berkata, “Aku mendengar bahwa saudaraku dan sepupuku, Nabi Allah berkata, ‘Barangsiapa berpuasa selama bulan Ramadhan dan menghindari dosa, ia akan masuk Surga.'”

Pria dari suku Hamdaan itu mengulangi permintaannya sebanyak tiga kali dan Imam Ali bin Abi Thalib (as) menjawab di ketiga kalinya sebagai berikut,

“Saya mendengar bahwa yang terbesar dari semua Nabi, Rasul dan Malaikat Allah berkata, ‘Penguasa Penerus akan dibunuh di Penguasa Bulan.'”

“Aku bertanya: ‘Bulan yang manakah penguasa semua bulan dan siapakah Penguasa Penerus?'”

“Nabi saw bersabda, Penguasa bulan adalah Ramadhan dan Penguasa Penerus adalah engkau, hai Ali.'”

“Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Apakah ini (sungguh) akan terjadi?'”

“Nabi saw bersabda, ‘Aku bersumpah kepada Allah ini akan terjadi. Sungguh, yang terburuk di antara orang-orang bangsaku akan memukul bagian atas kepala engkau dengan pedang sehingga darah akan menutupi wajah dan jenggotmu.'”

_______________

Diterjemahkan dari: http://www.ezsoftech.com/ramadan/ramadan30.asp


%d blogger menyukai ini: